Wartain.com – Muhammad Zhaldi (24), pengemudi ojek online (ojol) yang menjadi korban penembakan di Jalan Stasiun Timur, Kelurahan Gunungparang, Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi, masih menjalani perawatan di RSUD R Syamsudin SH atau RS Bunut.
Hingga Senin (26/10/2026), proyektil yang bersarang di bagian belakang leher korban belum diangkat. Tim medis masih memprioritaskan stabilisasi kondisi pasien sebelum mempertimbangkan tindakan operasi.
Direktur Utama UOBK RSUD R Syamsudin SH Kota Sukabumi, Yanyan Rusyandi, menyampaikan bahwa kondisi Zhaldi saat ini relatif stabil. Pasien masih dalam keadaan sadar dengan tingkat kesadaran compos mentis dan tidak menunjukkan tanda-tanda defisit neurologis.
“Jadi sampai sekarang kondisinya stabil, tidak ada tanda-tanda defisit neurologis,” kata Yanyan, Senin (26/10/2026).
Meski demikian, hasil pemeriksaan penunjang masih menunjukkan keberadaan proyektil di bagian belakang leher korban.
“Ya, sementara dari hasil analisa penunjang itu masih tampak,” ujarnya.
Yanyan menjelaskan, keputusan untuk tidak langsung mengangkat proyektil dilakukan berdasarkan pertimbangan medis. Tim dokter perlu memperhitungkan risiko yang mungkin muncul apabila tindakan pembedahan dilakukan, terutama kemungkinan terjadinya gangguan pada sistem saraf pusat.
Salah satu tindakan yang dapat dipertimbangkan dalam penanganan tersebut adalah laminektomi, yakni prosedur pembedahan pada bagian tulang belakang. Namun, tindakan operatif harus disesuaikan dengan kondisi klinis pasien dan potensi komplikasi yang dapat ditimbulkan.
“Risiko untuk tindakan mengeluarkan itu ke sistem saraf pusat bisa saja terganggu, gitu. Sehingga pertimbangannya adalah kondisi klinis dengan memperhatikan risiko medis, jangan sampai nanti ada dampak-dampak yang malah lebih memperparah jika dilakukan tindakan medik operatif,” jelasnya.
Untuk sementara, dokter spesialis bedah saraf memilih penanganan konservatif berupa pemantauan kondisi umum pasien dan pemberian obat-obatan sesuai indikasi medis. Langkah ini dilakukan untuk menjaga kestabilan kondisi Zhaldi sekaligus meminimalkan risiko komplikasi.
Yanyan menegaskan, berdasarkan evaluasi sementara dokter spesialis bedah saraf, belum ada rencana operasi untuk mengeluarkan proyektil tersebut.
“Dari hasil pemeriksaan sementara oleh dokter spesialis bedah saraf, belum ada rencana untuk operasi. Ya, jadi arahan dari dokter Nizar sebagai dokter spesialis bedah saraf, sementara penatalaksanaan untuk pasien ini adalah dengan konservatif. Konservatif itu menstabilkan keadaan umum dan pemberian obat-obatan sesuai dengan indikasi penyembuhan,” paparnya.
Sebelumnya, Zhaldi menjadi korban penembakan saat menunggu penumpang di Jalan Stasiun Timur, Kelurahan Gunungparang, Kecamatan Cikole, pada Minggu (25/10/2026) dini hari.
Berdasarkan informasi awal, penembakan diduga dilakukan oleh dua orang menggunakan senapan angin dari jarak sekitar tujuh meter. Insiden tersebut menyebabkan korban mengalami luka di bagian belakang leher.
Hingga kini, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap identitas serta memburu kedua terduga pelaku.***(RAF)
Editor: Aab Abdul Malik
