Oleh : Ikin Abdurrahman/Direktur Majelis Dzikir Dan Sholawat RI 1 Yayasan Merah Putih 08
Wartain.com || Kepada siapakah kita bertanya, dalam hal ini Allah berfirman :
فَاسْـَٔلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَۙ.
Maka, bertanyalah kepada Ahli Dzikir jika kalian tidak mengetahui.
Istilah Tasawuf tidak ada pada zaman nabi juga era sahabat. Begitu juga fiqih, Ushul fiqh, nahwu dan Shorof, ilmu Kalam, ilmu tajwid, dan masih banyak lagi metodologi yang baru disusun secara sistematis -sebagai sebuah kodifikasi ilmu- terjadi pada era tabi’in, tabiut tabi’in dan para ulama setelahnya.
Namun meski demikian secara esensi semua itu telah dipraktikan sejak awal mula Islam oleh Rasulullah dan para sahabat.
Ilmu Tasawuf merupakan metode dari para Ulama untuk mencapai derajat Muhsinin, mari bersama-sama sejenak kita tadabburi firman Allah SWT :
وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَاۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ
Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik. (Surat Al-ankabut 69)
Rasulullah SAW bersabda :
وأفضلُ الجهادِ منْ جاهَدَ نَفْسَهُ فِي ذاتِ اللَّهِ عزّ وجَل
Jihad paling utama adalah jihad melawan nafsu sendiri karena Allah ‘azza wa jalla.
(HR. Ahmad, al-Tirmidzi, Abi dawud, Ibn Hibban).
Ayat dan hadis sahih diatas menjelaskan bahwa orang-orang yang melakukan mujahadah di jalan Allah, yaitu orang-orang yang berjuang melawan hawa nafsu dan keinginan-keinginan yang tidak baik, maka Allah akan menunjukkan jalan-Nya yang lurus kepada mereka. sesungguhnya Allah bersama dengan orang-orang yang Muhsin. Dan mujahadah tersebut adalah perjuangan yang paling utama (afdhol).
Surat Al-ankabut merupakan surat Makiyyah, sementara jihad -perang fisik- belum diwajibkan pada periode Makkah, berkaitan dengan ayat 59 ini Imam Ghazali menjelaskan bahwa jihad di jalan Allah bukan hanya berarti berperang, tetapi juga berarti berjuang bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu dan keinginan-keinginan yang tidak baik.
Allah akan menunjukkan jalan-Nya yang lurus kepada orang-orang yang berjihad di jalan-Nya, yaitu jalan yang menuju kepada keselamatan dan kebahagiaan spiritual. (Ihya’ Ulum Al-Din, jilid 3, halaman 234-235)
Adapun siapakah Muhsinin (orang-orang yang berbuat baik), dan bagaimana Ihsan itu… kita bisa merujuk dalam hadits Jibril, ketika malak Jibril bertanya kepada Rasulullah SAW tentang Ihsan, Jibril berkata: Ceritakan kepadaku tentang Ihsan, Rasulullah SAW bersabda :
“أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ”.
“Hendaklah kamu beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”
(HR. Muslim)
Hadits ini menjelaskan tentang pentingnya beribadah dengan penuh kesadaran dan keikhlasan, seolah-olah kita dapat melihat Allah SWT. Jika kita tidak dapat melihat-Nya, maka kita harus menyadari bahwa Allah SWT selalu melihat dan mengawasi kita, itulah Ihsan dan orang nya disebut Muhsin (jamaknya Muhsinun/in)
Agar seorang bisa mencapai derajat Ihsan ini, Para ulama salaf khusunya tabi’in dan tabiut tabi’in telah memberikan Rumusan yang sistematis atau metodologi bedasarkan kajian mendalam (ijtihad ) dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah, yang kemudian metode ini disebut dengan ilmu Tasawuf.
Apakah Tasawuf itu?
Menurut Imam Al-Ghazali, tasawuf adalah :
التسوف هو علم يبحث عن طريقة تطهير القلب من الأوساخ التي تحول بين الإنسان وبين الوصول إلى درجة روحية أعلى.
Tasawuf adalah ilmu yang mempelajari tentang cara (metode) membersihkan hati dari kotoran-kotoran yang menghalangi manusia untuk mencapai tingkat spiritual yang lebih tinggi.
(Ihya’ Ulum Al-Din, jilid 3, halaman 16)
Menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, tasawuf adalah :
التسوف هو علم يبحث عن طريقة الوصول إلى درجة روحية أعلى من خلال تطوير الروحانية والأخلاق.
