26.7 C
Jakarta
Minggu, April 26, 2026

Latest Posts

Harmoni Istighfar dan Shalawat

Oleh : Ikin Abdurrahman Direktur Majelis Dzikir Dan Sholawat RI 1 Yayasan Merah Putih 08

Wartain.com || Apa hubungan Istighfar dengan Shalawat Nabi SAW ?

Mengapa dalam praktik sufi, senantiasa ada dzikir Istighfar dan Shalawat Nabi dalam setiap wirid-wiridnya ?

Hubungan Istighfar dan Shalawat, ibarat dua keping mata uang

Sebab orang yang bershalawat, mengakui dirinya sebagai hamba yang lebur dalam wahana Sunnah Nabí. Leburnya kehambaan itulah yang identik dengan kefanaan hamba ketika beristighfar.

Shalawat Nabi, merupakan syari’at sekaligus mengandung hakikat. Disebut syari’at karena Allah SWT, memerintahkan kepada para hamba-Nya yang beriman, agar memohonkan Shalawat dan Salam kepada Nabi.

Dalam Firman-Nya : “Sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya senantiasa bershalawat kepada Nabu.Wahai orang-orang beriman bershalawatlah kepada Nabi dan mohonkan salam baginya.”
(QS. 33 : 56)

Beberapa hadíts di bawah ini sangat mendukung firman Allah Ta’ala tersebut :
Suatu hari Rasulullah SAW, datang dengan wajah tampak berseri-seri, dan bersabda : “Malaikat Jibríl datang kepadaku sambil berkata, “Sangat menyenangkan untuk engkau ketahui wahai Muhammad, bahwa untuk satu shalawat dari seseorang umatmu akan kuimbangi dengan sepuluh shalawat baginya. “Dan sepuluh salam bagiku akan kubalas dengan sepuluh salam baginya.”
(HR.an-Nasa’í)

Sabda Rasulullah SAW : “Kalau orang bershalawat kepadaku, maka malaikat juga akan mendo’akan keselamatan yang sama baginya, untuk itu hendaknya dilakukan, meski sedikit atau banyak.”
(HR. Ibnu Majah dan ath-Thabrani).

Sabda Nabi SAW, “Manusia yang paling utama bagiku adalah yang paling banyak shalawatnya.”
(HR. at-Tirmidzí)

Sabdanya, “Paling bakhílnya manusia, ketika ia mendengar namaku disebut, ia tidak mengucapkan shalawat bagiku.”
(HR. at-Tirmidzi).
“Perbanyaklah shalawat bagiku di hari Jum’at”
(HR. Abú Dawúd).

Sabdanya, “Sesungguhnya di bumi ada malaikat yang berkeliling dengan tujuan menyampaikan shalawat umatku kepadaku.”
(HR. an-Nasà’í)

Sabdanya, “Tak seorang pun yang bershalawat kepadaku melainkan Allah mengembalikan ke ruhku, sehingga aku menjawab salam kepadanya.”
(HR. Abú Dawúd).

Tentu, tidak sederhana, menyelami keagungan Shalawat Nabí. Karena setiap kata dan huruf dalam shalawat yang kita ucapkan mengandung atmosfir ruhani yang sangat dahsyat. Kedahsyatan itu, tentu, karena posisi Nabí Muhammad SAW, sebagai hamba Allah, Nabiyullah, Rasulullah, Kekasih Allàh dan Cahaya Allàh.

Dan semesta raya ini diciptakan dari Nur Muhammad, sehingga setiap detak huruf dalam Shalawat pasti mengandung elemen metafisik yang luar biasa. Mengapa kita mesti membaca Shalawat dan Salam kepada Nabi, sedangkan Nabi adalah manusia paripurna, sudah diampuni dosa-dosanya yang terdahulu maupun yang akan datang ?

Beberapa alasan berikut ini sangat mendukung perintah Allah SWT

Nabi Muhammad SAW adalah sentral semesta fisik dan metafisik, karena itu seluruh elemen zhahir dan bathin makhluk ini merupakan refleksi dari cahayanya yang agung. Bershalawat dan bersalam yang berarti mendo’akan beliau, adalah bentuk lain dari proses kita menuju jati diri kehambaan yang hakiki di hadapan Allah, melalui “titik pusat gravitasi” ruhani, yaitu Muhammad Rasulullah SAW.

Nabí Muhammad SAW, adalah manusia paripurna. Segala do’a dan upaya untuk mencintainya, berarti kembali kepada orang yang mendo’akan, tanpa reserve. Ibarat gelas yang sudah penuh air, jika kita tuangkan air pada gelas tersebut, pasti tumpah.

Tumpahan itulah kembali pada diri kita, tumpahan Rahmat dan Anugerah-Nya melalui gelas piala Kekasih-Nya, Muhammad SAW.

Shalawat Nabi mengandung syafa’at dunia dan akhirat. Semata karena filosofi Kecintaan Ilahi kepada Kekasih-Nya itu, meruntuhkan Amarah-Nya. Sebagaimana dalam hadíts Qudsi, “Sesungguhnya Rahmat-Ku, mengalahkan Amarah-Ku.”
Siksaan Allah tidak akan turun pada ahli Shalawat Nabí, karena kandungan kebajikannya yang begitu par-éxellent. Shalawat Nabi, menjadi tawassul bagi perjalanan ruhani ummat Islam. Getaran bibir dan detak jantung akan senantiasa membubung ke alam Samawat (alam ruhani), ketika nama Muhammad SAW disebutnya.

Karena itu, meréka yang hendak menuju kepada Allah (wushul) peran Shalawat sebagai pendampingnya, karena keparipurnaan Nabi itu menjadi jaminan bagi siapa pun yang hendak bertemu dengan Yang Maha Paripurna.

Muhammad, sebagai nama dan prédikat, bukan sekadar lambang dari sifat-sifat terpuji, tetapi mengandung fakta tersembunyi yang universal, yang ada dalam Jiwa Muhammad SAW.

Dan dialah sentral satelit ruhani yang menghubungkan hamba-hamba Allah dengan Allah. Karena sebuah penghargaan Cinta yang agung, tidak akan memiliki nilai Cinta yang hakiki manakala, estetika di balik Cinta itu, hilang begitu saja.

Estetika Cinta Ilahi, justru tercermin dalam Keagungan-Nya, dan Keagungan itu ada di balik desah do’a yang disampaikan hamba-hamba-Nya buat Kekasih-Nya. Wallahu A’lam. Para sufi memberikan pengajaran sistematis kepada ummat melalui Shalawat Nabí itu sendiri.

Dan Shalawat Nabí yang berjumlah ratusan bahkan ribuan macam itu, lebih banyak justru dari ajaran Nabi sendiri. Model Shalawat yang diwiridkan para pengikut tarekat (salik at-Tharuqah), juga memiliki sanad yang sampai kepada Nabi SAW.

Oleh sebab itu, Shalawat adalah cermin Nabi Muhammad SAW yang memantul melalui jutaan bahkan milyaran hamba-hamba Allah bahkan bilyunan para Malaikat-Nya.***

Foto : Istimewa

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.