Oleh: Aam Abdul Salam/ Presidium MD KAHMI Sukabumi / Dewan Penasehat PWI Kabupaten Sukabumi dan Dewan Penasehat SMSI Sukabumi Raya
Wartain.com – Saya khawatir kita sedang salah memaknai Sumpah Pemuda.
Kita mengira Sumpah Pemuda cukup diperingati dengan upacara, pidato, dan foto bersama memakai ikat kepala merah putih. Padahal, sumpah itu adalah sebuah keputusan intelektual. Ia lahir dari kegelisahan anak-anak muda yang membaca, berdiskusi, dan menulis.
Lalu lihat pemuda kita hari ini. Kita hidup di zaman paling berisik dalam sejarah. Semua orang bisa bicara. Semua orang bisa viral. Tapi tidak semua orang bisa berpikir jernih.
Inilah ironi transformasi digital: kita semakin terkoneksi, tapi semakin tercerai-berai.
Di grup WhatsApp, hoaks lebih dipercaya daripada berita resmi. Di TikTok, joget lebih laku daripada gagasan. Di kolom komentar, caci maki lebih cepat daripada tabayyun. Kita punya teknologi 5G, tapi nalar kita masih 2G.
Maka saya ingin mengatakan dengan jujur: Krisis pemuda hari ini bukan krisis teknologi, tapi krisis literasi.
Gerakan literasi yang kita butuhkan bukan lagi sekadar gerakan “ayo membaca buku”. Itu penting, tapi tidak cukup. Yang kita butuhkan adalah Gerakan Literasi Kebangsaan di ruang digital.
Apa artinya?
Pertama, Berani Puasa Informasi.
Pemuda harus dilatih untuk tidak rakus informasi. Tidak semua yang viral harus dikomentari. Tidak semua yang muncul di FYP harus dipercaya. Literasi adalah kemampuan untuk diam sejenak, saring, baru bicara. Seperti pemuda 1928 yang tidak asal berteriak merdeka, mereka mematangkan gagasan dulu.
Kedua, Mengembalikan Marwah Bahasa Persatuan.
Sumpah ketiga: Menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Hari ini bahasa Indonesia di ruang digital sedang sekarat. Diserang bahasa gado-gado, singkatan tanpa makna, dan ujaran kebencian yang dibungkus candaan. Jika bahasa rusak, maka logika bangsa ikut rusak. Literasi adalah menjaga bahasa tetap waras dan beradab.
Ketiga, Menjadi Kurator, Bukan Sekadar Kreator.
Sukabumi tidak butuh lebih banyak influencer yang menjual sensasi. Sukabumi butuh kurator-kurator lokal. Anak muda yang mau mendokumentasikan sejarah kampungnya, menulis tentang UMKM tetangganya, membuat konten tentang Ciletuh, tentang Palabuhanratu, tentang potensi desanya sendiri. Itulah Sumpah Pemuda yang kontekstual: bertumpah darah satu, tanah Sukabumi.
Saya membayangkan, jika pemuda 1928 hidup hari ini, mereka tidak akan sibuk mengeluh tentang algoritma. Mereka akan menguasai algoritma itu untuk kepentingan bangsa.
Mereka akan membuat Jong Java versi podcast. Mereka akan membuat Jong Celebes versi kanal YouTube edukasi.
Tugas kita, generasi yang lebih tua, di KAHMI, di PWI, di SMSI, adalah memberikan jalan. Buka akses pelatihan. Buka ruang kolaborasi. Jangan biarkan pemuda berjuang sendirian melawan arus algoritma global.
Selamat Hari Sumpah Pemuda 2026.
Mari kita matikan sejenak gawai kita, buka kembali buku-buku sejarah kita, dan bertanya pada diri sendiri: Sumpah apa yang sudah kita tunaikan untuk Indonesia hari ini?(***)
Editor: Aab Abdul Malik
(Dul)