Tasawuf adalah ilmu yang mempelajari tentang cara (metode) mencapai tingkat spiritual yang lebih tinggi melalui pengembangan spiritualitas dan moralitas (akhlak). (Al-Fath Al-Rabbani, halaman 12)
Dari definisi diatas jelaslah bahwa tasawuf merupakan suatu ilmu tentang metode mujahadah (berjuang bersungguh-sungguh) membersihkan hati dari kotoran-kotoran hawa nafsu yang tidak baik, melalui pengembangan spiritualitas dan akhlak yang baik, sehingga dengan ilmu tasawuf itu seseorang bisa mencapai derajat Muhsin yaitu seseorang yang penuh kesadaran akan hubungannya dengan Allah SWT dalam segala kondisi dan keadaan.
Tasawuf dapat dibagi menjadi beberapa jenis, antara lain:
Tasawuf Akhlaki
Tasawuf akhlaki adalah jenis tasawuf yang berfokus pada pembentukan akhlak yang baik dan moral yang tinggi. Tujuannya adalah untuk membentuk individu yang memiliki karakter yang baik, seperti kesabaran, kejujuran, dan keadilan.
Tasawuf akhlaki adalah tasawuf yang menggunakan pendekatan takhalli (pembebasan diri dari sifat tercela), tahalli (mengisi diri dengan sikap terpuji), dan tajalli (penghayatan rasa ke-Allah-an).
Tasawuf jenis ini fokus pada perbaikan akhlak dengan metode-metode tertentu yang telah dirumuskan. Contohnya menghindarkan diri dari akhlak tercela (madzumah) sekaligus mewujudkan akhlak terpuji (mahmudah). Salah satu tokoh terkemuka nya Imam Ghazali
Dalin yg bisa dirujuk:
“Dan tidaklah Kami mengutus kamu melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam.”
(QS. Al-Anbiya’ : 107)
“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur”.
(Al-Qolam : 4)
Tasawuf Amali
Tasawuf amali adalah jenis tasawuf yang berfokus pada praktek spiritual dan amal ibadah. Tujuannya adalah untuk membantu individu mencapai kesadaran spiritual yang lebih tinggi melalui praktek-praktek seperti dzikir, shalat, dan puasa.
Tasawuf amali adalah tasawuf yang menggunakan pendekatan amaliah. Contohnya wirid dan dzikir dijaharkan (tarekat qadiriyyah) yang selanjutnya mengambil bentuk tarekat (jalan menuju kebenaran dalam tasawuf).
Yang terkenal dari kajian tasawuf ini adalah konsep Syare’at tarekat hakekat dan ma’rifat. Salah satu Tokoh terkemukanya syekh Abdul Qadir Jailani
Dalil yang biasa dirujuk :
“Dan berdzikirlah kamu kepada Allah dengan dzikir yang banyak.”
(QS. Al-Ahzab : 41)
“Dan berpuasalah kamu, maka puasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah : 184)
Tasawuf Falsafi
Tasawuf falsafi adalah jenis tasawuf yang berfokus pada pemikiran filosofis dan spekulatif tentang hakikat Tuhan, alam semesta, dan manusia. Tujuannya adalah untuk membantu individu memahami hakikat yang lebih dalam tentang realitas dan mencapai kesadaran spiritual yang lebih tinggi melalui pemikiran dan refleksi.
Tasawuf jenis ini menggunakan bahan kajian atau pemikiran yang terdapat di kalangan para filosof, seperti filsafat tentang Tuhan, manusia, dan hubungan di antara keduanya.
Yang terkenal dengan kajian Tasawuf falsafi ini konsep Nur Muhammad, konsep martabat tujuh, konsep hulul, wahdatul wujud, wahdatu Syuhud dsb. Salah satu Tokoh terkemuka nya syaikhul Akbar Ibnu ‘Arobi.
Dalil yang bisa dirujuk:
“Dan Kami akan menunjukkan kepada mereka tanda-tanda Kami di ufuk langit dan di dalam diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup bagi kamu sebagai saksi atas segala sesuatu?”
(QS. Fussilat : 53)
“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya”
(QS Qof : 16)
Alhasil, ilmu Tasawuf (baik Tasawuf akhlaki, tasawuf amali, dan tasawuf falsafi) merupakan metodologi yang telah disusun oleh ulama sebagai alat Mujahadah (bersungguh-sungguh) untuk wushul kepada Alloh. inilah metode mencapai spiritualitas yang tinggi itu, inilah tangga untuk mencapai ma’riafullah itu.***
Foto : Ilustrasi
Editor : Aab Abdul Malil
(Dul)