Oleh: Kang Dzikri Nur/Pengamat Sosial Keagamaan
Wartain.com || Konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel umumnya dipahami sebagai konflik geopolitik yang dilatarbelakangi oleh kepentingan sumber daya alam, khususnya minyak, serta isu keamanan global seperti nuklir. Namun, pendekatan tersebut cenderung reduktif karena mengabaikan dimensi ideologis dan peradaban yang lebih mendalam.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konflik tersebut sebagai bentuk “perang agama” dalam pengertian substantif, yaitu benturan antara peradaban tauhid dan peradaban jahiliyah modern. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif berbasis analisis konseptual dalam kerangka Teologi Islam dan Geopolitik, studi ini menemukan bahwa konflik tersebut tidak hanya berkaitan dengan kepentingan material, tetapi juga mencerminkan pertarungan sistem nilai, paradigma ketuhanan, dan orientasi peradaban.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa istilah “agama” dalam konteks ini perlu dipahami sebagai sistem hidup yang mencakup struktur politik, ekonomi, dan sosial, sehingga konflik Iran versus Amerika Serikat dan Israel dapat dikategorikan sebagai konflik peradaban berbasis nilai ketuhanan versus sekularisme dominatif.
Kata kunci: perang agama, tauhid, jahiliyah modern, geopolitik, peradaban.
Pendahuluan
Latar Belakang
Konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel telah menjadi salah satu isu sentral dalam dinamika geopolitik global. Narasi dominan yang berkembang di ruang publik cenderung menempatkan konflik ini sebagai hasil dari perebutan sumber daya energi, khususnya minyak, serta kekhawatiran terhadap pengembangan teknologi nuklir.
Namun demikian, reduksi konflik pada aspek material semata mengabaikan dimensi ideologis yang turut membentuk arah dan intensitas konflik. Dalam perspektif yang lebih luas, konflik ini dapat dipahami sebagai benturan antara dua sistem peradaban yang memiliki fondasi nilai dan orientasi yang berbeda secara fundamental.
Rumusan Masalah
Bagaimana konsep agama dalam perspektif tauhid (Ma’rifatullah) dapat dipahami sebagai sistem peradaban?
Apakah konflik Iran versus Amerika Serikat dan Israel dapat dikategorikan sebagai perang agama dalam pengertian substantif?.
Bagaimana relasi antara kepentingan geopolitik dan benturan peradaban dalam konflik tersebut?
Tujuan Penelitian
Mengkaji ulang definisi agama dalam perspektif yang lebih komprehensif.
Menganalisis konflik Iran–Amerika Serikat–Israel sebagai benturan peradaban
Menyintesis hubungan antara faktor material dan ideologis dalam konflik global.
Tinjauan Pustaka
1. Agama sebagai Sistem Peradaban.
Dalam kajian Teologi Islam, agama tidak hanya dipahami sebagai praktik ritual, tetapi juga sebagai sistem nilai yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Konsep tauhid menempatkan Tuhan sebagai pusat dari segala struktur kehidupan, termasuk politik, ekonomi, dan sosial.
Sebaliknya, dalam kerangka modernitas sekuler, agama sering dipisahkan dari ruang publik dan direduksi menjadi urusan privat. Hal ini melahirkan sistem peradaban yang berorientasi pada rasionalitas instrumental dan kepentingan material.
2. Geopolitik dan Kepentingan Sumber Daya.
Dalam perspektif Geopolitik, kawasan Timur Tengah memiliki nilai strategis tinggi karena cadangan energi yang melimpah serta posisi geografis yang vital dalam jalur perdagangan global.
Konflik yang melibatkan Iran sering dikaitkan dengan upaya pengendalian terhadap sumber daya tersebut oleh kekuatan global seperti Amerika Serikat serta sekutunya, termasuk Israel.
3. Konsep Jahiliyah Modern.
Istilah “jahiliyah modern” merujuk pada kondisi peradaban yang mengalami kemajuan material, tetapi kehilangan orientasi ketuhanan. Dalam konteks ini, nilai-nilai seperti kapitalisme ekstrem, dominasi global, dan eksploitasi sumber daya menjadi ciri utama sistem tersebut.
Metodologi Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analitis. Data diperoleh melalui studi literatur yang mencakup:
kajian teologis tentang tauhid
analisis geopolitik kontemporer
interpretasi konseptual terhadap fenomena konflik global
Analisis dilakukan dengan pendekatan interdisipliner yang mengintegrasikan perspektif teologi dan geopolitik.
Pembahasan
1. Rekonstruksi Makna Agama.
Dalam perspektif tauhid, agama tidak terbatas pada identitas formal, melainkan mencakup keseluruhan sistem kehidupan. Dengan demikian, sistem politik dan ekonomi yang dianut suatu peradaban juga dapat dikategorikan sebagai manifestasi dari “agama” dalam arti substantif.
2. Konflik sebagai Benturan Peradaban.
Konflik antara Iran dan Amerika Serikat serta Israel menunjukkan adanya perbedaan mendasar dalam orientasi peradaban:
Iran merepresentasikan model negara dengan basis ideologi keagamaan.
Amerika Serikat dan Israel merepresentasikan sistem modern berbasis sekularisme dan kepentingan strategis.
Perbedaan ini tidak hanya bersifat politis, tetapi juga ideologis dan filosofis.
3. Sintesis: Material vs Ideologis.
Analisis menunjukkan bahwa kepentingan sumber daya dan geopolitik tidak dapat dipisahkan dari dimensi ideologis. Kepentingan material seringkali menjadi instrumen, sementara nilai dan paradigma menjadi fondasi utama.
Dengan demikian, konflik ini dapat dipahami sebagai kombinasi antara:
faktor material (minyak, wilayah, kekuasaan), faktor ideologis (nilai, keyakinan, sistem hidup).
Kesimpulan
Konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel tidak dapat dipahami secara utuh jika hanya dilihat dari perspektif geopolitik dan ekonomi.
Dalam perspektif yang lebih mendalam, konflik ini mencerminkan benturan antara dua sistem peradaban, yaitu peradaban tauhid dan peradaban jahiliyah modern. Oleh karena itu, istilah “perang agama” tetap relevan digunakan, dengan catatan bahwa agama dipahami sebagai sistem hidup yang komprehensif, bukan sekadar identitas formal.***
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
