Wartain.com || Media sosial kerap dianggap menjadi salah satu faktor yang meningkatkan masalah kesehatan mental di kalangan remaja. Namun, riset terbaru menunjukkan, kualitas persahabatan lebih menentukan kesehatan mental remaja, lepas dari seberapa banyak waktu yang dihabiskan di media sosial.
Krisis kesehatan mental menghantui anak-anak dan remaja. Laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan, secara global, satu dari tujuh anak usia 10-19 tahun mengalami gangguan jiwa, terhitung 13 persen dari beban global penyakit pada kelompok usia ini.
Depresi, kecemasan, dan gangguan perilaku adalah salah satu penyebab utama penyakit dan kecacatan di kalangan remaja. Bunuh diri adalah penyebab utama kematian keempat pada kelompok usia 15-29 tahun.
Tingginya masalah kesehatan mental di kalangan remaja juga dilaporkan di Indonesia. Menurut Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey 2022, sebanyak 15,5 juta (34,9 persen) remaja mengalami masalah mental dan 2,45 juta (5,5 persen) remaja mengalami gangguan mental. Dari jumlah itu, baru 2,6 persen yang mengakses layanan konseling, baik emosi maupun perilaku.
Ada sejumlah riset yang mengaitkan krisis kesehatan mental ini dengan tren penggunaan medsos yang juga meningkat di kalangan anak dan remaja. Pada tahun 2023, dokter di Amerika Serikat, Vivek Murthy, merilis sebuah laporan tentang ”Social Media and Youth Mental Health”, yang menyebutkan ada bukti yang berkembang bahwa media sosial membahayakan kesehatan mental kaum muda.
Murthy menjelaskan, penggunaan media sosial remaja yang berat dan tingkat depresi dan kecemasan yang lebih tinggi sepertinya saling terkait. Tidak diragukan lagi bahwa kesehatan mental remaja telah merosot tajam sejak diperkenalkannya telepon pintar dan munculnya media sosial dalam satu dekade terakhir.
Platform digital tersebut merancang algoritma untuk membuat orang tetap berada di situs mereka, karena semakin banyak klik berarti semakin banyak pendapatan iklan. Namun, sebagian ahli mempertanyakan apakah ini sekadar korelasi atau hubungan sebab akibat.
Studi dari tim peneliti Universitas Curtin yang diterbitkan di Social Science & Medicine pada November 2024 menantang persepsi bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan memiliki dampak yang signifikan terhadap kesehatan mental, dengan menemukan sedikit atau tidak ada hubungan di antara keduanya.
Studi yang berjudul ”Menyelidiki Hubungan antara Penggunaan Media Sosial yang Obyektif, Kontrol Perhatian, dan Tekanan Psikologis” itu tidak hanya menunjukkan jumlah waktu yang dihabiskan di media sosial memiliki efek yang dapat diabaikan pada indikator kesehatan mental seperti depresi, kecemasan, dan stres, tetapi juga menunjukkan bahwa hasilnya tidak selalu negatif.
Pimpinan studi, Chloe Jones, mengatakan, penting untuk menekankan bahwa temuan tersebut tidak menunjukkan bahwa penggunaan media sosial tidak berbahaya atau tidak berdampak pada kesehatan mental. Namun, hubungan di antara keduanya kemungkinan memiliki banyak lapisan yang kompleks.
Ketika Anda mengukur waktu yang dihabiskan di media sosial secara obyektif, dampaknya sangat kecil atau bahkan tidak ada.
Sementara sebagian besar penelitian sebelumnya tentang penggunaan media sosial mengandalkan estimasi yang dilaporkan sendiri oleh para peserta, Jones dan tim mengumpulkan data ponsel dari lebih dari 400 orang yang berusia 17-53 tahun. Peneliti mengukur secara akurat berapa banyak waktu yang responden habiskan di media sosial dalam seminggu terakhir.
