Wartain.com – Musibah kebakaran hebat yang melanda Kampung Kasepuhan Ciptamulya di Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, adalah duka kolektif yang mendalam. Di tengah kepungan suhu panas ekstrem musim kemarau, hilangnya rumah dan harta benda warga kasepuhan adat ini menjadi alarm keras. Redaksi memandang bencana ini bukan sekadar insiden lokal, melainkan sebuah sinyal darurat yang menuntut kesiapan strategi pertahanan berlapis: taktis, budaya, dan spiritual.
Pernyataan prihatin dan refleksi mendalam dari Aam Abdul Salam — Presidium MD KAHMI Sukabumi sekaligus Dewan Penasihat (Wanhat) PWI Kabupaten Sukabumi dan Wanhat SMSI Sukabumi Raya — patut menjadi rujukan bersama. Beliau menegaskan bahwa penanganan dan antisipasi bencana tidak bisa lagi dilakukan dengan cara-cara biasa.
Secara spiritual, setiap bencana tidak pernah lepas dari qudrat dan irodat Allah SWT. Redaksi sepakat dengan pandangan Aam Abdul Salam bahwa musibah ini adalah ujian keimanan ganda.
*Bagi Korban: Ujian atas ketabahan, kesabaran, dan keikhlasan kehilangan harta benda.
*Bagi Publik: Ujian empati dan kemanusiaan bagi seluruh warga Kabupaten Sukabumi. Sejauh mana kita bergerak berjibaku meringankan beban sesama.
Upaya lahiriah harus berjalan beriringan dengan doa yang tak putus. Memohon rahmat dan perlindungan Allah SWT agar bumi Sukabumi dijauhkan dari segala bencana alam maupun bencana kemanusiaan adalah fondasi spiritual yang menguatkan mentalitas ketahanan masyarakat.
Kasepuhan Ciptamulya adalah pilar adat yang menjunjung tinggi nilai luhur. Pendekatan budaya harus menjadi motor penggerak dalam pemulihan pascabencana (rekonstruksi) maupun pencegahan jangka panjang.
Solidaritas Rereongan: Membangkitkan kembali tradisi gotong royong warga Sukabumi secara konkret untuk menyalurkan bantuan logistik hingga pembangunan kembali rumah adat.
Kultivasi Disiplin: Budaya sadar bencana harus dibangun. Ketidakdisiplinan kecil seperti membuang puntung rokok yang masih menyala, membuang korek api sembarangan, atau membakar ilalang di tengah cuaca kering adalah pemicu fatal yang harus diperangi bersama lewat sanksi sosial maupun edukasi komunitas.
Dimensi Pertahanan Taktis: Sinergi Kebijakan dan Edukasi Masif
Suhu panas yang ekstrem membuat ranting, lahan, dan material bangunan begitu mudah terakar api. Pada titik inilah negara dan pemerintah daerah harus hadir secara taktis dari hulu ke hilir.
Sinergi Lintas Sektoral: Redaksi mendorong Pemerintah Kabupaten Sukabumi untuk bergerak cepat melalui kebijakan strategis. Pemkab harus menjadi dirigen yang mensinergikan koordinasi bantuan pascabencana dari level daerah, provinsi, hingga pemerintah pusat.
Perang Narasi Mitigasi: Dinas Pemadam Kebakaran, BPBD, dan instansi terkait tidak boleh hanya bersifat responsif (menunggu api menyala). Strategi pertahanan terbaik adalah pencegahan. Narasi kewaspadaan, edukasi dini, dan simulasi penanganan kebakaran harus dimassifkan hingga ke lapisan masyarakat paling bawah secara agresif melalui media digital dan ruang publik.
Kesimpulan
Kebakaran di Kasepuhan Ciptamulya harus dibayar mahal dengan hikmah yang besar. Menghadapi puncak kemarau, Sukabumi membutuhkan ketahanan komprehensif.
Ketika kebijakan pemerintah yang taktis berpadu dengan budaya gotong royong masyarakat yang disiplin, serta dikuatkan oleh doa dan kepasrahan spiritual kepada Allah SWT, maka sebuah daerah akan memiliki ‘sabuk pertahanan’ yang kokoh dari ancaman bencana.
Mari kita doakan “Allah memberikan kekuatan dan kesabaran pada warga Kasepuhan Cipta Mulya atas musibah kebakaran, Allah merahmati dan memberkahinya. Amiin YRA. (Rd Ratu Dinar Nusantara)***
Editor : Aab Abdul Malik
