26.7 C
Jakarta
Selasa, Mei 19, 2026

Latest Posts

Generasi Scroll: Ketika Brain Rot Mulai Menggerus Fokus dan Interaksi Sosial Anak Muda

Wartain.com – Fenomena brain rot atau penurunan kemampuan fokus akibat konsumsi konten digital berlebihan kini menjadi perhatian serius para akademisi dan psikolog. Istilah ini menggambarkan kondisi kelelahan mental yang muncul karena otak terus-menerus menerima informasi cepat, dangkal, dan berulang dari media sosial.

Laporan yang dikutip dari cnbcindonesia.com, menyebutkan bahwa studi Universitas Yale tahun 2025 menemukan peningkatan signifikan gangguan kognitif pada kelompok usia muda 18 hingga 34 tahun. Dalam kurun satu dekade, angka gangguan seperti sulit fokus, mudah lupa, dan penurunan konsentrasi meningkat hampir dua kali lipat.

Fenomena ini tidak hanya dipandang sebagai perubahan gaya hidup digital, tetapi mulai dianggap sebagai ancaman terhadap kualitas sumber daya manusia di era modern.

Konten Cepat, Otak Lambat
Di tengah derasnya arus video pendek, meme, dan budaya scrolling tanpa henti, banyak anak muda kini terbiasa menerima hiburan instan dalam durasi singkat. Akibatnya, otak menjadi sulit bertahan pada aktivitas yang membutuhkan perhatian panjang seperti membaca, belajar, atau berdiskusi secara mendalam.

Psikolog Dr. Julia Kogan menjelaskan bahwa salah satu tanda utama brain rot adalah ketika seseorang tidak mampu melepaskan diri dari ponsel dan terus terdorong memeriksa notifikasi meskipun tidak ada kebutuhan penting.

Gejala lainnya meliputi gangguan tidur, mata lelah, sakit kepala, hingga menurunnya kualitas hubungan sosial di dunia nyata. Dalam banyak kasus, seseorang tetap aktif dan ekspresif di media sosial, namun menjadi pasif saat berinteraksi langsung.

Fenomena tersebut kini semakin sering terlihat di kalangan remaja hingga anak-anak sekolah.

Dampak terhadap Anak dan Remaja

Dosen IPB University, Dr. Melly Latifah, menyoroti bahwa paparan konten digital berlebihan juga memengaruhi perkembangan emosional dan kemampuan komunikasi anak.

Menurutnya, anak yang terlalu lama terpapar layar dapat mengalami penurunan konsentrasi, mudah lupa, hingga penyusutan kosakata. Bahkan sebagian anak menunjukkan perubahan perilaku seperti mudah marah ketika gadget diambil atau kesulitan merespons percakapan di dunia nyata.

Pada usia remaja, dampaknya mulai terlihat dalam pola komunikasi yang dipenuhi istilah meme dan respons singkat. Sementara pada anak sekolah dasar, penurunan prestasi belajar menjadi salah satu tanda yang cukup sering muncul.

Para pengamat pendidikan menilai kondisi ini menjadi alarm penting bagi orang tua dan lingkungan sekolah untuk mulai membangun kembali keseimbangan penggunaan teknologi.

Bukan Anti Teknologi, Tapi Perlu Kendali

Kemajuan digital memang membawa banyak manfaat, mulai dari akses informasi hingga peluang ekonomi kreatif. Namun para ahli mengingatkan bahwa penggunaan teknologi tanpa kontrol dapat berdampak pada kesehatan mental dan kemampuan berpikir jangka panjang.

Penggunaan media sosial secara bijak dinilai menjadi langkah penting untuk mencegah dampak brain rot. Membatasi waktu layar, memperbanyak aktivitas fisik, membaca buku, hingga membangun interaksi sosial langsung disebut mampu membantu menjaga kesehatan otak.

Di era ketika perhatian manusia menjadi “komoditas” bagi platform digital, kemampuan mengendalikan konsumsi konten menjadi tantangan baru generasi muda.

Fenomena brain rot pun menjadi pengingat bahwa kecanggihan teknologi tidak boleh membuat manusia kehilangan kemampuan dasar untuk fokus, berpikir kritis, dan membangun hubungan sosial yang sehat.***

Editor : Aab Abdul Malik

(DH)

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.