Wartain.com, Sukabumi || Bekerja diluar negeri tidak selamanya bisa memberi kebahagiaan, hal itu yang di rasakan oleh Eti (46), seorang mantan Pekerja Migran Indonesia (PMI) atau yang sering disebut Purna PMI.
Wanita asal Desa Bojong, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi ini telah bekerja selama 17 tahun di Arab Saudi, dan sekitar di tahun 2014 ia pulang ke Tanah Air dengan segenap mimpi yang di rangkai di Timur Tengah.
Dengan berbekal tabungan hasil ia bekerja di Arab Saudi, Eti dibantu suaminya membuat sebuah usaha di bidang pangan dengan memproduksi tahu sayur atau tahu pong.
“Jadi saya sebelumnya PMI selama 17 tahun di Arab Saudi, dan saya merasa sudah jenuh ingin pulang ke kampung halaman sendiri. Alhamdulillah ada uang tabungan hasil kerja disana saya dibantu suami beranikan diri bikin usaha memproduksi tahu sayur atau tahu pong, karena setelah pulang saya gak mau kembali lagi kesana jadi saya coba merintis usaha” kata Eti kepada Wartain.com.
Setelah kepulangannya ke Indonesia, ia sempat beberapa kali mengikuti pelatihan wirausaha, karena ia merasa belum banyak ilmu yang ia punya.
“Sebelumnya saya pernah ikut dulu pelatihan wira usaha kurang lebih 3 kalian, karena saya merasa masih perlu belajar banyak hal, terutama masalah manajemen,” katanya.
Eti berharap langkahnya untuk membuat usaha bisa diikuti oleh Purna PMI yang lain, sehingga tidak ada hasrat untuk kembali bekerja di luar negeri.
“Saya harap Purna PMI yang lain juga bisa berani untuk buka usaha sendiri di Indonesia, biar gaada kepengen untuk balik lagi ke luar negeri, karen mau bagaimana pun lebih enak di negeri sendiri,” harapnya.

Di tempat yang sama, Uci (54) suami dari eti sebelumnya pernah menjadi pedagang tahu di Jakarta selama belasan tahun, sampai akhirnya ia bersama istrinya membangun bisnis sendiri.
“Kalau saya karena dulu pernah belasa tahun di Jakarta jualan tahu, jadi pengalaman itu saya pakai untuk usaha ini bareng- bareng sama istri saya,” ucap Uci.
Usaha yang dibangun bersama istrinya sejak 2015 sempat menemui ujian, terlebih saat pandemi Covid-19 melanda. Untuk saat ini kedala yang ia hadapi tidak terlepas dari musim kemarau panjang.
“Pas Covid itu terus terang usaha kita mulai menurun karena bahan bakunya atau kacang kedelainya harga naik pesat, sementara daya beli masyarakat turun, jadi waktu covid itu saya lumayan jatuh lah istilahnya, tapi pelan- pelan setelah covid mulai reda dan harga bahan baku normal lagi saya terus mulai sampai sekarang Alhamdulillah sudah jalan delapan tahun,” tuturnya.
“Sekarang juga sebernya kita juga ada kendala, karena musim kemarau ya air susah sementara untuk produksi kan kita lumayan butuh banyak air juga dan itu ngaruh juga ke ketersediaan bahan baku,” tambahnya.

Setelah delapan tahun bisnisnya berjalan, Uci dapat menghidupi keluarganya, dengan omset harian mencapai Rp. 2 juta. Bahkan tidak hanya tahu mentah, ia kini juga memproduksi tahu goreng, dengan bahan baku kacang kedelai yang ia habiskan rata- rata sebanyak 120 kilogram perhari.
“Alhamdulillah dari bisnis ini cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga, dengan omset kotor rata- rata itu di Rp. 2 juta perhari, jadikan selain dari tahu mentah kita juga bikin tahu gorengnya, Alhamdulillah perhari kita bisa abisin 120 kilogram kacang kedelai dan hasilnya jadi 1.200 tahun baik itu yang mentah dan yang goreng” tururnya.
Uci menjual hasil produksinya ke pasar-pasar terdekat yang ada di daerahnya, selain itu banyak juga pedagang sayuran keliling yang sudah menjadi pelanggammya, bahkan sesekali ada permintaan dari beberapa rumah makan.
“Untuk saat ini pemasaran kita sebar ke toko- toko yang di pasar salah satunya pasar Pangleseran, terus ada juga pedagang sayuran keliling yang ambil (tahu) dari sini, kadang juga kita masukin ke beberapa rumah makan sesuai permintaan mereka,” tangkasnya.***
Foto: Wartain.com/Raika Putra Damara
Reporter: Ikhlasul A. Fauzan/Ujang Kamaludin
Editor: Raka A. Firmansyah
