Wartain.com – Putri Nelayan Palabuhanratu ke-66, Gladys Aura Zalfa, mengajak seluruh generasi muda di Kabupaten Sukabumi untuk aktif menjaga dan melestarikan kebudayaan lokal pesisir. Siswi SMA Negeri 1 Palabuhanratu tersebut menegaskan bahwa keterlibatan anak muda sangat krusial agar tradisi leluhur seperti upacara adat Labuh Saji tidak punah ditelan zaman. Palabuhanratu, Kamis (21/5/2026).
Hal itu disampaikan Gladys di sela-sela istirahat setelah prosesi upacara adat Hari Nelayan Palabuhanratu ke-66 yang berlangsung khidmat di kawasan pesisir Pantai Palabuhanratu, Sukabumi. Mengenakan pakaian adat hijau lengkap dengan mahkota keemasan yang megah, ia tampak didampingi oleh tokoh adat setempat saat melayani wawancara dengan awak media.
Dalam keterangannya, Gladys menyoroti pentingnya menumbuhkan rasa penasaran yang tinggi di kalangan generasi muda terhadap akar budaya mereka sendiri.
“Bagi saya caranya itu adalah kita sebagai generasi muda harus tahu dan punya rasa penasaran yang besar akan budaya, sehingga budaya itu akan tetap lestari dan selalu ada setiap tahunnya,” ujar Gladys.
Terkait pelaksanaan ritual Labuh Saji yang baru saja selesai digelar, Gladys menjelaskan bahwa pelarungan sesajen berupa hasil bumi dan laut tersebut merupakan simbol rasa syukur yang mendalam atas rezeki yang melimpah.
“Harapan saya, semoga nelayan bisa mendapatkan tangkapan ikan yang lebih banyak dan juga lebih berkah ke depannya,” tambahnya penuh harap.
Guna memperluas jangkauan promosi wisata dan budaya daerah, dara yang berstatus sebagai pelajar SMA ini berkomitmen untuk memanfaatkan teknologi digital. Gladys berencana memproduksi berbagai konten edukatif dan informatif di media sosial pribadinya sebagai wadah utama pengenalan potensi maritim Palabuhanratu ke kancah yang lebih luas.
Menutup wawancara, Gladys optimistis bahwa sinergi antara pelestarian budaya tradisional dan pemanfaatan media digital oleh anak muda dapat mendongkrak sektor pariwisata daerah. Upacara Hari Nelayan ke-66 ini pun diharapkan tidak hanya menjadi tontonan tahunan, melainkan menjadi momentum kebangkitan ekonomi dan identitas budaya masyarakat pesisir Sukabumi.***
Editor : Aab Abdul Malik
(Yosep)
