26.7 C
Jakarta
Sabtu, Mei 23, 2026

Latest Posts

Ma‘rifat Dzat dan Sifat Allah : Suatu Telaah Filosofis tentang Batin dan Zahir Ketuhanan

Oleh : Kang Dzikri Nur/Pengamat Sosial Keagamaan

Wartain.com || Pemahaman tentang Dzat dan Sifat Allah merupakan pusat dari seluruh bangunan metafisika Islam. Para teolog, sufi, dan filosof sejak awal peradaban Islam selalu mengakui bahwa pembahasan ini adalah wilayah yang paling tinggi sekaligus paling halus, karena menyentuh realitas ketuhanan yang pada hakikatnya berada di luar jangkauan indera, imajinasi, dan konsep manusia. Namun demikian, tradisi intelektual Islam menyediakan kerangka untuk mendekati persoalan ini secara filosofis dan reflektif.

1. Dzat Allah: Realitas Mutlak yang Tak Tertangkap Konsep

Kata dzāt dalam teologi Islam menunjuk kepada Hakikat Absolut Allah — realitas yang ada dengan sendirinya (wājib al-wujūd). Dzat bukan sekadar inti substansi seperti makna zat dalam filsafat Barat, melainkan Keberadaan Murni yang tidak bergantung pada apapun, tetapi menjadi tempat bergantung seluruh keberadaan lain.

Secara filosofis, Dzat Allah dapat dipandang melalui tiga lapisan:

a. Dzat sebagai Transendensi Mutlak (tanzīh).

Dzat Allah tidak dapat digambarkan, tidak dapat diobjektifikasi, dan tidak dapat diukur oleh kategori ruang-waktu. Dalam pemahaman ini, Allah adalah Yang Tak Terbatas, sehingga segala bentuk pembatasan konsep adalah ketidaksopanan intelektual.
Ibn Taimiyyah, Al-Ghazālī, dan Ibn ‘Arabī sependapat bahwa:

“Apa pun yang terlintas dalam pikiranmu tentang Allah, maka Dia bukan itu.”

Transendensi ini menegaskan sifat batin dari dzat: tersembunyi, tak termanifestasikan, melampaui jangkauan akal.

b. Dzat sebagai Keberadaan yang Mengungkapkan Diri (tajallī).

Sementara transendensi menekankan “ketaktersentuhan”, tajallī menekankan bahwa Allah memilih untuk “tampak” melalui wujud makhluk. Dzat tetap tak tersentuh, tetapi pancaran nama dan sifat-Nya menjadi pintu bagi manusia untuk mengenal-Nya.

Ini adalah aspek zāhir, yaitu tampilnya jejak ketuhanan dalam realitas kosmik.

c. Dzat sebagai Misteri antara Batin dan Zahir.

Para sufi, terutama Ibn ‘Arabī, Ibn al-Fāridh, dan Al-Jīlī, memandang bahwa dzat Allah adalah “Realitas yang bersifat sekaligus Batin (al-Bāthin) dan Zahir (azh-Zhāhir)”.
Batin: karena dzat itu sendiri mustahil dipahami.

Zahir: karena wujūd segala sesuatu adalah tanda-Nya.

Dengan demikian, Dzat Allah bukan sesuatu yang “tersembunyi jauh”, tetapi “lebih dekat daripada urat leher”, namun tetap melampaui pengenalan.

2. Sifat Allah: Cara Dzat Menampakkan Diri.

Jika dzat adalah Realitas Absolut, maka sifat adalah cara Allah memperkenalkan diri kepada makhluk, baik secara kosmik maupun spiritual.
Dalam teologi Asy‘ariyah, sifat dibagi menjadi:

Sifat Dzatiyah (keabadian Allah: hidup, berkuasa, mengetahui).

Sifat Fi‘liyah (tindakan Allah: mencipta, memberi rezeki, mengatur).

Sementara sufi menekankan pembagian jalāl (keagungan) dan jamāl (keindahan).
Sifat jalāl: keperkasaan, keagungan, keadilan.
Sifat jamāl: kasih sayang, kelembutan, keindahan.

a. Sifat sebagai Tajallī Kosmik.

Bagi Ibn ‘Arabī, alam semesta adalah medan manifestasi sifat.

Hukum alam = tajallī sifat hikmah.

Keindahan alam = tajallī sifat jamāl.

Keberaturan kosmos = tajallī sifat ilmu dan qudrah.

Dengan demikian, sifat Allah adalah jembatan antara dzat yang tak tersentuh dengan realitas empiris manusia.

b. Sifat sebagai Cermin Batin Manusia.

Dalam sufisme, sifat Allah juga tampak dalam diri manusia sebagai asma’ dan sifat ruhani:

ketika seseorang menunjukkan kasih sayang → tajallī ar-Raḥmān.

ketika menegakkan keadilan → tajallī al-‘Adl.

ketika mencari ilmu → tajallī al-‘Alīm.

Setiap perjalanan spiritual adalah proses menyucikan diri agar sifat-sifat itu dapat tercermin dengan lebih jernih.

3. Hubungan Dzat dan Sifat: Identitas Tanpa Penyatuan, Perbedaan Tanpa Pemisahan.

Ini pertanyaan filosofis paling halus: apakah sifat berbeda dari dzat, atau identik?
Tradisi teologi Asy‘ariyah menyatakan:

Sifat bukan dzat, tetapi juga tidak terpisah dari dzat.

Filosof Islam seperti Ibn Sīnā menekankan bahwa sifat adalah konsep kita tentang dzat, bukan bagian terpisah dari dzat itu sendiri.
Ibn ‘Arabī melangkah lebih jauh:

Di tingkat hakikat, hanya ada dzat; sifat adalah cara dzat mengungkap diri pada kesadaran makhluk.

Dengan demikian, dzat adalah realitas, sifat adalah relasi dan tajallī.
Dzat adalah batin mutlak; sifat adalah zahir ketuhanan.

4. Penutup Reflektif

Pembahasan dzat dan sifat Allah pada akhirnya adalah latihan ketundukan intelektual dan spiritual. Ia bukan semata konstruksi metafisika, tetapi jalan untuk menyadari bahwa ketakterhinggaaan Allah menuntun manusia pada kerendahan, penyembahan, dan pengenalan diri.
Mengenal Allah pada tingkat sifat membawa manusia kepada pemahaman; sedangkan menyadari keberadaan dzat membawa manusia kepada keheningan dan fanā’.***

Referensi.

Al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn; al-Maqṣad al-Asnā.

Ibn Sīnā, al-Ilāhiyyāt.

Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Asās al-Taqdīs.

Ibn ‘Arabī, Fuṣūṣ al-Ḥikam; al-Futūḥāt al-Makkiyyah.

Al-Jīlī, al-Insān al-Kāmil.

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.