26.7 C
Jakarta
Jumat, Mei 29, 2026

Latest Posts

PPJNA 98: Sapi Kurban Prabowo Tak Hanya Ibadah, Tapi Juga Hadirkan Gizi Rakyat

Wartain.com – Ketua Umum PPJNA 98, Anto Kusumayuda, menilai penyaluran sekitar 1.000 lebih sapi kurban Presiden Prabowo Subianto ke berbagai daerah memiliki makna ganda. Selain sebagai syiar Idul Adha, program ini dianggap sebagai intervensi nyata pemenuhan gizi masyarakat.

Menurut Anto, distribusi sapi dalam jumlah besar menyasar kelompok yang selama ini minim akses protein hewani. Momentum kurban dimanfaatkan negara untuk menutup celah konsumsi gizi keluarga kecil.

“Ini bukan hanya soal seremoni kurban. Presiden Prabowo sedang menghadirkan gizi kepada rakyat melalui momentum keagamaan. Ada nilai ibadah, ada nilai sosial, dan ada nilai kesehatan masyarakat,” ujar Anto Kusumayuda, Jumat (29/5/2026).

Program penyaluran itu menyebar ke provinsi, kabupaten, kota, pondok pesantren, hingga lembaga keagamaan. Data yang dihimpun menunjukkan total sapi kurban Presiden mencapai sekitar 1.098 ekor dengan nilai anggaran mendekati Rp100 miliar.

Anto melihat pendekatan ini berbeda dari bantuan sosial tunai. Distribusi daging kurban langsung menyentuh masyarakat bawah, kaum dhuafa, pekerja informal, hingga warga pedesaan tanpa mekanisme bertele-tele.

“Ketika masyarakat menerima daging kurban, mereka tidak hanya menerima bantuan pangan. Mereka menerima asupan protein yang penting bagi kesehatan keluarga. Ini relevan dengan visi besar Prabowo soal penguatan kualitas sumber daya manusia,” katanya.

Efek ekonomi juga ikut dirasakan. Sebagian besar sapi dibeli langsung dari peternak lokal di daerah. Perputaran uang tidak hanya terjadi di pusat, tetapi juga menggerakkan ekonomi peternak rakyat di tingkat desa.

Beberapa daerah menerima sapi dengan bobot fantastis. Salah satu contohnya sapi Simmental 1,15 ton yang disalurkan ke Kabupaten Gresik dan dibeli dari peternak Wringinanom. Ukuran besar itu menjadi perhatian warga setempat.

Bagi PPJNA 98, langkah Prabowo menunjukkan pola kepemimpinan yang menghubungkan aspek spiritual dan kesejahteraan. Momentum agama dipakai sebagai kanal kebijakan pangan.

“Prabowo memahami bahwa pangan dan gizi adalah fondasi kekuatan bangsa. Momentum Iduladha dimanfaatkan untuk memperkuat solidaritas sosial sekaligus membantu kebutuhan protein masyarakat,” ujar Anto.

Dampak psikologis juga dinilai signifikan. Di tengah tekanan ekonomi, kehadiran daging kurban dari Presiden menciptakan rasa kebersamaan antara negara dan rakyat. Solidaritas itu terasa langsung saat pembagian daging.

Selain aspek sosial, program ini dilihat sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan berbasis peternakan domestik. Pembelian sapi lokal dinilai membantu peternak menghadapi fluktuasi harga dan masalah distribusi yang sering terjadi.

Pemerintahan Prabowo juga menegaskan standar ketat hewan kurban. Sapi bantuan Presiden wajib lolos seleksi kesehatan, usia, dan bobot minimal. Kedatangan sapi berkualitas baik di daerah-daerah membuat masyarakat antusias.

Anto menyebut pendekatan berbasis budaya dan agama lebih mudah diterima masyarakat Indonesia. Tradisi gotong royong membuat program sosial ini terasa organik, bukan sekadar proyek pemerintah.

“Ini pendekatan khas Indonesia. Ada nilai spiritual, ada kepedulian sosial, dan ada penguatan ekonomi rakyat secara bersamaan,” tuturnya.

Ke depan, PPJNA 98 berharap program serupa diperluas dan melibatkan lebih banyak peternak lokal dari berbagai wilayah. Jika rantai pasok peternak diperkuat, efeknya akan berantai: rakyat dapat daging, peternak dapat penghasilan, daerah ikut bergerak.

Sebelumnya, laporan mencatat Presiden Prabowo menyalurkan 1.098 sapi kurban pada Idul Adha 1447 H. Penyaluran mencakup pemerintah daerah, lembaga sosial, pesantren, hingga masjid di berbagai wilayah Indonesia.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.