Oleh : AM Soleh/ Pimpinan Ponpes Cahaya Kapuas, Pontianak, Kalbar
Wartain.com || Konsep martabat tujuh merupakan pengembangan dari ilmu tauhid yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Sejarah mencatat untuk memudahkan kaum muslimin dalam memahami dan mengamalkan ajaran Islam, Ulama dari kalangan tabi’in tabiut tabi’in dan para ulama setelahnya berupaya keras melakukan kodifikasi ilmu yang tersusun secara sitematis dalam catatan kitab-kitab.
Diantaranya Imam abu Hanifah menyusun kodifikasi ilmu fiqh. Abul Hasan al-‘Asyari dan al-Maturidi menuliskan kodifikasi ilmu tauhid. dalam ilmu tasawuf ada imam Junaid Al Baghdadi, syekh Abdul Qadir Jailani, Ibnu Arabi, imam Ghozali dan masih banyak ulama besar lainnya.
Konsep martabat tujuh disusun oleh Syekh Muhammad Ibn Fadhlulah al-Burhanfuri dalam kitabnya Al Tuhfah al-Mursalah ila Ruh an-Nabi. Ia adalah seorang sufi dari Gujarat (w. 1620 M). Ajaran Martabat Tujuhnya berdasarkan atas paham dari Imam Muhiyiddin Ibn Arabi (w. 1240 M) dan Syekh Abdul Karim al-Jili (w. 1422 M) dan para ulama sufi besar lainnya. Ia sebagai pelopor Martabat Tujuh di Nusantara.
Dalam kitab ini diterangkan bahwa Dzat Tuhan merupakan Wujud Mutlak, tidak dapat dipersepsikan oleh akal, perasaan, khayal dan indera. Dzatullah sebagai aspek batin dari segala yang maujud (ada), karena Tuhan meliputi segala sesuatu
أَلَاۤ إِنَّهُمۡ فِی مِرۡیَةࣲ مِّن لِّقَاۤءِ رَبِّهِمۡۗ أَلَاۤ إِنَّهُۥ بِكُلِّ شَیۡءࣲ مُّحِیطُۢ
“Ingatlah, sesungguhnya mereka dalam keraguan tentang pertemuan mereka dengan Tuhan mereka. Ingatlah, sesungguhnya Dia Maha Meliputi segala sesuatu. [Surat Fushilat: 54]
Ajaran Martabat Tujuh ini ternyata segera mempengaruhi perkembangan pemikiran mistik Islam di Nusantara. Pada abad 17 ada empat tokoh pemikir sufi di Aceh mengembangkan ajaran Martabat Tujuh dari paham Syekh al-Burhanfuri yaitu Hamzah Fansuri, Syamsudin Pasai (w. 1630 M), Abdul Rauf dari Singkel (1617-1690 M) dan Nuruddin Ar-Raniri. di Jawa Barat ada syekh Abdul Muhyi pamijahan yang merupakan murid dari syekh Abdul Rauf as-Sinkili.
Dalam Kitab Al-Tuhfah al-Mursalah Ila Ruh al-Nabi dijelaskan bahwa Allah SWT menyatakan diri-Nya dalam Tujuh Martabat, yaitu martabat pertama disebut Martabat Tanzîh (lâ ta‘ayyun atau martabat tak terinderawi) dan martabat kedua sampai dengan martabat ketujuh disebut Martabat Tasybîh (ta‘ayyun atau terinderawi). Dalam hal ini Syekh al-Burhanfuri mengklasifikasikan martabat-martabat tersebut antara lain:
1. Martabat Ahadiyah
Yaitu martabat la Ta’yun dan ithlaq. Ialah martabat yang belum mengenal individuasi. tak ada huruf, tak ada suara, dan tak ada perumpamaan yang mampu menggambarkannya.
