26.7 C
Jakarta
Sabtu, Mei 23, 2026

Latest Posts

Jejak Tuhan Dalam Pikiran Barat : Membaca Karen Armstrong dan Huntington

Oleh : Dzikri Nur/ Pengamat Sosial Kegamaan

Wartain.com || Di dalam bentang sejarah Barat modern, pencarian makna Tuhan dan agama mengalami distorsi yang tidak kecil. Perjalanan teologis yang dulu berakar pada pengalaman spiritual dan kontemplasi mendalam, perlahan tergeser oleh pendekatan rasional, historis, dan politis.

Dua tokoh besar yang mencerminkan arus besar ini adalah Karen Armstrong dan Samuel Huntington—keduanya menawarkan narasi yang kuat, namun mengandung bias-bias yang perlu dikaji ulang dari sudut pandang yang lebih spiritual dan hakiki.

Karen Armstrong: Tuhan sebagai Proyeksi Evolusi Pemikiran Manusia

Dalam karya monumentalnya A History of God, Karen Armstrong menggambarkan sejarah Tuhan dalam tiga tradisi besar monoteistik: Yahudi, Kristen, dan Islam.

Namun dalam narasinya, Tuhan tampak sebagai hasil evolusi kesadaran manusia, seolah eksistensi-Nya bergantung pada kebutuhan psikologis dan sosial tiap zaman. Ia menempatkan Tuhan dalam konteks perubahan budaya dan pemikiran, bukan dalam realitas mutlak dan transenden.

Armstrong memang jujur dalam pengakuannya bahwa sejarah agama lebih sering merupakan sejarah kekuasaan ketimbang cinta. Tapi, dalam usahanya merekam jejak Tuhan, ia justru kehilangan substansi Tuhan itu sendiri. Seolah Tuhan hanya ide yang berubah-ubah, bukan realitas yang mengubah segalanya.

Samuel Huntington: Agama sebagai Sumbu Peradaban dan Konflik

Berbeda dengan Armstrong, Huntington tidak terlalu bicara soal Tuhan, tetapi soal peradaban. Dalam The Clash of Civilizations, ia menyatakan bahwa konflik masa depan bukan lagi antar ideologi atau ekonomi, melainkan antar peradaban yang dibentuk oleh identitas agama dan budaya.

Islam, menurutnya, adalah “peradaban bermasalah” yang berseberangan secara fundamental dengan nilai-nilai Barat.
Di sinilah letak kegelisahan kita.

Dalam cara pandang Huntington, agama bukan jembatan kesadaran, melainkan tembok identitas. Tuhan bukan yang mempersatukan, tapi simbol politik yang memecah. Pandangan ini bukan hanya problematis secara sosiologis, tapi juga menyesatkan secara ruhani: ia melupakan bahwa Tuhan sejati melampaui sekat-sekat peradaban.

Kritik dari Timur: Saat Tuhan Bukan Lagi Tuhan

Baik Armstrong maupun Huntington mencerminkan cara berpikir modern-Barat yang telah kehilangan hubungan hakiki dengan Tuhan. Dalam pendekatan mereka, agama dan Tuhan dibahas seperti fenomena sejarah biasa—tanpa ruh, tanpa kesadaran metafisis. Inilah akar dari krisis spiritual yang menggerogoti peradaban kini: ketika Tuhan dibicarakan tanpa dihadirkan dalam kesadaran terdalam.***

Foto : Dok. Pribadi

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.