Tim kemudian membandingkan data penggunaan dengan tingkat depresi, kecemasan, stres, dan kontrol perhatian para peserta. Mereka menemukan bahwa penggunaan media sosial sangat lemah kaitannya dengan kecemasan dan tidak terkait dengan depresi atau stres.
Akun sosial blogger kecantikan saat ini menjadi salah satu acuan remaja putri dalam berpenampilan. Media sosial dinilai dapat memengaruhi kepercayaan diri remaja saat ini.
Ditemukan juga bahwa penggunaan media sosial memiliki hubungan positif yang lemah dengan kontrol perhatian. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan penggunaan media sosial dikaitkan dengan kinerja yang sedikit lebih baik dalam mempertahankan perhatian.
”Jika kita akan membuat keputusan yang tepat dalam bidang ini, keputusan tersebut harus didasarkan pada data yang berkualitas. Penelitian kami menunjukkan bahwa ketika Anda mengukur waktu yang dihabiskan di media sosial secara obyektif, dampaknya sangat kecil atau bahkan tidak ada,” kata Jones.
Makna persahabatan bagi remaja
Penelitian terbaru di Journal of Adolescent Health pada Maret 2025 ini memperjelas relasi antara kesehatan mental, media sosial, dan kualitas persahabatan. ”Penggunaan media sosial tidak terjadi begitu saja, itu adalah satu bagian dari gambaran yang jauh lebih besar,” kata Courtney K Blackwell dari Sekolah Kedokteran Feinberg Universitas Northwestern, penulis laporan ini.
Studi yang dilakukannya menemukan bahwa hubungan dengan teman sebaya tampaknya jauh lebih penting daripada media sosial dalam hal hasil kesehatan mental remaja. Menurut kajian Blackwell, remaja yang melaporkan persahabatan yang kuat dan berkualitas tinggi cenderung memiliki kesehatan mental yang lebih baik. Pengaruh ini hampir tiga kali lebih kuat daripada hubungan antara penggunaan media sosial dan tantangan kesehatan mental.
Ida Ayu Riski Susilawati (kedua dari kiri) melayani teman-temannya yang membeli cilok buatannya di depan bangunan kelas SMK Bhakti Karya, Karanganyar, Jawa Tengah, Jumat (26/10/2018). Sebelum berjualan cilok dengan menggunakan sepeda sejak setahun terakhir, siswi tersebut mencari nafkah dengan menjual jasa memperbaiki sepatu secara berkeliling dan menjadi juru parkir demi mendapatkan uang untuk biaya sekolah dirinya serta adiknya. Pihak sekolah serta pemerintah setempat mengapresiasi usaha Ida karena mampu memberi inspirasi kepada remaja lainnya.
Dalam penelitian tersebut, para peneliti menemukan bahwa remaja dengan persahabatan yang kuat dan saling mendukung cenderung memiliki kesehatan mental yang positif, terlepas dari berapa banyak waktu yang mereka habiskan di media sosial. Sebaliknya, remaja yang melaporkan persahabatan yang buruk dan tingkat penggunaan media sosial yang hampir sama cenderung melaporkan kesehatan mental yang buruk.
Sebagai perbandingan, jumlah waktu yang dihabiskan untuk menggunakan media sosial memiliki pengaruh yang jauh lebih kecil pada hasil kesehatan mental remaja. Remaja berusia 13-18 tahun melaporkan berapa banyak waktu yang mereka habiskan di media sosial dan apakah mereka menggunakannya secara aktif (seperti memposting dan berkomentar) atau secara pasif (seperti menggulir dan menjelajah).
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa remaja yang menghabiskan lebih banyak waktu di media sosial sedikit lebih mungkin memiliki kesehatan mental yang buruk dan sedikit lebih kecil kemungkinannya memiliki kesehatan mental yang positif, meskipun besarnya hubungan tersebut kecil. Rata-rata, remaja menghabiskan 3,52 jam per hari di media sosial, mencerminkan rata-rata nasional di AS yang dikumpulkan selama periode penelitian, tetapi lebih rendah dari perkiraan terbaru sebesar 4,8 jam per hari.
