Oleh: Dadang Sahroni/ Koordinator Presidium MD KAHMI Sukabumi/ Warek I UMN Sukabumi
Wartain.com – Hari ini, 28 Oktober 2026, kita kembali mengulang tiga kalimat keramat yang lahir 98 tahun lalu: Bertumpah darah satu, berbangsa satu, berbahasa satu, Indonesia.
Namun peringatan Sumpah Pemuda tidak boleh berhenti pada seremoni dan upacara. Sumpah itu lahir dari rahim pendidikan. Para pemuda 1928 adalah anak-anak sekolah. Mereka adalah pelajar STOVIA, MULO, AMS, dan sekolah-sekolah guru. Mereka bersatu bukan karena kesamaan nasib saja, tapi karena kesamaan nalar yang dibentuk oleh pendidikan.
Itulah irisan paling mendasar yang sering kita lupakan: Sumpah Pemuda adalah sumpah kaum terdidik.
Lalu bagaimana dengan pemuda hari ini?
Kita menghadapi paradoks. Di satu sisi, akses informasi terbuka luas. Di sisi lain, kita menyaksikan krisis nalar kritis. Banyak pemuda fasih bermain media sosial, tapi gagap membaca realitas sosialnya. Inilah tantangan pendidikan kita.
Pendidikan tidak boleh lagi dimaknai sekadar mengejar ijazah dan nilai. Esensi Sumpah Pemuda mengajarkan bahwa pendidikan harus melahirkan tiga hal:
1. Pendidikan yang Memerdekakan.
Pemuda 1928 menggunakan pendidikannya untuk membebaskan diri dari kolonialisme. Pemuda hari ini harus dibebaskan dari kolonialisme baru: hoaks, intoleransi, dan kemiskinan pemikiran. Pendidikan harus berani mengajarkan cara berpikir, bukan sekadar cara menjawab soal.
2. Pendidikan yang Mempersatukan.
Di tengah menguatnya politik identitas, kampus dan sekolah harus menjadi kawah candradimuka kebhinekaan. Sumpah Pemuda lahir karena para pelajar dari Jong Java, Jong Celebes, Jong Ambon berani melepas ego kedaerahan. Tugas kita hari ini adalah menjaga ruang kelas tetap menjadi ruang persatuan, bukan segregasi.
3. Pendidikan yang Menggerakkan.
Sumpah Pemuda bukan teks yang dihafal, melainkan tekad yang digerakkan. Pendidikan kita harus melahirkan pemuda yang tidak hanya pintar secara akademik, tapi tangguh secara sosial. Sukabumi tidak kekurangan orang pintar, yang kita butuhkan adalah orang terdidik yang mau turun dan mengabdi.
Di KAHMI, kami meyakini, masa depan Indonesia ditentukan di dua tempat: di masjid dan di ruang kelas. Jika keduanya baik, maka pemudanya akan baik. Jika pemudanya baik, maka masa depan bangsa akan terjaga.
Selamat Hari Sumpah Pemuda ke-98. Mari kita lanjutkan sumpah itu dengan cara paling nyata: memuliakan guru, memperkuat sekolah, dan memastikan tidak ada satu pun anak muda Sukabumi yang putus asa karena kehilangan akses pendidikan.
Karena selama pendidikan masih menyala, maka sumpah itu tidak akan pernah padam.***
Editor: Aab Abdul Malik
(Dul)
