Wartain.com || Di tengah derasnya arus digitalisasi dan perubahan sosial yang cepat, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Sukabumi terus memperkuat perannya sebagai penjaga harmoni dan toleransi antar umat beragama. Forum ini bukan hanya menjadi ruang perjumpaan lintas agama, tetapi juga menjadi garda depan dalam menjawab tantangan zaman, khususnya dalam menjaga nilai-nilai luhur di tengah disrupsi informasi.
Pada Kamis (24/4/2025), FKUB menggelar rapat koordinasi di ruang pertemuan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Sukabumi. Kegiatan ini dihadiri oleh Wakil Wali Kota Sukabumi Bobby Maulana, Kepala Bakesbangpol Yudi Yustiawan, serta para pengurus FKUB yang terdiri dari tokoh lintas agama.
Ketua FKUB Kota Sukabumi, Ade Munhiar, menegaskan bahwa forum ini bukan sekadar simbol toleransi, melainkan hadir sebagai aktor aktif dalam pembangunan sosial. “Kami bukan hanya berdialog antar iman, tapi juga turun ke lapangan, terlibat dalam kegiatan sosial, bahkan ikut mendampingi isu-isu kemanusiaan seperti stunting,” ujarnya.
FKUB juga mulai membuka ruang-ruang informal seperti “ngopi bareng” dan pertemuan rutin untuk menjaga kedekatan antar tokoh agama sekaligus menjangkau lapisan masyarakat yang lebih luas.
Kepala Bakesbangpol, Yudi Yustiawan, menilai FKUB sebagai mitra strategis pemerintah dalam menjaga harmoni sosial. “Kota Sukabumi dikenal sebagai kota toleran, dan itu adalah hasil dari kerja bersama. FKUB memainkan peran penting dalam menjaga itu tetap hidup,” ujarnya. Ia menekankan pentingnya regulasi dan pendekatan kultural untuk memperkuat moderasi beragama.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Bobby Maulana memberikan refleksi kritis terkait kondisi keberagaman di era digital. Ia menyoroti bagaimana generasi muda kini kerap membentuk pemahaman keagamaan melalui media sosial atau podcast, yang tidak selalu berbasis sumber kredibel.
“Di tengah gempuran simbolisme dan konten instan, tugas kita semakin berat. FKUB kini harus ikut menjembatani pemahaman lintas generasi, agar nilai-nilai toleransi dan kebersamaan tetap relevan,” tegas Bobby. Ia menyebut era ini sebagai era paradoks—di mana semangat keagamaan tinggi, namun juga dibayangi oleh maraknya praktik yang bertentangan dengan nilai moral, seperti korupsi.
Bobby juga mengajak FKUB untuk menjadi ruang penguatan nilai-nilai spiritual yang membumi dan kontekstual bagi generasi muda. Ia meyakini, hanya dengan sinergi, pendekatan kolaboratif, dan inovasi nilai, harmoni yang telah lama terbangun di Kota Sukabumi akan mampu menjawab tantangan zaman.
Mengusung semangat IMAN—Inovatif, Mandiri, Agamis, dan Nasionalis—Pemerintah Kota Sukabumi dan FKUB terus memperkuat fondasi keberagaman yang sehat dan konstruktif. Harmoni bukan hanya untuk dipertahankan, tetapi untuk tumbuh dan berkembang bersama zaman.***(RAF)
Editor : Aab Abdul Malik
