26.7 C
Jakarta
Minggu, April 26, 2026

Latest Posts

Idul Fitri: Kembali kepada Diri Asal, Nurullah dan Ruhullah

Oleh : Dzikri Nur/Pengamat Sosial Keagamaan

Wartain.com || Menurut para sufi besar, Idul Fitri merupakan hari kemenangan bagi umat Islam yang telah berhasil menyelesaikan ibadah puasa selama bulan Ramadhan. Namun, makna yang lebih dalam dari Idul Fitri adalah kembali kepada diri asal, yaitu Diri Sejati yang merupakan Nurullah (Cahaya Allah) dan Ruhullah (Roh Allah).

Syekh Junaid al-Baghdadi, salah satu sufi besar, mengatakan: “Idul Fitri adalah hari kemenangan bagi orang-orang yang telah berhasil mengalahkan nafsu mereka dan kembali kepada Diri Asal mereka.” (1)

Syekh Mansur al-Hallaj, sufi besar lainnya, mengatakan: “Kembali kepada Diri Asal berarti kembali kepada kondisi awal kita, yaitu kondisi yang suci, murni, dan dekat dengan Allah SWT.” (2)

Syekh Abdul Qodir al-Jilani, pendiri tarekat Qodiriyah, mengatakan: “Idul Fitri adalah hari di mana kita kembali kepada Diri Asal kita, yaitu Nurullah dan Ruhullah. Kita kembali kepada kondisi awal kita, yaitu kondisi yang suci, murni, dan dekat dengan Allah SWT.” (3)

Syekh Assazili, sufi besar dari Maroko, mengatakan: “Kembali kepada Diri Asal berarti kembali kepada sumber dari semua kebahagiaan, kedamaian, dan kepuasan yang sejati.” (4)

Syekh Ibnu Arabi, sufi besar dari Spanyol, mengatakan: “Idul Fitri adalah hari di mana kita kembali kepada Diri Asal kita, yaitu Nurullah dan Ruhullah. Kita kembali kepada kondisi awal kita, yaitu kondisi yang suci, murni, dan dekat dengan Allah SWT.” (5)

Dengan demikian, Idul Fitri bukan hanya sekedar hari kemenangan, tapi juga hari di mana kita kembali kepada esensi diri kita yang sejati, yaitu Nurullah dan Ruhullah. Kita kembali kepada kondisi awal kita, yaitu kondisi yang suci, murni, dan dekat dengan Allah SWT.

Marilah kita merayakan Idul Fitri dengan hati yang suci, hati yang dekat dengan Allah SWT. Marilah kita kembali kepada Diri Asal kita, yaitu Nurullah dan Ruhullah, agar kita dapat merasakan kembali kebahagiaan dan kedamaian yang sejati. (***)

Referensi:

(1) Syekh Junaid al-Baghdadi, “Risalah al-Junaidiyah”

(2) Syekh Mansur al-Hallaj, “Kitab al-Tawasin”

(3) Syekh Abdul Qodir al-Jilani, “Al-Fath ar-Rabbani”

(4) Syekh Assazili, “Al-Hikam al-Ata’iyyah”

(5) Syekh Ibnu Arabi, “Fusus al-Hikam”

Foto : Istimewa

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.