26.7 C
Jakarta
Rabu, Februari 11, 2026

Latest Posts

Panen Organik di Sukabumi Jadi Bukti, Pertanian Tanpa Kimia Mampu Tingkatkan Produksi

Wartain.com || Tekanan krisis iklim kian memperparah kondisi lahan pertanian yang selama ini bergantung pada pupuk dan pestisida kimia. Di tengah kekhawatiran akan rusaknya struktur tanah dan merosotnya hasil panen, praktik pertanian ramah lingkungan justru menunjukkan hasil menggembirakan di Kampung Cipari, Desa Cisaat, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi.

Sejumlah petani yang tergabung dalam kelompok Indonesia Wahana Agrikultur Natural (IWAN) berhasil memanen padi varietas Kebuli dengan metode pertanian organik penuh. Tanpa campur tangan bahan kimia sintetis, produktivitas lahan justru melonjak drastis, bahkan mencapai dua kali lipat dibandingkan pola tanam konvensional.

Inisiatif ini digerakkan oleh Gery Dwi Samudra (24), petani muda yang konsisten mengampanyekan pertanian berkelanjutan. Menurutnya, peralihan ke pupuk organik membawa perubahan nyata terhadap kondisi tanaman.

“Dari sisi hasil dan kualitas jelas berbeda. Tanaman lebih kokoh dan relatif tahan hama dibandingkan saat masih menggunakan pupuk kimia,” ujar Gery, Selasa (6/1/2026).

Peningkatan produksi tercatat signifikan. Jika sebelumnya lahan seluas 1.000 meter persegi hanya menghasilkan sekitar 250 hingga 300 kilogram gabah, kini panen mampu menembus angka 600 sampai 700 kilogram dalam satu musim tanam.

Tak hanya volume panen yang meningkat, masa tanam pun menjadi lebih efisien. Gery menjelaskan, siklus tanam yang biasanya memakan waktu sekitar empat bulan kini dapat dipercepat menjadi sekitar 3 bulan 10 hari.

“Walaupun curah hujan cukup tinggi seperti sekarang, pertumbuhan padi tetap optimal dan kualitasnya stabil,” jelasnya.

Pembina kelompok IWAN, Iwan Heryawan (63), menilai keberhasilan ini tak lepas dari upaya memperbaiki kondisi tanah yang selama bertahun-tahun terpapar bahan kimia. Menurutnya, penggunaan pupuk organik berperan penting dalam mengembalikan kesuburan lahan.

“Pupuk organik yang digunakan harus tersertifikasi. Targetnya bukan hanya panen melimpah, tapi juga menaikkan kualitas tanah, dari pH 5–6 ke kisaran ideal 7–9,” kata Iwan.

Ia menambahkan, perbaikan struktur tanah turut menghidupkan kembali ekosistem sawah. Indikator biologis seperti belut dan mikroorganisme tanah yang sempat menghilang kini mulai kembali ditemukan.

Selain berdampak positif bagi lingkungan, beras Kebuli organik juga dinilai lebih aman dikonsumsi karena bebas residu kimia. Iwan pun mengapresiasi keterlibatan generasi muda dalam praktik pertanian sehat.

“Pangan yang sehat adalah fondasi ketahanan pangan nasional. Jika tanah terjaga dan petaninya punya pengetahuan, maka masa depan pangan kita akan kuat,” pungkasnya.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.