Wartain.com || Pasca lebaran beberapa komoditas pangan berangsur naik. Bawang merah adalah salah satu komoditas pangan yang mengalami kenaikan signifikan.
Berdasarkan pantauan, di Pasar Pangleseran, Desa Kertaraharja, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi saat ini harga bawang merah meroket hingga Rp60 ribu per kilogram dari sebelumnya harga jual berkisar antara Rp35-Rp 40 ribu.
Redi (42) salah satu pedagang menuturkan, kenaikan harga bawang di sebabkan karena pasokan di pasar induk mulai menipis.
“Bawang merah sekarang naiknya pesat, dari awalnya Rp40 ribu (per kilo gram) sekarang jadi Rp60 ribu. Saking tingginya saya juga masih belum berani untuk restock lagi meskipun barang sudah mulai habis,” ujarnya saat dihubungi Wartain.com, Senin 22/4/2024.
Redi berharap adanya langkah dari pemerintah terkait untuk menstabilkan harga bawang.
Kenaikan harga bawang juga membuat konsumen keberatan. Leti (42) salah satu konsumen yang juga pemilik rumah makan menuturkan, kenaikan bawang merah sangat terasa baginya, terlebih dirinya harus memutar otak agar harga jual masakannya tidak ikut naik.
“Cukup pusing karena bawang (merah) sekarang mahal banget. Saya sebagai penjual masakan dampaknya kerasa banget, apalagi saya gak mungkin buat naikin harga (masakan),” ujarnya.
Dikutip dari Detikcom, kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi menyebut, kenaikan bawang merah diduga disebabkan akibat para pedagang di pasar belum kembali dari mudik 2024.
Hal itu membuat stok atau pasokan bawang merah akhirnya menipis. Sebab, para pedagang yang belum kembali dari kampung halaman itu merupakan sumber pasokan bagi pengecer kecil.
Padahal permintaan barang merah pasca Idul Fitri 1445 H kembali meningkat.
“Khusus Lebaran, memang sebagian pedagang libur untuk kembali ke daerah asal, bersilaturahmi. Termasuk di Pasar Induk (belum kembali dari mudik),” ucapnya pada Minggu 21/4/2024
Arief menyebut di lain sisi para petani sedikit menahan panennya. Ia mengklaim aksi ini berkaitan dengan belum kembalinya para pedagang.
“Bila panen tetap dikerjakan harusnya harga malah jatuh karena tidak ada pembeli. Khusus produk hortikultura akan sangat volatile karena serapannya harian,” pungkas Arief.***(RAF)
Foto: Wartain.com/Raka A. Firmansyah
