Wartain.com – Jejak perkebunan kolonial di wilayah Cibadak masih menyisakan cerita panjang. Nama-nama seperti Ongkrak, Ardenburg, Malingut, Sukamaju, hingga Sinagar tercatat sebagai sentra perkebunan yang awalnya menanam kopi, lalu berganti ke teh dan komoditas lain.
Kemajuan teknologi sudah masuk sejak era itu. Perkebunan Sukamaju dan Cipetir bahkan telah memakai kereta gantung untuk mengangkut hasil panen. Cipetir dengan Gutta Percha-nya bahkan pernah menjadi komoditas penting yang mendorong revolusi telekomunikasi dunia, sementara Sukamaju sempat menjadi penghasil kokain besar pada 1910.
Di antara semua itu, Sinagar di Nagrak menjadi yang paling menonjol. Pemerintah kolonial mulai menanam teh di sana sejak 1842. Setahun kemudian, tepatnya 29 Juli 1843, lahan itu disewakan kepada Letnan Titulair Chinezen dari Buitenzorg, Tan Soeij Tjiang.
Usaha Tan Soeij Tjiang berakhir pailit. Konsesi kemudian berpindah ke BB Crone dan anaknya Tan Goan Pouw, sebelum akhirnya pada 1 Januari 1863 dijual kepada Van Der Hucht, Albert Holle, dan E.J Kerkhoven. Di tangan Kerkhoven inilah Sinagar mencapai puncak kejayaan.
Kerkhoven dikenal sebagai Pranger Planters atau rajanya teh Nusantara. Fasih berbahasa Sunda, ia memperluas areal dengan menyewa Cirohani hingga membentuk NV Sinagar-Cirohani seluas 1.235 bau, lalu merambah Munjul yang berbatasan dengan Ciambar. Komoditasnya pun beragam, dari teh dan karet, kina pada 1865, kopi dan cokelat pada 1893, hingga penanaman teh besar-besaran pada 1928.
Pada 1883 bersama Albert Holle, ia mengubahnya menjadi Estate Company of Sinagar, Tjirohani. Kerja kerasnya menjadikan Sinagar sebagai perkebunan terbesar di dunia sekitar 1900-an, yang kerap dikunjungi pelancong mancanegara.
Sinagar tidak hanya kebun, melainkan menjelma menjadi kota satelit. Segala fasilitas tersedia, dari operasional kebun hingga hiburan pemiliknya. Kerkhoven menerapkan teknologi modern seperti ban berjalan untuk mesin rolling dan pengering teh, teknologi pertama saat itu. Keponakannya, Bosscha, bahkan magang di sana dari Desember 1887 hingga 1895.
Kemewahannya terlihat dari kebun binatang pribadi berisi banteng, rusa, burung, biawak, kuda, hingga gajah Sumatera bernama Si Tuku. Ia juga membangun kebun raya mini dengan irigasi canggih dan jaringan listrik bawah tanah dari turbin besar di lokasi yang kini dikenal sebagai Gang Turbin.
Sisi budaya pun diperhatikan. Kerkhoven mendanai Gamelan Sari Oneng dan mengirim para pemainnya untuk tampil saat peresmian Menara Eiffel di Paris tahun 1889 bersama musisi Parakansalak, yang rutin menghibur karyawan setiap malam Minggu.
Sinagar juga mencatat sejarah sebagai perintis sekolah pribumi pertama, seperti ditulis Prof. P.J Veth dalam buku Schetaen Uit Insulinde pada bab Inlandsche School Het Land Sinagar. Sekolah dibiayai mandiri dengan guru lokal fasih Belanda dan guru dari Belanda, belajar di gudang yang ditata menjadi kelas dengan dinding bilik bambu. Pelukis Mari Ten Kate bahkan mengabadikannya dalam lukisan cat air.
Sistem ekonominya pun maju dengan penggunaan token transaksi dari bambu berukuran 1,5 x 10,5 cm bertuliskan tinta Cina nominal 8 sen, yang berfungsi mengontrol keluar-masuk karyawan. Tak heran, koran Sunday Oregonian dari Amerika dan Bunbury Herald dari Australia menyebut Sinagar sebagai perkebunan terbesar di dunia dengan produksi lebih dari satu juta lbs teh per tahun, didukung 3.000 pemetik wanita dan anggaran gaji 20 ribu Poundsterling per tahun. Namun kini, kejayaan itu hanya tinggal puing.***
*Dari Berbagai Sumber
Editor: Aab Abdul Malik
(Dul)
