Oleh : Dadang Sahroni/Warek I UMN Sukabumi/Presidium MD KAHMI Sukabumi
Wartain.com – Memasuki bulan Rabiul Awal 1448 H, sekolah, madrasah, hingga perguruan tinggi di seluruh Indonesia kembali menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Momentum ini bukan hanya seremonial, tapi menjadi ruang untuk merefleksikan bagaimana nilai-nilai Rasulullah dihidupkan dalam praktik pendidikan.
Peringatan Maulid di lembaga pendidikan memiliki makna ganda. Selain ibadah, ia berfungsi sebagai laboratorium karakter. Di sinilah siswa diajarkan bahwa ilmu tanpa akhlak akan kehilangan arah, dan akhlak tanpa ilmu akan kehilangan daya.
Rasulullah SAW adalah “guru terbaik sepanjang masa”. Metode beliau dalam mendidik sangat kontekstual: teladan, dialog, kasih sayang, dan pembiasaan. Tiga hal inilah yang kini kembali digaungkan dalam Kurikulum Merdeka dan penguatan Profil Pelajar Pancasila.
Di sekolah-sekolah, peringatan Maulid tahun ini diisi dengan berbagai kegiatan. Mulai dari ceramah agama, lomba adzan, tahfidz, shalawat, bazar amal, hingga aksi sosial. Tujuannya satu: menjadikan siswa tidak hanya cerdas secara akademik, tapi juga beradab.
Kepala sekolah dan guru dituntut menjadi uswatun hasanah. Sebagaimana Rasulullah yang mengajar dengan keteladanan, guru hari ini juga harus menunjukkan kejujuran, kedisiplinan, empati, dan menghargai perbedaan di dalam kelas.
Nilai rahmatan lil ‘alamin dari Nabi sangat relevan dengan tantangan pendidikan saat ini. Bullying, intoleransi, dan perundungan di sekolah bisa ditekan jika nilai kasih sayang, musyawarah, dan menghormati sesama benar-benar dipraktikkan.
Dalam praktik pembelajaran, sifat fathanah atau cerdasnya Rasul bisa diteladani lewat pendekatan literasi dan berpikir kritis. Siswa diajak bertanya, berdiskusi, dan mencari solusi, bukan hanya menghafal. Ilmu menjadi hidup ketika digunakan untuk menyelesaikan masalah umat.
Sementara sifat amanah dan shiddiq menjadi fondasi integritas akademik. Menyontek, plagiarisme, dan kecurangan ujian adalah bentuk pengkhianatan terhadap ilmu. Kampus dan sekolah harus tegas menanamkan budaya jujur sejak dini.
Di perguruan tinggi, semangat Maulid diterjemahkan dalam bentuk pengabdian. Mahasiswa diajak turun ke masyarakat melalui KKN, PPL, riset, dan program literasi. Ini cerminan tabligh menyampaikan kebaikan dan kebermanfaatan kepada sesama.
Kementerian Agama dan Kemendikdasmen juga mendorong agar peringatan Maulid tidak berhenti di panggung. Sekolah didorong membuat “Gerakan Sekolah Ramah Anak” dan “Sekolah Berakhlak” yang meneladani 4 sifat utama Rasul dalam setiap kebijakan.
Orang tua pun punya peran. Pendidikan karakter tidak akan berhasil jika hanya diserahkan ke sekolah. Rumah harus menjadi madrasah pertama, di mana anak melihat orang tuanya bershalawat, bersedekah, dan menghormati guru.
Tantangan terbesar pendidikan Indonesia ke depan bukan hanya soal nilai dan ranking. Tapi soal melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak, dan berdaya. Dan itu hanya bisa terjadi jika kita kembali ke teladan Nabi Muhammad SAW.
Selamat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H. Mari jadikan sekolah sebagai tempat menumbuhkan cahaya. Karena guru yang meneladani Rasul, akan melahirkan murid yang mencintai ilmu dan mencintai kemanusiaan.***
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