Inilah martabat yang tersembunyi (suwung), karena belum ada ide-ide, namanya Dzat Mutlak, Hakikat ketuhanan. tak seorangpun dapat meraih-Nya, bahkan nabi-nabi dan para Walipun tidak. Para malaikat yang berdiri dekat Allah tidak dapat meraih hakikat Yang Maha Luhur ini, tak seorangpun mengetahui atau merasakan hakikat-Nya.
Sifat-sifat dan nama-nama belum ada, sebuah manifestasi yang jelaspun belum ada. Hanya Dialah yang ada dan nama-Nya ialah ”wujud makal” Dzat Yang langgeng, hakikat segala hakikat. AdaNya ialah kesepian atau kesuwungan (kosong tapi ada). Siapakah gerangan yang tahu akan hal keadaan ini?Diantara semua martabat, tak ada satupun yang melebihi martabat ini yang bernama “Ahadiyah”. Semua martabat lainnya berada dibawahnya. Dalil yang bisa dirujuk ;
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia” (QS. Asy-Syura: 11)
2. Martabat kedua Wahdah
Bernama Martabat ta’yun awal (awal kenyataan). Pada tahap wahdah ini mulailah individuasi. Inilah kenyataan Muhammad (Nur Muhammad) yang tersembunyi di dalam rahasia Tuhan, di dalam cara-cara berada dzatNya.
Semua kenyataan belum terpisah antara yang satu dengan yang lainnya, karena masih terikat satu sama lain dalam cara-cara berada itu. Antara ide yang satu belum ada perbedaan dengan ide yang lain, karena masih tersembunyi di dalam wahdah. Mereka masih terkumpul didalam (kenyataan) Muhammad yang merupakan awal pemancaran hakikat sejati.
Yang dinamakan wahdah ialah hakikat Muhammad, semua hakikat masih berkumpul dalam martabat wahdah dan belum terpisah-pisah. Martabat wahdah ini dapat di ibaratkan dengan sebutir biji; Batang cabang-cabang dan daun-daunnya masih tersembunyi di dalam biji itu dan belum terpisah-pisah. Batang cabang-cabang dan daun-daun melambangkan engkau, aku, mereka, sedangkan bijinya tunggal (wahdah)
Perumpamaan lain, yaitu tinta dalam wadahnya. Semua huruf terkumpul di dalam tinta, huruf yang satu belum dibedakan dari huruf lain. demikian juga dalam wahdah, semua huruf tuhan dan kita belum terpisahkan. Dari tinta inilah segala sesuatu itu terjadi, gambar rumah, gambar gunung, gambar manusia , batu, angin dan bentuk-bentuk lainnya. Dan Tinta itu bukanlah yang menulis, akan tetapi Dialah Yang menggerakkan, Yang hidup, yang Kuasa, Yang Gagah, dengan demikian munculah sifat-sifat “siapa” yang menggoreskan tinta itu. Dalil yang bisa dirujuk;
“Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi” (An-Nur: 35)
“Dia-lah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin” (QS. Al-Hadid: 3)
3. Martabat wahidiyah, atau ta’yun kedua.
Yaitu kesatuan yang mengandung kejamakan, tiap-tiap bagian telah jelas batas-batasnya. Sebagai hakikat manusia. Ibarat ilmu Tuhan terhadap segala sesuatu secara terperinci, sebagian terpisah dengan lain.
