Wartain.com – Di balik panci besar yang mengepul setiap pagi di SPPG Cibeureum-Limusnunggal, ada cerita lain yang ikut matang: cerita tentang petani sayur, peternak ayam, dan pedagang kecil yang kini punya kepastian pasar.
Program makan bergizi gratis yang dijalankan SPPG Cibeureum-Limusnunggal memang bertujuan utama untuk memenuhi kebutuhan gizi anak sekolah. Tapi sejak awal, pengelolanya memilih jalur berbeda. Daripada membeli bahan baku dari distributor besar luar daerah, mereka memutuskan mengetuk pintu UMKM lokal.
Keputusan itu mengubah banyak hal. Setiap minggu, belanja bahan pangan senilai puluhan juta rupiah mengalir ke tangan warga Kelurahan Limusnunggal dan daerah sekitar. Uang itu tidak pergi jauh. Ia mampir dulu di lapak sayur Bu Siti, kandang ayam Pak Ujang, dan dapur produksi kue milik ibu-ibu PKK.
Bagi SPPG, memilih UMKM lokal bukan sekadar soal ekonomi. Kualitas dan kesegaran bahan jadi alasan utama. Jarak yang dekat membuat bahan pangan sampai lebih cepat, sehingga gizi yang sampai ke piring siswa tetap terjaga.
Kepala SPPG Cibeureum-Limusnunggal, Adri Hafiz Yusuf menyebut ini sebagai “lingkaran kebaikan”. Program gizi menghidupkan UMKM, dan UMKM yang sehat memastikan keberlanjutan program.
“Kami tidak mau program ini berjalan sendiri. Kalau bisa, setiap rupiah yang keluar harus membawa manfaat ganda. Anak kenyang gizinya, warga hidup ekonominya,” katanya, Jumat 22/05/2026.
Pendekatan ini juga mendapat sorotan positif. Beberapa pihak menilai model kolaborasi SPPG Cibeureum-Limusnunggal bisa menjadi contoh bagi daerah lain yang menjalankan program serupa. Di tengah tantangan ekonomi desa, langkah kecil seperti ini terbukti memberi dampak nyata.
Di dapur SPPG, api kompor terus menyala. Tapi yang lebih penting, semangat dan perputaran ekonomi warga ikut menyala bersama.***
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
