26.7 C
Jakarta
Minggu, Juni 21, 2026

Latest Posts

Ketika Cahaya Padam dan Anak-anak Belajar Tentang Empati, Teater Musikal “Where Did the Lights Go?” Pukau Penonton

Wartain.com – Riuh tawa dan sorak kecil memenuhi ruang pertunjukan di Gedung Juang 45, Kota Sukabumi pada Minggu (21/6/2026) ketika para pemain cilik melangkah ke atas panggung. Dengan kostum berwarna-warni dan ekspresi penuh semangat, mereka membawa penonton memasuki sebuah dunia imajinatif bernama Negeri Cahaya. Di sanalah kisah musikal anak Where Did the Lights Go? dimulai.

Pertunjukan yang dipersembahkan oleh Ideu Theatre Company bersama Global Islamic Bilingual School (GIBS) dengan dukungan Indonesia Kaya ini bukan sekadar hiburan. Di balik nyanyian, tarian, dan dialog yang mengundang senyum, tersimpan pelajaran sederhana namun mendalam tentang empati, keberanian, dan cara memandang orang lain tanpa prasangka.

Cerita bermula ketika cahaya di Negeri Cahaya perlahan meredup. Para Penjaga Cahaya yang selama ini hidup dalam suasana ceria dibuat kebingungan setelah Sepatu Cahaya mereka menghilang. Demi mengembalikan terang yang memudar, mereka harus melakukan perjalanan menuju Hutan Gelap, sebuah tempat yang selama ini dianggap menakutkan. Namun, seperti banyak kisah kehidupan, ketakutan sering kali lahir dari sesuatu yang belum benar-benar dikenal.

Di tengah perjalanan, para Penjaga Cahaya bertemu dengan Raja Raksasa. Sosok besar yang selama ini dimitoskan sebagai makhluk menyeramkan itu ternyata menyimpan kenyataan berbeda. Ia bukan monster yang haus menakuti siapa pun. Ia hanya seorang raksasa yang kesepian, terasing dari lingkungan sekitarnya, dan mendambakan kehadiran teman.

Menurut sutradara sekaligus penulis pertunjukan, Den Aslam, pesan itulah yang ingin disampaikan kepada anak-anak melalui pementasan tersebut.

“Jadi ini teater anak, musikal anak, judulnya ‘Where Did the Lights Go?’. Dia menceritakan tentang Negeri Cahaya, ada penjaga cahaya, dan juga ada tokoh raksasa yang sebetulnya tidak jahat. Karena dia kesepian dan terisolir dari lingkungan Negeri Cahaya itu, sehingga dimitoskan oleh orang sebagai sosok yang menyeramkan,” tuturnya.

Bagi Den Aslam, kisah pertemuan antara para Penjaga Cahaya dan Raja Raksasa menjadi sarana untuk mengajarkan anak-anak agar tidak mudah menghakimi seseorang hanya dari penampilan atau cerita yang beredar.

“Hasil rekonsiliasi itu jadi bentuk edukasi bagi anak-anak, terutama usia dini, bagaimana menyikapi seseorang yang dianggap jahat, tapi ketika kita menyelidikinya ternyata tidak jahat,” katanya.

Pesan tersebut terasa semakin relevan di tengah kehidupan sehari-hari, ketika penilaian sering kali muncul sebelum memahami keadaan seseorang. Melalui bahasa yang sederhana dan dekat dengan dunia anak-anak, pertunjukan ini mencoba menanamkan nilai bahwa setiap orang memiliki cerita yang layak didengar.

Namun proses pembelajaran itu tidak hanya terjadi di atas panggung. Selama kurang lebih satu bulan masa persiapan, para pemain cilik juga menjalani perjalanan belajar mereka sendiri.

Sebanyak 50 anak terlibat dalam produksi ini. Sembilan di antaranya menjadi pemeran utama, sementara puluhan lainnya mengisi berbagai karakter pendukung. Bagi sebagian besar peserta, ini merupakan pengalaman pertama tampil dalam sebuah pertunjukan teater musikal.

Latihan demi latihan dijalani dengan penuh kesabaran. Menghafal dialog, memahami karakter, berlatih vokal, hingga mengatur gerak panggung menjadi tantangan tersendiri bagi anak-anak yang masih berada dalam masa tumbuh kembang.

“Anak-anak jadi belajar rasa tanggung jawab, kesabaran, disiplin, dan empati,” ujar Den Aslam.

Ia mengakui bahwa mendampingi puluhan anak dalam proses produksi bukan perkara mudah. Dibutuhkan kesabaran ekstra dari para guru maupun tim produksi untuk mengarahkan mereka selama latihan berlangsung.

Meski demikian, hasilnya terlihat jelas saat tirai pertunjukan dibuka. Dengan percaya diri, para pemain cilik mampu menghidupkan karakter mereka dan membawa penonton larut dalam cerita.

Di antara para penonton yang terkesan adalah Mawar. Ia mengaku kagum melihat keberanian anak-anak yang tampil di atas panggung.

“Seru banget ya tadi. Anak-anaknya hebat, aktingnya bagus-bagus. Mereka lantang banget ngomongnya dan luar biasa percaya diri. Untuk pengalaman pertama tampil teater ini cukup bagus banget. Luar biasa,” ujarnya.

Ketika lampu panggung akhirnya meredup dan tepuk tangan bergemuruh menutup pertunjukan, pesan yang dibawa Where Did the Lights Go? tetap tertinggal. Bahwa terkadang, cahaya bukan hanya tentang terang yang terlihat mata, melainkan tentang kemampuan memahami perasaan orang lain.

Dan dari panggung sederhana itu, puluhan anak belajar bahwa cara terbaik mengusir kegelapan bukanlah dengan rasa takut, melainkan dengan empati.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.