Ketiga martabat tersebut bersifat bathin dan ilahi, terjadi semenjak dari qadim. Urutan kejadian dari ketiganya bersifat akal, bukan perbedaan jaman. Dari ketiga martabat bathin munculah tiga martabat lahir. Dalil yang bisa dirujuk:
“Dan Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri” (QS. Fussilat: 53)
4. Martabat alam arwah
Merupakan aspek lahir yang masih dalam bentuk mujarrad dan murni. Dalil yang bisa dirujuk:
“Maka apabila Aku telah menyempurnakan (kejadian)nya, dan Aku telah meniupkan roh (ciptaan)Ku ke dalamnya, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. (Al-Hijr : 29)
5.. Martabat alam mitsal
Ibarat sesuatu yang telah tersusun dari bagian-bagian, tetapi masih bersifat halus, tidak dapat dipisah-pisahkan. Atau bisa dikatakan alam mitsal ini adalah alam ide. Dalil yang bisa dirujuk:
“Dialah yang membentuk kamu dalam rahim menurut yang Dia kehendaki. Tak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (Ali Imran: 6)
6.. Martabat alam ajsam (tubuh fisik)
Yakni ibarat sesuatu dalam keadaan tersusun secara marteril telah menerima pemisahan dan dapat dibagi-bagi. Yaitu telah terukur tebal tipisnya. Dalil yang bisa dirujuk
“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk.(Al-Hijr: 26)
7. Martabat Insan kamil,
Dimana seseorang mencapai kesempurnaan spiritual yaitu manusia yang sempurna. Dalil yang bisa dirujuk:
“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” (Al-Hujurat : 13)
Martabat insan Kamil mencakup segala martabat diatasnya, sehingga dalam manusia terkumpul tiga martabat yang bersifat bathin, dan tiga martabat lahir.
Kalau kita perhatikan ajaran martabat tujuh, pada dasarnya adalah mengungkapkan asal muasal kejadian manusia maupun alam semesta. Didalam pengurutannya Syekh Muhammad Ibnu Fadhilah menempatkan bahwa Dzat sebagai hakikat dari segala sesuatu.
Karena itu Dzat disebut sebagai la ta’yun tidak bisa dikenal hakikatnya. Keadaan-Nya tidak kenal penyebutan karena segala persepsi tidak bisa menggambarkan keadaan-Nya. Keadaan yang masih belum ada apa-apa, masih awang uwung (suwung), yang wilayah ini digambarkan oleh AlQur’an sebagai orang yang pingsan (suatu keadaan yang di alami oleh Nabi Musa As, lihat QS: 7:143)
Inilah objek yang kita tuju, bukan kepada sifat dan Nur-Nya. Kepada Dzat itulah kita kembali “inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun”, kita memuja, bersujud, kita bergantung!!
Oleh karena itu, apabila manusia dapat mengembangkan kehidupan rohaninya, sehingga dapat memperhatikan ke tujuh martabat tersebut, maka dia akan menjadi manusia sempurna (insan kamil). Sedangkan insan kamil yang paling tinggi dan yang paling sempurna adalah NabiMuhammad SAW. Yang wajib bagi kita menjadikannya sebagai Teladan (Uswatun Hasanah)
Dasar pandangan yang terdapat pada rumusan martabat tujuh tersebut, adalah paham pantheisme-monoisme. Menurut Muhammad Ibn Fadhilah, bahwa segala yang ada ini dari segi hakikat adalah Tuhan, sedangkan dari segi yang kelihatan (hissiyyah) secara lahir bukan Tuhan. Sebagai tamsil misalnya uap, es, salju dan buih, dari segi hakikat adalah air. Akan tetapi dari wujud lahir bukan air.
Demikianlah pembahasan mengenai martabat tujuh yang pernah berkembang di bumi Nusantara pada abad ke 17. Dan masuknya islam di Nusantara tidak bisa dilepaskan oleh ajaran martabat tujuh ini yang dibawa oleh ulama sufi yang bernuansa tasawuf falsafi.
Kesimpulannya, konsep Martabat Tujuh dalam tasawuf merupakan sebuah jalan spiritual untuk mencapai kesempurnaan insan kamil. Dengan memahami dan mengamalkan ajaran ini, seseorang dapat meningkatkan kualitas spiritualnya dan mencapai tingkat kesadaran yang lebih tinggi. Semoga artikel ini dapat menjadi inspirasi bagi pembaca untuk memperdalam pemahaman tentang tasawuf dan mencapai kesempurnaan spiritual.***
Foto : Ilustrasi
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
