26.7 C
Jakarta
Selasa, Juni 2, 2026

Latest Posts

Awal Tuhan dalam Kesendirian: Menyingkap Rahasia Tersembunyi Sebelum Segala Ada

Oleh : Kang Dzikri Nur/Pengamat Spsial Kegamaan

Wartain.com || Tulisan mutiara kata ini bukan sekadar tafsir, bukan pula sekadar filsafat atau mistisisme. Ia adalah ajakan untuk pulang ke titik mula—satu titik sunyi yang tak terjangkau nalar, tapi justru menjadi sumber dari segala makna. Di titik itu, tak ada siapa pun, tak ada apa pun, hanya ada Tuhan dalam keheningan-Nya yang abadi.

Kami tidak menulis ini untuk sekadar wacana. Ini adalah saksi perjalanan batin, pergulatan panjang terhadap pertanyaan yang terlalu dalam untuk diucap: “Sebelum ada apa-apa, siapa yang ada? Dalam kesendirian mutlak itu, apa yang Tuhan inginkan?”

Banyak manusia memulai pencarian dari dunia, dari sejarah, dari kitab. Tapi dalam buku ini, kami ajak engkau menelusuri sesuatu yang lebih purba dari sejarah—suatu kondisi ketika belum ada sejarah itu sendiri. Sebab jika kesadaran tak kembali ke Awal, maka pencarian hanya berkisar pada bayang-bayang, bukan sumber cahaya itu sendiri.

Awal Tuhan bukanlah titik waktu. Ia adalah rahasia. Dan rahasia hanya tersingkap dalam diam.

Muqaddimah: Kesendirian yang Tak Tertandingi

Sebelum segala sesuatu dinamai, bahkan sebelum makna itu ada, Tuhan telah ada dalam kesendirian-Nya—wujūd azali yang tidak membutuhkan selain-Nya. Tak ada ruang, tak ada waktu, tak ada malaikat, langit, arsy, bahkan belum ada “ada”. Hanya Dia, dengan Diri-Nya yang tunggal dan mutlak, Ahad.

Dalam kesendirian itulah tersimpan seluruh potensi keberadaan, tetapi belum diwujudkan. Seperti lautan tanpa gelombang, atau cahaya tanpa warna, Dia menyendiri dalam keagungan Diri-Nya.
Ibnu ‘Arabī menulis,

“Tuhan dahulu ada, dan tiada sesuatu pun bersama-Nya. Lalu Dia menciptakan makhluk agar Dia dikenal.”
(Hikmah, Fusūs al-Ḥikam).

Kesendirian Tuhan bukan kehampaan. Ia adalah kekayaan mutlak. Tapi mengapa dari kesendirian itu lahir segala sesuatu? Inilah misteri terbesar keberadaan: bahwa dari keheningan, meledaklah jagat raya. Dari kesunyian, berhamburan nama dan bentuk. Dari “Aku”, lahirlah “engkau”.

Para filsuf menyebutnya sebagai prinsip pertama (al-mabda’ al-awwal), para sufi menyebutnya sebagai sirr al-asrar—rahasia dari segala rahasia. Bukan karena Tuhan berubah, tapi karena cinta-Nya untuk dikenal, untuk menyingkap diri-Nya dalam bentuk-bentuk. Dari sinilah kita paham: penciptaan adalah peristiwa cinta, bukan sekadar kehendak kekuasaan.

Dalam kesendirian-Nya, Tuhan tak kekurangan. Tapi dalam kasih-Nya, Tuhan berbagi wujud.

Tulisan mutiara kata ini akan menemanimu menyusuri pemahaman itu, bukan dengan logika beku, tapi dengan perenungan yang menyala—antara akal dan rasa, antara sains dan ruh, antara yang dalam dan yang hakiki.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.