26.7 C
Jakarta
Selasa, November 3, 2026

Latest Posts

Aliansi Mahasiswa Merdeka Se-Jabar Gelar Diskusi “Indonesia Revolution 2045” di Bandung

Wartain.com – Mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Merdeka (AMM) Jawa Barat dari berbagai daerah, seperti dari Cianjur, Sukabumi, Bandung, Garut, Purwakarta dan Ciamis, menggelar Diskusi dengan Tema “Indonesia Revolution: Dismantling Inequality, Building Sovereignty, and Claiming Future of 2045″, bertempat di Komplek Dr. Curie No. 1, Kota Bandung, Senin (02/11/2026).

Hadir pada kesempatan tersebut Ketua PWI Jawa Barat, Tantan Sulthon Bukhawan, Presidium MW KAHMI Jabar, Husni Mubaroq, Tokoh Budayawan Sunda, A. Ginajar Akil, sejumlah tokoh aktivis ’98, Perwakilan PLN UIP Jawa Bagian Tengah, MSB Perizinan & Komunikasi, Elga Bagus Sulaksmono, serta tamu undangan lainnya.

Koordinator AMM, Taupik Muhammad Ramdhan mengatakan sejarah selalu mencatat anak muda selalu berkumpul untuk meraih sebuah kemerdekaan mulai zaman penjajah, pra kemerdekaan dan zaman kemerdekaan. Ini merupakan peluang dan tantangan bagi generasi anak muda sekarang untuk melakukan perubahan.

“Hal demikian menjadi pondasi untuk menghasilkan ide dan gagasan untuk meraih harapan Indonesia Emas 2045,” ucapnya.

Aam Abdul Salam, Aktivis 98 mengatakan, diskusi merupakan langkah awal melakukan sebuah perubahan yang diawali dengan pergerakan literasi seperti ini.

“Kekuatan reformasi adalah konsolidasi, biar tidak dibajak oleh kekuatan anti demokrasi. Sebagai kekuatan aktor demokrasi kita harus memiliki kapasitas ide dan gagasan,” ungkap Aam.

Di era demokrasi yang sangat terbuka, kita harus mampu merumuskan gagasan dan konsep yang berkualitas untuk mengkritisi kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada kepentingan masyarakat.

“Banyak sekali problem-problem yang dihadapi masyarakat, maka kita sebagai agen perubahan harus mampu hadir memberikan pencerahan untuk mengawal program dan kebijakan pemerintah dan agenda kerakyatan,” tambahnya.

Aam menyebut, masyarakat bisa membuka akses program yang telah digulirkan oleh pemerintah. Peran mahasiswa sebagai kontrol sosial harus mampu memberikan warna yang berbeda, sehingga benar-benar program tersebut bisa diserap oleh masyarakat. Ruang kosong inilah yang harus diambil perannya oleh mahasiswa dalam mengawasi kebijakan pemerintah tersebut.

“Sebagai kelompok kaum intelektual organik, kita harus menjadi katalisator untuk melakukan konsolidasi dan sinergi dalam membawa perubahan, bagaimana bangsa ke depan,” sebut Aam.

Sementara itu, Tantan Sulthon Bukhawan, Ketua PWI Jabar mengatakan, pondasi dasar cara merawat demokrasi berawal dari diskusi untuk menumbuhkan budaya literasi. Dari diskusi ini akan melahirkan sebuah ide yang brilian.

Bonus demografi kita harus dikelola dengan baik oleh generasi muda sekarang. Bangsa Indonesia sangat membutuhkan kehadiran kita untuk mencapai keemasan Indonesia.

Aliansi Mahasiswa Merdeka Se-Jabar Gelar Diskusi “Indonesia Revolution 2045” di Bandung (Foto: Yosep)

“Dari kacamata pers, demokrasi itu bukan hanya sekedar mencapai tahta di legislatif maupun eksekutif. Tapi kita harus berperan memberikan edukasi dan pemberian informasi yang faktual dan objektif. Sehingga marwah demokrasi sesuai dengan tujuannya,” kata Tantan.

Tantan melanjutkan, pemberian informasi yang benar akan berpengaruh kepada iklim demokrasi yang sehat.

“Anak muda atau mahasiswa sebagai agen sosial harus mampu menangkap peluang pemberian edukasi pentingnya demokrasi untuk menghindari informasi yang hoaks.l,” lanjut Tantan.

Kelayakan informasi yang diperoleh harus terkonfirmasi dan di klarifikasi terlebih dahulu. Pers memiliki peran penting dalam menumbuhkan demokrasi. Kepercayaan publik terhadap informasi yang diterima harus bersih dari segala intervensi demi kepentingan masyarakat yang lebih luas. Karena informasi yang bersih akan menyelamatkan demokrasi kita.

Untuk itu, mahasiswa sebagai kaum intelektual harus mengisi proses demokrasi dengan menambah wawasan untuk meningkatkan daya kritisnya. Caranya dengan selalu mengisi stimulus literasi kita baik dengan membaca maupun dengan menulis. Inilah bentuk ikhtiar dalam cara menyampaikan kritik atau gagasan.

“Dari sinilah kemerdekaan dan kebebasan akan muncul sejalan dengan tumbuhnya gerakan literasi yang akan membawa dampak positif bagi tumbuhnya demokrasi,” tutup Tantan.

Pembicara lainnya, perwakilan PLN UIP Jawa Bagian Tengah, MSB Perizinan & Komunikasi, Elga Bagus Sulaksmono mengatakan, Indonesia Emas merupakan salah satu faktor yang harus didukung oleh PLN dalam mencapai kemandirian energi.

“Undang-undang mengamanatkan semua masyarakat Indonesia harus menikmati energi listrik tanpa terkecuali. Kemandirian energi menjadi penting, karena ini menjadi kebutuhan primer,” ungkapnya.

Bagus menegaskan, yang paling penting semua elemen harus mampu memberdayakan semua potensi untuk menghasilkan energi baru yang terbarukan.

“Tugas kita semua termasuk mahasiswa dan anak-anak muda mengawal ketahanan energi agar semua masyarakat bisa menikmati. Selain menikmati masyarakat juga harus bersama-sama merawatnya,” tegas Bagus.

Bagus menjelaskan, potensi demografis yang dianugerahi Tuhan dengan kekayaan alam yang luar biasa, harus benar-benar bisa dimanfaatkan dengan maksimal. Oleh karena itu support dan dukungan dari semua elemen harus dimaksimalkan.

“Proyeksi ke depan 3,5-4% pertumbuhan listrik harus tercapai. Khusus di Jawa Barat dengan program “Jabar Caang”, harus tercapai secepatnya. Walaupun tahapannya tidak instan, tapi PLN terus berupaya untuk memenuhi kebutuhan listrik warga,” jelasnya.

“PLN membangun jaringan listrik dibutuhkan proses dan investasi jangka panjang. Semua itu demi memenuhi kebutuhan energi masyarakat,” pungkasnya.***

Editor: Aab Abdul Malik

(Dul)

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.