Wartain.com – Momen tak biasa dialami seorang wisatawan saat berkunjung ke kawasan wisata Situ Gunung Suspension Bridge, Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi. Perjalanan melintasi jembatan gantung mendadak terhenti ketika puluhan lutung Jawa terlihat memenuhi jalur perlintasan.
Peristiwa tersebut diabadikan oleh Yunarsih dan diunggah melalui akun Instagram pribadinya. Dalam video berdurasi 1 menit 38 detik itu, tampak dirinya bersama tiga rekannya terkejut ketika kawanan lutung Jawa tiba-tiba muncul dan bergelantungan di sekitar jembatan.
Video yang direkam saat kunjungan pada Februari 2026 itu baru diunggah beberapa waktu lalu dan langsung menarik perhatian warganet. Hingga Minggu (28/6/2026), tayangan tersebut telah diputar lebih dari 408 ribu kali, mengumpulkan 26,7 ribu tanda suka, serta dibagikan sebanyak 2.715 kali.
“Sebenarnya ini video waktu Februari lalu saat saya berkunjung berempat dengan teman-teman ke Asap Isep Smokehouse. Nah, saya buat itinerary-nya sebelum check-in, saya pergi ke Situ Gunung dulu untuk tracking, karena kebetulan hanya berjarak 500 meter,” kata Yunarsih.
Ia mengaku bukan kali pertama datang ke kawasan wisata yang berada di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) tersebut. Namun, pada kunjungan ketiganya itu ia mendapati pemandangan yang belum pernah ditemui sebelumnya.
“Cuma pada hari itu saya agak melihat keanehan. Kok biasanya saya kemarin gak pernah lihat lutung, tapi hari itu kok lutungnya banyak banget,” ujarnya.
Banyaknya lutung yang berkumpul di sekitar jembatan sempat membuatnya mengira satwa tersebut sengaja dihadirkan oleh pengelola sebagai daya tarik wisata.
“Saya pikir oh mungkin ini taktik manajemen kali ya buat daya tarik Situ Gunung biar makin rame,” lanjutnya.
Perasaan panik mulai muncul ketika jumlah lutung semakin banyak dan beberapa di antaranya berada tepat di jalur yang akan dilalui wisatawan. Beruntung, petugas yang berjaga memberikan penjelasan bahwa satwa tersebut tidak agresif sehingga ia dan rombongannya memberanikan diri melanjutkan perjalanan.
“Sempet ketemu sama abang-abang penjaga jembatan gantungnya, dia bilang ‘Aman kak nggak galak’. Lalu karena abangnya ngomong gitu, beranilah kita walau deg-degan, takut banget dijambak. Lalu kita jalan pelan-pelan,” tuturnya.
Meski sempat diliputi rasa takut, Yunarsih mengaku pengalaman tersebut menjadi salah satu momen paling berkesan selama berwisata. Ia merasa beruntung dapat melihat langsung kawanan lutung Jawa hidup bebas di habitat alaminya dari jarak yang sangat dekat.
“Tapi seru banget, nggak pernah sedekat itu sama lutung yang banyak di alamnya mereka. Iya, pertama kali secara langsung banyak, dekat, dan benar-benar di alamnya. Nggak berani (interaksi) karena saya tahu kalau kasih makan kita nanti diserbu,” katanya.
Ia pun mengingatkan wisatawan lain agar tetap menjaga kelestarian alam dan tidak mengganggu satwa liar saat berkunjung.
“Kita berkunjung ke sana berwisata tapi jangan mengubah apa yang alam buat,” pesannya.
Sementara itu, Kepala Resort Situ Gunung Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), A Jadin Anhar, menjelaskan kemunculan kawanan lutung di area jembatan gantung merupakan fenomena yang normal. Menurutnya, jembatan tersebut berada di kawasan konservasi yang masih menjadi habitat alami lutung Jawa (Trachypithecus auratus).
“Jembatan gantung Lembah Purba berada di zona pemanfaatan kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Lutung Jawa di sini adalah satwa liar endemik yang hidup bebas di habitat aslinya,” ujarnya.
Ia menerangkan, posisi jembatan yang membelah kanopi hutan membuat struktur tersebut kerap dimanfaatkan lutung sebagai jalur berpindah maupun mencari makan.
“Kehadiran mereka di area suspension bridge adalah hal yang wajar dan sering terjadi. Jembatan tersebut melintasi kanopi hutan, sehingga kawanan lutung sering menggunakannya sebagai jalur perlintasan alami atau saat mencari makan (seperti buah hutan) di sekitar jembatan,” jelas Jadin.
Berdasarkan data TNGGP, kawasan Situ Gunung hingga kini masih menjadi habitat yang aman bagi lutung Jawa. Populasi satwa endemik Pulau Jawa tersebut di kawasan konservasi itu diperkirakan mencapai lebih dari 300 ekor.***(RAF)
Editor : Aab Abdul Malik
