26.7 C
Jakarta
Selasa, Agustus 18, 2026

Latest Posts

Iskandar Zulkarnaen: Arsitek Kekuasaan yang Tunduk Kepada Kebenaran

Manifestasi Tauhid, Keadilan, dan Perlawanan terhadap Kekuasaan Dzalim

Oleh: Kang Dzikri Nur/Pengamat Sosial Keagamaan

Wartain.com – “Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan untuk mencapai segala sesuatu.” (QS. Al-Kahfi: 84)

Di antara kisah paling monumental dalam Al-Qur’an adalah kisah Dzul-Qarnain, seorang penguasa yang memperoleh kekuasaan luas, ilmu, dan kemampuan untuk menjelajah berbagai penjuru bumi. Namun keagungan kisahnya tidak terletak pada luasnya wilayah kekuasaan, banyaknya pasukan, atau kemegahan kerajaan, melainkan pada satu hal yang jauh lebih fundamental: bagaimana seorang manusia menggunakan kekuasaan ketika Allah memberinya kemampuan untuk menguasai dunia.

Dzul-Qarnain adalah simbol bahwa kekuasaan tidak selalu identik dengan kesombongan. Kekuasaan dapat menjadi rahmat apabila berada di tangan manusia yang memiliki kesadaran tauhid. Sebaliknya, kekuasaan dapat berubah menjadi bencana apabila terlepas dari kebenaran, keadilan, dan pertanggungjawaban kepada Allah.

Al-Qur’an tidak memulai kisahnya dengan membanggakan dirinya, tetapi dengan menegaskan bahwa kekuasaan yang dimilikinya berasal dari Allah. Inilah fondasi pertama kepemimpinan tauhid: kekuasaan adalah amanah, bukan kepemilikan mutlak.

Seorang pemimpin yang menyadari hal tersebut tidak akan mudah berkata, “Ini negaraku, ini rakyatku, ini kekuasaanku.” Ia akan menyadari bahwa seluruhnya hanyalah titipan. Jabatan akan berakhir, kekayaan akan ditinggalkan, dan tubuh akan kembali kepada tanah. Yang akan tetap berdiri hanyalah pertanggungjawaban manusia di hadapan Allah.

Dzul-Qarnain kemudian melakukan perjalanan ke arah barat. Di sana ia berhadapan dengan suatu kaum dan diberikan pilihan untuk memperlakukan mereka. Ia tidak menjadikan kekuatan sebagai alasan untuk bertindak sewenang-wenang. Al-Qur’an memperlihatkan prinsip keadilan: orang yang zalim mendapatkan konsekuensi atas kezalimannya, sedangkan orang yang beriman dan beramal saleh mendapatkan perlakuan yang baik.

Di sinilah kepemimpinan Dzul-Qarnain memperoleh maknanya. Keadilan bukan aksesori kekuasaan; keadilan adalah jantung kekuasaan.

Kemudian ia bergerak menuju timur dan menemukan masyarakat yang berada dalam kondisi berbeda. Sekali lagi, kekuasaan tidak membuatnya kehilangan kebijaksanaan. Ia menghadapi manusia dengan realitas mereka, bukan dengan kesombongan seorang penakluk.

Namun puncak kisahnya muncul ketika ia tiba di antara dua gunung dan bertemu masyarakat yang meminta perlindungan dari Ya’juj dan Ma’juj, yang mereka gambarkan sebagai pembawa kerusakan di bumi.

Menariknya, Dzul-Qarnain tidak mengeksploitasi ketakutan masyarakat tersebut. Ia tidak menjadikan penderitaan mereka sebagai kesempatan memperkaya diri. Ia justru membangun sebuah penghalang dengan memanfaatkan kemampuan teknis dan sumber daya yang tersedia.

Ia berkata:
“Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku lebih baik.”
(QS. Al-Kahfi: 95)
Kemudian ia meminta mereka ikut bekerja.

Inilah paradigma pembangunan yang sangat penting: pemimpin tidak membangun peradaban di atas rakyat, tetapi bersama rakyat.

Dzul-Qarnain memperlihatkan bahwa kekuatan material—besi, teknologi, organisasi, dan kemampuan membangun—harus dipandu oleh kesadaran moral. Sebab teknologi tanpa tauhid dapat menjadi alat kehancuran, ekonomi tanpa keadilan dapat melahirkan eksploitasi, dan kekuasaan tanpa akhlak dapat berubah menjadi tirani.

Setelah penghalang itu selesai, Dzul-Qarnain tidak mengabadikan namanya sebagai pahlawan. Ia tidak mendirikan kultus terhadap dirinya. Ia justru berkata:
“Ini adalah rahmat dari Tuhanku.”
(QS. Al-Kahfi: 98)

Kalimat ini merupakan puncak spiritualitas kekuasaan..Semakin besar pencapaian seseorang, semakin kecil egonya di hadapan Allah.

Di sinilah Dzul-Qarnain berbeda secara prinsip dari model kekuasaan Fir’aun. Fir’aun mengubah kekuasaan menjadi klaim ketuhanan dan dominasi atas manusia. Dzul-Qarnain justru mengembalikan kekuasaannya kepada Allah sebagai sumber amanah.
Maka pertarungan antara Dzul-Qarnain dan kekuasaan dzalim bukan hanya kisah masa lalu. Ia adalah pertarungan yang terus berlangsung dalam sejarah manusia: antara kekuasaan yang melayani kebenaran dan kekuasaan yang menjadikan dirinya sebagai kebenaran.

Umat hari ini membutuhkan paradigma Dzul-Qarnain: kuat tetapi rendah hati, berkuasa tetapi adil, maju tetapi berakhlak, memiliki teknologi tetapi tidak kehilangan Tuhan, dan mampu membangun benteng peradaban tanpa menjadikan rakyat sebagai korban.

Kisah ini juga mengajarkan bahwa Ya’juj dan Ma’juj tidak semestinya secara gegabah ditempelkan kepada bangsa atau kelompok tertentu. Yang lebih penting adalah memahami pesan Qur’annya: setiap kekuatan yang membawa kerusakan harus dihadapi dengan ilmu, persatuan, teknologi, keberanian, dan keteguhan moral.

Pada akhirnya, Dzul-Qarnain mengajarkan satu hukum sejarah yang tidak pernah berubah:
kekuasaan tanpa tauhid melahirkan kesombongan; kekuasaan tanpa keadilan melahirkan penindasan; tetapi kekuasaan yang tunduk kepada Allah dapat menjadi rahmat bagi manusia.

Karena itu, kebangkitan umat bukan sekadar pergantian penguasa. Kebangkitan adalah perubahan kesadaran: dari kekuasaan sebagai alat dominasi menuju kekuasaan sebagai amanah, dari rakyat sebagai objek menuju rakyat sebagai manusia bermartabat, dan dari ego sebagai pusat kehidupan menuju Allah sebagai pusat kesadaran.

Dzul-Qarnain akhirnya mengajarkan bahwa kemenangan terbesar bukanlah menaklukkan dunia, melainkan tidak membiarkan dunia menaklukkan hati.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.