Wartain.com – Harapan keluarga agar Gopar (46), Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Desa Cibatu, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi, dapat kembali ke tanah air masih menemui jalan terjal.
Gopar kini menjalani perawatan di Rumah Sakit Aster Sanad, Riyadh, Arab Saudi. Ia telah terbaring di rumah sakit sejak Agustus 2025 setelah mengalami hipertensi dan komplikasi akibat operasi kanker otak.
Kondisi Gopar disebut belum menunjukkan banyak perubahan. Bahkan, setelah menjalani operasi, kedua kakinya tidak lagi dapat digerakkan sehingga aktivitas sehari-hari harus dilakukan dengan bantuan.
Informasi mengenai kondisi Gopar diterima PMI asal Sukabumi, Yusup Saepulloh. Ia kemudian berupaya menghubungi serta meminta bantuan otoritas Indonesia di Arab Saudi agar Gopar mendapat perhatian dan bisa dipulangkan.
“Awalnya Pak Gopar itu darah tinggi. Kemudian ada semacam kanker otak dan dioperasi. Kaki juga udah enggak bisa berjalan. Dari udah mulai dioperasi itu enggak ada penggerakan sama sekali,” kata Yusup, Minggu (23/8/2026).
Persoalan lain muncul karena istri Gopar, Isoh (44), juga bekerja pada majikan yang sama. Isoh disebut tetap harus menjalankan pekerjaannya sebagai perawat lansia sehingga tidak dapat mendampingi suaminya secara penuh.
Menurut Yusup, kondisi tersebut membuat keluarga semakin berharap Gopar dapat segera dipulangkan ke Sukabumi. Dengan begitu, perawatan terhadap Gopar bisa dilanjutkan oleh keluarga di tanah air.
“Istrinya ini kan sehari-hari kesibukannya merawat lansia. Istrinya disuruh majikannya untuk ke rumah sakit untuk merawat si lansia itu. Malah saya itu miris, kok tidak ada kebijakannya dari pihak majikannya untuk merawat suaminya yang terbaring selama 1 tahun,” ujarnya.
Selain persoalan kesehatan, Gopar juga disebut menghadapi sejumlah masalah selama bekerja sebagai sopir pribadi. Yusup mengatakan gaji Gopar sekitar 1.600 riyal per bulan, tetapi pembayarannya kerap mengalami keterlambatan.
Sejumlah biaya operasional kendaraan juga disebut dibebankan kepada Gopar dan dipotong dari upahnya, termasuk ketika terjadi kerusakan kendaraan atau ban pecah.
“Kendala-kendala dari pekerjaan ini, seperti di jalan kalau pecah ban dibebankan Pak Gopar untuk dipotong gaji, ada kerusakan mobil harus dipotong gaji. Sedangkan gajinya itu 1.600 riyal itu juga sering terlambat,” kata Yusup.
Untuk biaya pengobatan, Gopar mendapat perlindungan asuransi atau Tamim yang berlaku bagi pemegang Iqamah. Namun, persoalan biaya muncul ketika keluarga ingin memulangkannya ke Indonesia.
Menurut Yusup, pihak majikan belum bersedia menanggung biaya kepulangan yang diperkirakan mencapai 27.000 riyal. Kondisi tersebut membuat keluarga berharap pemerintah Indonesia dapat membantu proses repatriasi Gopar.
“Saya lobi dengan pihak KBRI gimana kelanjutannya dari pihak majikan ini tetap tidak ada kesanggupan untuk memberikan ongkos kepulangan dengan alasan terlalu mahal, 27.000 riyal untuk menyiapkan ongkos kepulangan Bapak Gopar ini ke Indonesia,” tuturnya.
Yusup mengatakan Isoh berharap suaminya bisa segera kembali ke Sukabumi. Menurut keluarga, perawatan di Indonesia dinilai akan lebih memungkinkan karena Gopar dapat didampingi secara langsung oleh keluarganya.
Gopar dan Isoh diketahui telah bekerja di Arab Saudi sejak 2021. Keduanya sempat dipulangkan oleh pihak penyalur tenaga kerja sebelum kembali bekerja di negara tersebut.
Sejak Gopar menjalani perawatan di rumah sakit, kebutuhan keluarga kini lebih banyak bergantung pada penghasilan Isoh. Sementara Gopar masih terbaring dan membutuhkan perawatan berkelanjutan.
Saat ini, upaya pemulangan Gopar masih menunggu penyelesaian persoalan biaya dan koordinasi dengan pihak terkait. Keluarga berharap pemerintah dapat membantu agar Gopar segera kembali ke tanah air dan melanjutkan pengobatan di Sukabumi.***(RAF)
Editor : Aab Abdul Malik
