Oleh : Dzikri Nur/ Pengamat Sosial Keagamaan
Pengantar
Wartain.com || Hari-hari menuju Iduladha 2025 membawa kita tidak hanya pada tafakur keagamaan, tetapi juga pada sebuah refleksi kenegaraan yang mendalam. Republik Indonesia tidak sedang baik-baik saja. Di tengah perayaan keimanan dan kurban, langit politik Indonesia tengah berarak mendung. Presiden terpilih Prabowo Subianto menghadapi simpul-simpul krisis yang tidak bisa dihindari: isu reshuffle kabinet, tarik-ulur posisi Kapolri, dan yang paling mengguncang: surat para purnawirawan yang menyerukan pemakzulan Gibran Rakabuming Raka ke DPR.
Namun, sebagaimana Ibrahim diuji untuk mengorbankan yang paling dicintai, maka pemimpin negeri ini pun kini diuji: apakah berani berkorban demi kemaslahatan, demi tegaknya keadilan, dan demi memulihkan ruh Pancasila yang telah lama tereduksi menjadi alat politik. Iduladha menjadi momentum bukan hanya bagi rakyat untuk menyembelih hewan, tetapi bagi pemimpin untuk menyembelih ego dan loyalitas yang keliru—dan dari situ, lahir kepemimpinan yang disucikan oleh niat yang murni.
Negara dalam Padang Qurban: Tafsir Krisis sebagai Ladang Kematangan
Kepemimpinan
Situasi mutakhir yang melilit pemerintah Prabowo-Gibran tidak bisa dibaca sebagai dinamika biasa. Ini adalah isyarat langit yang memanggil seorang pemimpin untuk naik kelas menjadi negarawan. Ketegangan elite sudah bukan lagi sekadar politik kekuasaan, tetapi tanda dislokasi nilai. Politik kehilangan arah, hukum kehilangan taji, dan rakyat kehilangan harapan. Bangsa ini memerlukan laku kurban, bukan lagi retorika.
Isu Reshuffle Kabinet: Indikator bahwa loyalitas kabinet bukan pada cita konstitusi, tetapi pada arus kekuasaan. Presiden diuji apakah ia berani memilih sahabat-sahabat baru—bukan yang setia pada kursi, tapi setia pada cita-cita luhur bangsa.
Kontestasi di Tubuh Aparat: Rencana pergantian Kapolri dan potensi politisasi institusi penegak hukum adalah pertarungan senyap antara loyalitas kepada negara atau kepada kekuasaan pribadi. Prabowo diuji: akankah ia memilih profesionalitas spiritual atau kelanjutan dominasi?
Surat Purnawirawan untuk Pemakzulan Gibran: Ini bukan sekadar perlawanan terhadap Gibran sebagai individu, tapi simbol keresahan terhadap politik dinasti dan praktik-praktik yang mencederai rasa keadilan. Bila ini diabaikan, luka bangsa bisa berubah menjadi abses yang membusuk.
Momentum Iduladha: Dalam suasana suci ini, rakyat melihat: apakah pemimpinnya bersedia meneladani Ibrahim—yang berani mengurbankan bukan musuh, tapi bagian dari dirinya sendiri, demi perintah yang lebih tinggi dari semua: keadilan dan ketauhidan.
Prabowo dan Jalan Sunyi Qurban : Membentuk Lingkaran Suci Kepemimpinan
Dalam krisis ini, Prabowo bisa memilih untuk bertahan dengan lingkar kekuasaan lama, atau membuka babak baru: memanggil para sahabat yang loyal kepada Tuhan, kepada nilai kemanusiaan yang adil dan beradab, dan kepada Indonesia sebagai amanah sejarah.
Inilah saatnya beliau membentuk lingkaran suci kepemimpinan—yang terdiri dari para patriot sejati dari TNI, Polri, BIN, BAIS, dan sipil yang tidak hanya kompeten, tapi jernih hatinya. Para ahli dan negarawan yang tak tergoda jabatan, tapi ditawan oleh cinta kepada republik dan Tuhannya.
Ini adalah panggilan untuk memilih bukan orang dekat, tapi orang yang tegak berdiri karena takut pada langit. Bukan yang mencari untung, tapi yang berani rugi demi masa depan generasi mendatang.
Kepemimpinan yang Mengorbankan untuk Menyelamatkan
Iduladha ini dapat menjadi sejarah baru bila Prabowo memutuskan:
Melepaskan Gibran Secara Konstitusional dan Terhormat, sebagai simbol qurban politik demi menyelamatkan legitimasi pemerintahan. Ini bukan kalah, tapi berani kalah demi menang yang lebih besar: keutuhan bangsa.
Memilih Panglima Baru Kapolri dan Panglima TNI Berdasarkan Integritas Ruhani, bukan loyalitas politik. Karena yang kita butuhkan adalah penegak keadilan, bukan pemburu kuasa.
Menata Ulang Kabinet dengan Jiwa Ibrahim, yakni berani melepaskan yang disayang jika itu merintangi jalan kebaikan. Para menteri bukan simbol kekuasaan, tapi alat pengabdian.
Menjadi Presiden untuk Semua Golongan, termasuk oposisi yang konstruktif dan masyarakat sipil yang kritis. Karena ruh Pancasila adalah kebersamaan, bukan kepatuhan tunggal.
Penutup
Bila Prabowo sungguh hendak dikenang sebagai pemimpin agung, bukan hanya penguasa, maka inilah saatnya: Iduladha menjadi momentum qurban politik tertinggi. Seorang Ibrahim tidak dinilai dari banyaknya pengikut, tapi dari kesanggupannya mempersembahkan yang paling dicintainya di altar ketaatan. Bila Prabowo mampu menempuh jalan sunyi ini, maka sejarah akan mengabadikannya sebagai pemimpin yang bertakwa dalam arti sebenar-benarnya: berani mengorbankan demi Allah dan umat manusia.
Dan dari padang qurban ini, bangsa Indonesia bisa bangkit kembali—disatukan bukan oleh kekuasaan, tetapi oleh cinta, keadilan, dan iman kepada Tuhan Yang Maha Esa.***
Foto : Istimewa
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
