Wartain.com – Kebakaran yang melanda tumpukan limbah veneer di Kampung Pondok Bitung, RW 07, Desa Kertaraharja, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi, belum sepenuhnya berakhir.
Hingga Kamis sore (27/8/2026), sejumlah titik pada tumpukan limbah masih mengeluarkan bara dan asap. Petugas pemadam kebakaran pun tetap berada di lokasi untuk melakukan pemantauan sekaligus memastikan api tidak kembali membesar.
Kasi Trantib Kecamatan Cikembar, Andi, membenarkan kondisi tersebut. Menurutnya, api hingga kini belum padam secara menyeluruh.
“Untuk saat ini api masih mengelun, belum 100 persen padam, dan pihak damkar dini hari tadi bertugas sampai jam 1,” kata Andi saat dikonfirmasi, Jumat (28/08/2026).
Kondisi tersebut membuat proses penanganan membutuhkan waktu cukup panjang. Tumpukan limbah veneer yang tebal menyebabkan bara api dapat bertahan di bagian dalam dan bawah tumpukan, meskipun bagian permukaan telah dibasahi air.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Sukabumi, Budianto, menjelaskan bahwa petugas menghadapi kendala dalam menjangkau bara yang berada di bagian bawah tumpukan.
“Di bawahnya masih bara. Itu harus diaduk sampai ke bawah, sementara kita tidak memiliki alat untuk mengangkat atau membongkar tumpukan itu,” ujar Budianto saat ditemui di lokasi.
Menurut Budianto, kondisi tersebut membuat pemadaman harus dilakukan secara bertahap. Air yang disemprotkan petugas tidak selalu mampu menembus hingga bagian terdalam tumpukan limbah.
Karena itu, selain melakukan pembasahan, petugas lebih memprioritaskan penyekatan dan pemantauan agar kobaran api tidak menjalar ke area lain.
“Kami sekarang hanya memantau dan memutus jalur api supaya api tidak menyebar meluas, baik ke permukiman ataupun ke pabrik-pabrik yang lain,” katanya.
Dalam penanganan kebakaran tersebut, Damkar Kabupaten Sukabumi mendapat dukungan dari berbagai unsur. Bantuan di antaranya berasal dari Yonif 310, Yon Armed 13 Nanggala, Damkar Kota Sukabumi, SCG dan GSI.
Damkar Kabupaten Sukabumi juga mengerahkan empat unit kendaraan pemadam, masing-masing dua unit dari Cibadak, satu unit dari Cikembar dan satu unit dari Cisaat. Sementara kebutuhan air turut didukung sejumlah perusahaan melalui kendaraan tangki.
Budianto menambahkan, personel akan terus melakukan pemantauan terhadap titik-titik yang masih mengeluarkan bara. Petugas diperkirakan tetap berada di lokasi hingga malam hari guna mengantisipasi munculnya kembali kobaran api.
“Bara ini diperkirakan masih bisa bertahan satu sampai dua hari apabila tidak turun hujan,” jelasnya.
Sementara itu, mengenai penyebab kebakaran, hingga kini masih dilakukan penelusuran. Budianto menyebut pihaknya memperoleh informasi awal mengenai dugaan aktivitas pembakaran yang menjadi sumber munculnya api, tetapi informasi tersebut masih perlu dipastikan.
“Saya sudah meminta pihak kecamatan untuk menyelidiki sumbernya, ini berasal dari mana,” ungkapnya.
Apabila hasil penyelidikan nantinya menemukan adanya aktivitas pembakaran yang memicu api merembet ke tumpukan limbah, penanganan lebih lanjut akan diserahkan kepada pihak berwenang, termasuk kecamatan dan kepolisian.
Budianto mengimbau masyarakat agar tidak sembarangan menggunakan api, terutama selama kondisi kemarau. Pembakaran sampah maupun lahan dinilai berisiko tinggi apabila dilakukan tanpa memperhatikan kondisi sekitar.
“Lebih bijak memakai api, lebih bijak dalam hal pembuangan sampah. Kalau memang tidak mampu, jangan mencoba-coba membakar lahan. Lihat situasi dan kondisi,” tegasnya.
Petugas hingga kini masih melakukan pengawasan di sekitar lokasi. Upaya tersebut dilakukan sebagai langkah antisipasi agar bara yang masih berada di dalam tumpukan limbah tidak kembali berubah menjadi kobaran api dan mengancam permukiman maupun kawasan industri di sekitarnya.***
Editor : Aab Abdul Malik
(Intan)
