26.7 C
Jakarta
Senin, Juni 8, 2026

Latest Posts

Kajian Prof. Jiang tentang Islam: Kekuatan Analisis Sejarah vs Keterbatasan Tanpa Tauhid dan Ma’rifatullah

Oleh : Kang Dzikri Nur: Sejarah jelaskan jejak, Tauhid jelaskan cahaya

Wartain.com – Dekade terakhir, kajian sejarah Islam masuk era kritis. Pendekatan sejarah, arkeologi, filologi, antropologi dipakai untuk membaca ulang kelahiran Islam. Prof. Jiang jadi sorotan karena menempatkan Islam bukan sekadar fenomena agama, tapi peristiwa sejarah yang mengubah arah peradaban manusia abad ke-7 Masehi.

Kekuatan Prof. Jiang jelas. Ia berani meletakkan Islam dalam konteks krisis global: Bizantium vs Persia Sasaniyah saling menguras, Yahudi menunggu Mesias, Kristen terbelah teologi, Arab dililit konflik suku. Di tengah kehancuran itu, Islam hadir. Ini analisis sejarah yang tajam dan membuka dialog lintas disiplin.

Tapi di titik inilah keterbatasannya muncul. Analisis akademik modern berhenti di “bagaimana” Islam lahir. Ia mampu memetakan konteks politik, ekonomi, sosial. Namun ia buntu menjawab “mengapa” Islam punya daya ubah yang tidak dimiliki ideologi lain. Dimensi transendennya hilang.

Padahal inti Islam bukan sekadar peristiwa abad ke-7. Inti Islam adalah tauhid. Tauhid bukan teologi sempit tentang Tuhan itu satu. Tauhid adalah paradigma peradaban. Ia mengubah cara manusia memandang diri, sesama, alam, dan tujuan hidup. Ini yang tidak bisa diukur dengan metode sejarah.

Prof. Jiang menyorot “misteri seratus tahun pertama Islam” karena minim catatan tertulis. Kritik ini keliru jika memakai kacamata modern. Masyarakat Arab abad ke-7 adalah masyarakat oral. Hafalan mereka setajam pedang. Syair, silsilah, hukum adat, Al-Qur’an dihafal sebelum ditulis.

Al-Qur’an dijaga di dada para sahabat, baru dikodifikasi jadi mushaf. Menilai validitas sejarah Islam hanya dari arsip tertulis adalah arogansi metodologi Barat. Banyak peradaban kuno justru selamat karena tradisi lisan. Sejarah tanpa pemahaman budaya akan salah vonis.

Pertanyaan klasik: Mengapa Nabi Muhammad ﷺ tidak menunjuk penerus secara final? Prof. Jiang baca ini sebagai celah politik. Tapi dari sudut tauhid, ini pendidikan umat. Jika semua ditentukan final, umat tidak belajar tanggung jawab kolektif. Khulafaur Rasyidin adalah kelas politik praktis di bawah bimbingan wahyu.

Dinamika setelah Nabi wafat bukan kegagalan sistem. Itu dinamika manusia yang harus memilih, berijtihad, salah, lalu belajar. Sejarah Islam tidak steril. Justru dari dinamika itulah umat matang. Pendekatan sejarah berhenti di konflik. Tauhid membaca di balik konflik ada proses tarbiyah.

Soal Al-Aqsa dan Temple Mount, Prof. Jiang benar: agama tidak lepas dari ruang geografis. Tapi ia berhenti di lapisan klaim politik dan sejarah. Islam melihat Al-Aqsa lebih dalam. Ia simbol kesinambungan risalah dari Ibrahim sampai Muhammad ﷺ. Mengurung Al-Aqsa sebagai “objek sengketa” berarti mereduksi makna spiritualnya.

Mengapa Islam mencapai Golden Age saat Eropa gelap? Prof. Jiang sebut stabilitas politik, perdagangan, bahasa Arab, dukungan negara, keterbukaan ilmu. Semua benar, tapi itu kulit luar. Akarnya satu: paradigma tauhid.

Dalam tauhid tidak ada dikotomi agama vs ilmu. Mempelajari alam = membaca ayat kauniyah. Mencari ilmu = ibadah. Mengembangkan teknologi = tugas khalifah. Karena itu ilmuwan Muslim seperti Al-Khawarizmi, Ibnu Sina, Al-Biruni lahir bukan kebetulan. Mereka produk dari pandangan dunia tauhid.

Inilah keterbatasan paling mendasar historiografi modern. Sejarah bisa jelaskan “bagaimana” kota Baghdad dibangun, “bagaimana” Baitul Hikmah berdiri. Tapi sejarah bisu soal iman, keikhlasan, air mata tahajud yang menggerakkan semua itu. Padahal perubahan peradaban selalu dimulai dari perubahan hati.

Al-Qur’an tidak pertama mengubah sistem politik. Ia pertama mengubah hati manusia. Dari hati yang berubah lahir akhlak baru. Dari akhlak baru lahir masyarakat baru. Dari masyarakat baru lahir peradaban baru. Mata rantai ini putus dalam analisis Prof. Jiang.

Jika sejarah bertanya “bagaimana Islam berkembang”, maka Ma’rifatullah bertanya “mengapa Islam sanggup mengubah manusia”. Ma’rifatullah melahirkan kesadaran: hidup punya tujuan, ilmu punya makna, keadilan wajib, seluruh aktivitas adalah ibadah. Golden Age bukan sebab kebesaran Islam. Ia buah dari manusia beriman, berilmu, berakhlak.

Kesimpulan: Kajian Prof. Jiang penting sebagai pembuka wacana sejarah kritis. Ia memperkaya wawasan dan jembatan dialog agama-ilmu. Namun sejarah tanpa tauhid hanya jadi tumpukan data tanpa cahaya. Untuk memahami Islam secara utuh, kita butuh dua sayap: ketelitian sejarah untuk membaca fakta, kedalaman tauhid dan Ma’rifatullah untuk memahami makna. Sejarah tunjukkan jejak langkah. Ma’rifatullah tunjukkan siapa yang menuntun langkah itu sejak awal.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.