26.7 C
Jakarta
Minggu, Maret 8, 2026

Latest Posts

Biarawati Jual Takjil Saat Ramadan, Simbol Toleransi Menghangatkan Ramadan di Kota Sukabumi

Wartain.com || Suasana menjelang azan maghrib di Jalan Rumah Sakit, Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi, tampak sedikit berbeda pada Ramadan tahun ini. Di depan halaman Kongregasi Suster Fransiskan Sukabumi, dua biarawati berdiri ramah melayani warga yang membeli aneka takjil untuk berbuka puasa.

Lapak sederhana itu menjajakan beragam menu khas Ramadan, mulai dari gorengan, kolak, bubur sumsum hingga es buah segar. Para pengguna jalan yang melintas tampak singgah sejenak, memilih hidangan, lalu melanjutkan perjalanan dengan kantong plastik berisi takjil di tangan.

Obet (47), warga Kecamatan Baros, mengaku sengaja mampir untuk membeli menu berbuka bagi keluarganya. Ia menilai harga yang ditawarkan cukup terjangkau.

“Baru sekali beli Ramadan ini, tapi tahun-tahun sebelumnya juga pernah. Harganya murah, Rp5.000 saja. Saya beli dua untuk buka puasa bersama keluarga,” ujarnya, Minggu (1/3/2026).

Bagi Obet, kehadiran para suster yang berjualan takjil bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan simbol kebersamaan di tengah perbedaan keyakinan. Ia melihatnya sebagai wujud nyata toleransi yang tumbuh alami di tengah masyarakat.

“Kita memang beda agama, tapi tetap saling menghargai. Apalagi di bulan Ramadan, toleransi harus semakin kuat. Tidak perlu saling curiga,” katanya.

Sementara itu, Suster Maria Anastasia menuturkan bahwa kegiatan ini bermula dari usulan karyawan yang beragama Islam. Sejak 2024, para suster mulai rutin berpartisipasi dengan menjual takjil setiap Ramadan sebagai bentuk kebersamaan.

“Ide awalnya dari karyawan kami yang Muslim. Kami bekerja bersama mereka, jadi ingin ikut ambil bagian dalam momen Ramadan ini,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, sebelum menentukan menu, mereka terlebih dahulu bertanya kepada karyawan mengenai hidangan yang umum disajikan saat berbuka. Dari situlah muncul pilihan es buah, kolak, bubur sumsum, serta makanan ringan lainnya. Para karyawan pun turut membantu proses persiapannya.

Dalam sehari, takjil yang diproduksi tidak terlalu banyak, sekitar maksimal 15 porsi dengan lima jenis menu berbeda. Jika masih ada sisa, makanan tersebut dibagikan kepada para karyawan.

“Kami buat secukupnya saja. Kalau ada kegiatan mendadak tentu tidak berjualan, tapi selama masih ada waktu, kami usahakan tetap ikut berpartisipasi. Sudah berjalan sekitar dua sampai tiga tahun,” jelasnya.

Menurut Suster Maria, respons masyarakat sejauh ini sangat positif. Menjelang waktu berbuka, warga terlihat antusias membeli tanpa memandang latar belakang para penjualnya.

“Mereka tetap membeli, menyapa dengan ramah. Kami merasa senang karena ada komunikasi yang hangat,” tuturnya.

Ia juga menambahkan, umat Katolik saat ini tengah menjalani masa puasa menjelang Paskah. Meski tata cara dan waktunya berbeda, ia menilai semangat pengendalian diri dan refleksi spiritual menjadi nilai yang sama.

“Kita sama-sama berpuasa, saling mendukung meskipun caranya berbeda. Itu salah satu wujud toleransi,” katanya.

Pemandangan sederhana di tepi jalan itu pun menjadi gambaran kecil tentang harmoni di Kota Sukabumi. Di tengah kesibukan jelang berbuka, semangkuk kolak dan segelas es buah dari tangan para suster menghadirkan pesan yang lebih dalam: kebersamaan dapat tumbuh dari hal-hal paling sederhana.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.