Temuan tersebut sejalan dengan studi kohort besar dan representatif nasional lainnya yang menunjukkan bahwa remaja yang menghabiskan 3-4 jam per hari di media sosial memiliki risiko yang sedikit lebih tinggi untuk menginternalisasi dan mengeksternalisasi masalah. Hasil yang sebanding diidentifikasi untuk posting, tetapi tidak untuk browsing meskipun kekuatan asosiasinya bahkan lebih kecil.
Hubungan yang lemah antara faktor media sosial dan kesehatan mental menunjukkan mekanisme alternatif mungkin lebih penting untuk mengatasi krisis kesehatan mental remaja saat ini. Salah satu faktor tersebut mungkin adalah hubungan sebaya karena keduanya memiliki hubungan terkuat dengan kesehatan mental.
Hasil riset menunjukkan bahwa kualitas hubungan dengan teman sebaya memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap kesehatan mental daripada indikator media sosial. Temuan ini penting mengingat penelitian terkini, kebijakan, dan pers populer yang berfokus pada ”kerugian psikologis” media sosial tanpa mengontekstualisasikan penggunaan media sosial dalam ekosistem remaja yang lebih luas.
Para peneliti menggunakan alat penilaian PROMIS dan Kuesioner Kekuatan dan Kesulitan (Strengths and Difficulties Questionnaire) untuk mengukur kesejahteraan mental mereka, termasuk kepuasan hidup, rasa memiliki tujuan, gejala depresi, dan kualitas persahabatan mereka.
Survei nasional tahun 2021 terhadap siswa kelas 8 dan 10, yang dikutip dalam laporan Dokter Umum Amerika Serikat tentang media sosial dan kesehatan mental remaja, menemukan bahwa remaja menghabiskan rata-rata 3,5 jam setiap hari di media sosial. Baru-baru ini, survei Gallup tahun 2023 terhadap remaja berusia 13-19 tahun melaporkan bahwa rata-rata telah meningkat menjadi 4,8 jam per hari.
Anak-anak hingga remaja bermain seluncuran di atas air Bendungan Pleret, Kanal Banjir Barat, Kota Semarang, Jawa Tengah, Minggu (14/7/2024). Sepekan ini area bendungan dipenuhi warga yang turut bermain dan melihat setelah viral di media sosial. Ketika musim kemarau tiba dan debit air menurun biasanya kawasan tersebut sejak lama menjadi area bermain seluncuran bagi anak-anak sekitar.
Penelitian ini melibatkan 963 remaja berusia 13-18 tahun dari seluruh Amerika Serikat. Remaja menyelesaikan survei tentang kebiasaan media sosial, kualitas hubungan dengan teman sebaya, dan hasil kesehatan mental. Hasilnya memberikan wawasan tentang bagaimana penggunaan media sosial dan kesehatan mental saling memengaruhi selama masa remaja, melampaui hasil negatif seperti kecemasan dan depresi hingga juga mencakup indikator kesehatan mental yang positif.
Studi ini menyimpulkan bahwa penggunaan media sosial, dalam konteks hubungan dengan teman sebaya, tidak terlalu terkait dengan kesehatan mental remaja. ”Daripada hanya berfokus pada pembatasan penggunaan media sosial oleh remaja, mungkin menekankan cara untuk meningkatkan kualitas hubungan sosial mereka akan membantu mengatasi krisis kesehatan mental remaja saat ini,” kata Blackwell.
Sekalipun relasi langsung media sosial dengan kesehatan mental remaja memang tidak terlihat dalam beberapa studi terbaru, penggunaan media sosial yang berlebihan bisa menyita sebagian besar waktu luang remaja yang seharusnya dapat digunakan untuk berinteraksi dengan teman-teman secara berkualitas.***
Penulis : Ahmad Rifai
Foto : Ilustrasi
Editor : Aab Abdul Malik
