Oleh : Kang Dzikri Nur/Pengamat Sosial Keagamaan
Wartain.com || Dalam buku Paradoks Indonesia, Prabowo Subianto menggambarkan negeri yang kaya raya tetapi jatuh tersungkur oleh kebocoran besar, oligarki rakus, dan pengkhianatan terhadap kepentingan bangsa. Ironisnya, satu dekade setelah buku itu pertama kali menggugah publik, Prabowo berdiri di panggung sejarah sebagai Presiden Republik Indonesia, berhadapan langsung dengan realitas yang pernah ia peringatkan.
Kini, di tahun pertama pemerintahannya, paradoks itu bukan lagi teori—melainkan kenyataan yang meledak dari balik tirai birokrasi, keuangan, sumber daya alam, dan bahkan dari tubuh pertahanan negara sendiri.
Di periode awal ini, publik menyaksikan sebuah fenomena unik: Presiden seolah sedang “hidup di dalam bukunya sendiri.” Satu demi satu bab kritik yang dulu ia tulis seakan menampakkan wujudnya—lebih besar, lebih gelap, lebih mendalam dibanding yang dibayangkan. Para pembantunya menjadi aktor kunci dalam membongkar jaringan yang selama bertahun-tahun beroperasi sebagai “negara dalam negara.”
Masuknya Amran Sulaiman sebagai MenPAN-RB membuka lembar pertama pergulatan itu. Di bawah kendalinya, penyelidikan terhadap mafia birokrasi dimulai dari akar yang paling busuk: jaringan yang menghisap anggaran, menjual jabatan, memanipulasi sistem, dan melumpuhkan pelayanan publik. Reformasi birokrasi yang selama ini hanya slogan tiba-tiba menjadi arena tempur yang nyata. Yang terbongkar bukan hanya penyimpangan, tetapi organisasi gelap yang hidup dari uang negara.
Tak berselang lama, Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan mengguncang fondasi pengelolaan keuangan negara. Kebocoran APBN yang selama ini dibicarakan dalam ruang-ruang diskusi kini muncul dalam bentuk konkret—pola, aktor, mekanisme.
Sistem yang selama bertahun-tahun dianggap “mapan” ternyata hanya tumpukan kartu rapuh yang menopang kepentingan sekelompok kecil pemain ekonomi dan birokrat-akuntan yang bekerja dalam senyap. Pengungkapan Purbaya ibarat membuka pintu gelap yang selama ini dikunci rapat demi menjaga ilusi kestabilan.
Kemudian hadir Safrie Sjamsoeddin sebagai Menteri Pertahanan, sahabat lama Prabowo di dunia militer. Dan di sinilah bab paling keras dimulai. Investigasi pertahanan tidak hanya menyentuh korupsi pengadaan, tetapi menyentuh jantung masalah: keberadaan jaringan hitam yang bekerja seperti musuh dalam selimut, yang operasinya melampaui batas loyalitas kepada negara. Bagi sebagian kalangan, istilah “negara dalam negara” terasa berlebihan. Namun temuan Safrie memaksa publik mengakui bahwa ancaman itu nyata.
Dan seakan semesta ikut berbicara, bencana besar di Sumatra—banjir bandang, longsor, gelondongan kayu raksasa yang menghancurkan rumah, desa, dan nyawa—menguak babak lain paradoks Indonesia. Bukan bencana alam semata, melainkan akumulasi dari tata kelola hutan yang hancur, pengawasan yang mandul, dan eksploitasi tanpa batas yang dibiarkan begitu lama. Dalam liputan multi media, gelombang kayu yang menyapu pemukiman menjadi simbol paling telanjang dari kolusi ekonomi-politik yang berlangsung bertahun-tahun.
Dalam lanskap inilah Prabowo berdiri. Ia tidak sedang memulai negara dari nol; ia bekerja di reruntuhan warisan sistem yang terdistorsi selama satu dekade penuh. Persekutuan politik yang mengantarkannya menjadi Presiden adalah syariat realitas demokrasi, tetapi takdir sejarah justru mempertemukan dirinya dengan tugas yang lebih berat: membongkar jaringan yang dulu berkuasa bersamanya. Dan di sinilah paradoks itu mencapai titik puncaknya: antara menjaga stabilitas politik dan menghadapi kekuatan lama yang masih berakar kuat.
Tahun pertama pemerintahan ini bukan sekadar kerja teknokratis; ia adalah tahun pengumuman perang terhadap kerusakan struktural. Bagi sebagian orang, ini menakutkan. Bagi sebagian lainnya, ini adalah momentum yang sudah lama ditunggu. Namun bagi bangsa Indonesia, inilah fase ketika tabir kebenaran mulai disingkap, satu per satu, tanpa belas kasihan.
Prabowo kini harus melanjutkan narasi yang ia tulis sendiri—sebuah narasi tentang harapan, perlawanan, dan keberanian. Pertarungan yang dimulai pada tahun pertama ini hanyalah pendahuluan. Buku baru Indonesia sedang ditulis. Dan tinta sejarahnya adalah keberanian melawan gelap dan mewujudkan mimpi indahnya Indonesia.***
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
