26.7 C
Jakarta
Minggu, April 6, 2025

Latest Posts

Peduli Kesehatan Mental Mahasiswa, UGM Larang Dosen “Killer”

Wartain.com || Universitas Gadjah Mada (UGM) akan membuat aturan untuk melarang dosen keras atau yang kerap disebut dosen killer. UGM menganggap dosen seperti itu tak relevan lagi di era saat ini.

“Kita sedang membuat gerakan untuk kampus yang aman nyaman inklusif, ramah dan bertanggungjawab secara sosial. Dan yang salah satunya kita membuat relasi yang menyenangkan antara dosen dengan mahasiswa,” kata Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran UGM Prof Wening Udasmoro, Selasa 31/10/2023, mengutip Kumparan.

Kesehatan mental mahasiswa jadi perhatian tersendiri bagi UGM. Wening mengatakan ketika mahasiswa nyaman maka mereka akan senang mengikuti perkuliahan.

Katanya, UGM berkomitmen menghilangkan kekerasan verbal, kekerasan psikologis apalagi kekerasan fisik. Aturan untuk melarang dosen keras ini sedang dalam proses.

“Ini sedang dalam proses. Jadi ini sebetulnya practically sudah mulai mempromosikan ant kekerasan lewat pimpinan-pimpinan di fakultas. Nah sekarang SOP ini sedang dalam proses pembuatan. Kita mau bikin SOP ada standar operasional prosedur ya untuk bagaimana relasi yang aman, nyaman, antara dosen mahasiswa, antara sesama mahasiswa kemudian antara orang tua dan anaknya yang sekolah di UGM” katanya.

Lebih lanjut, Wening mengatakan dosen galak atau keras tak lagi relevan karena pada dasarnya perguruan tinggi mengajarkan kepada mahasiswa sebuah nilai.

“Kalau cuma ngajarin ilmu itu mereka bisa ngambil di mana-mana. Bisa ngambil di internet, mereka bisa ngambil di YouTube dan sebagainya tapi di perguruan tinggi kita mengajari value. Value empati, solidaritas, respecting each other, itu kan value yang tidak kita temukan kadang-kadang di media. Itu yang akan kita gerakkan di UGM. Aspek-aspek tersebut,” katanya.

Lalu apa kriteria dosen disebut killer? “Itu harus menunggu episode berikutnya, SOP-nya kan sedang mau dibuat. Kalau SOP sudah dibikin kami akan blasting ke media,” katanya.

Namun, kata Wening, definisi dosen killer yakni dosen yang menggunakan kekerasan verbal hingga kekerasan psikologis.

“Ya bentuk-bentuk kekerasan lah yang tidak perlu digunakan kepada mahasiswa. Memberitahu mahasiswa kan tidak perlu dengan kekerasan verbal, psikologis. Itu kan orang tua menitipkan ke kita untuk dididik menjadi anak yang anti-kekerasan kalau kita sendiri melakukan kekerasan, ya, gimana,” katanya.

Saat disinggung adakah mahasiswa UGM yang stres karena berhadapan dengan dosen killer, Wening tak menjawab secara gamblang. Namun, menurutnya di mana pun perguruan tinggi pasti ada dosen killer.

“Saya kira itu di semua perguruan tinggi ada, ada mahasiswa yang takut ngeri sama dosennya, saya kira ada. Itu lah jangan sampai terjadi sekarang itu,” katanya.

Mahasiswa perlu belajar dengan nyaman, kata Wening. Materi perkuliahan tak akan masuk apabila dilakukan dengan cara bentak-bentak.

“Mahasiswa dibentak-bentak itu mungkin malah jadi nggak masuk loh pelajarannya. Kemudian kalau kita menggunakan kalimat yang lebih friendly yang lebih manusiawi mungkin mereka jadi lebih paham,” jelasnya.***

Foto: Shutterstock/Reezky Pradata

(Red)

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.