Oleh : Yudi Suryadikrama, Dewan Pembina Yayasan Majelis Dzikir Merah Putih
Wartain.com || Dunia hari ini tidak sedang baik-baik saja. Di atas papan catur geopolitik, ketegangan antara poros AS-Israel melawan Iran telah melampaui batas retorika. Kita sedang berdiri di tepi jurang krisis pangan dan energi yang mencekam, bahkan bayang-bayang Perang Dunia III mulai nampak di cakrawala. Di tengah kepungan ketidakpastian ini, muncul sebuah seruan yang melampaui logika militer dan politik: Istighosah Nasional di atas Sajadah Sepertiga Malam.
Filsafat Spiritual: Kepasrahan yang Melawan
Secara filosofis, istighosah bukanlah sikap pasif atau menyerah pada nasib. Ia adalah bentuk “protes spiritual” terhadap kesombongan kekuasaan manusia yang destruktif. Ketika para pemimpin dunia mengandalkan hulu ledak nuklir, kita mengandalkan kekuatan Lā hawla walā quwwata illā billāh (Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah).
Sajadah di masjid, pesantren, hingga tajug-tajug terpencil di pelosok negeri menjadi titik temu antara mikro-kosmos (jiwa manusia) dengan makro-kosmos (Tuhan Pemilik Semesta). Dalam filosofi Islam, doa adalah senjata (ad-du’au silahul mu’min). Menggelar sajadah di sepertiga malam adalah cara kita mengetuk pintu Arsy agar pemilik alam semesta mengintervensi sejarah, memadamkan api peperangan, dan menurunkan rahmat-Nya bagi bumi Indonesia.
Sebagaimana firman Allah SWT:
“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi?” (QS. An-Naml: 62).
Nasionalisme Berketuhanan
Seruan doa ini adalah wujud nyata dari Nasionalisme Spiritual. Kita mencintai Indonesia bukan hanya karena tanahnya yang subur, tapi karena ia adalah amanah Tuhan yang harus dijaga. Nasionalisme kita tidak buta; ia berpijak pada Sila Pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa.
Mendoakan keselamatan bangsa dari ancaman krisis pangan dan energi adalah kewajiban setiap warga negara yang beriman. Hal ini selaras dengan sunnah Rasulullah SAW yang sangat mencintai tanah airnya. Sebuah hadis mengingatkan kita akan pentingnya keamanan dan kecukupan pangan:
“Barangsiapa di antara kalian yang memasuki pagi hari dalam keadaan aman di rumahnya, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seolah-olah dunia telah dianugerahkan kepadanya.” (HR. Tirmidzi).
Mengetuk Pintu Langit demi Kedaulatan
Saat krisis energi dan pangan mengancam akibat konflik luar negeri, kemandirian batin harus diperkuat. Istighosah di majelis taklim dan mushola-mushola adalah gerakan akar rumput untuk memohon agar Indonesia dijauhkan dari kelaparan dan kekacauan.
Kita memohon kepada Allah, Al-Malik (Sang Penguasa), agar para pemimpin bangsa diberi hikmah untuk menjaga kedaulatan di tengah gencatan senjata dunia. Kita memohon agar rakyat kecil tidak menjadi korban dari kerakusan kekuasaan global.
Kesimpulan
Mari jadikan setiap sepertiga malam sebagai benteng pertahanan gaib bagi Indonesia. Di atas sajadah, kita satukan frekuensi spiritual: memohon perlindungan dari kehancuran Perang Dunia III dan meminta keberkahan pangan serta energi bagi setiap piring nasi dan lampu di rumah-rumah rakyat. Karena ketika jalur diplomasi manusia menemui jalan buntu, jalur doa adalah jalan keluar yang tak terbatas.
Jagalah Allah, maka Allah akan menjagamu. ***
Editor : AS
