26.7 C
Jakarta
Selasa, Juni 9, 2026

Latest Posts

Cuaca Ekstrem Picu Serangan Patek, Panen Cabai Petani Kebonpedes Sukabumi Anjlok di Tengah Harga Tinggi

Wartain.com || Harapan petani cabai di Desa Kebonpedes, Kecamatan Kebonpedes, untuk menikmati lonjakan harga di awal 2026 harus pupus. Tingginya curah hujan, khususnya yang turun hampir setiap malam, memicu serangan hama patek atau antraknosa yang menyerang tanaman secara meluas.

Kepala Desa Kebonpedes, Dadan Apriandani, mengungkapkan bahwa kondisi cuaca yang tidak menentu berdampak besar terhadap hasil pertanian warga. Serangan jamur tidak hanya merusak buah cabai, tetapi juga memengaruhi kesehatan tanaman secara keseluruhan.

“Intensitas hujan sangat tinggi, terutama malam hari. Hama yang dominan itu patek atau antraknosa. Batang jadi busuk, daun menguning, dan buah muncul bercak hitam lalu membusuk,” ujar Dadan, Rabu (10/2/2026).

Situasi ini semakin disayangkan karena terjadi saat harga cabai tengah berada di level menguntungkan. Untuk cabai merah keriting (CMK) varietas ori, harga di tingkat petani mencapai Rp55.000 per kilogram. Di pasaran, harganya bahkan menyentuh Rp80.000 hingga Rp90.000 per kilogram.

“Beberapa waktu lalu harga sempat Rp45.000, lalu naik lagi di kisaran Rp65.000 sampai Rp70.000 di tingkat pengepul. Tapi karena patek menyerang, banyak petani tidak bisa menikmati harga bagus itu karena gagal panen,” tuturnya.

Melalui Program Ketahanan Pangan yang dijalankan bersama BUMDes Amanah, pemerintah desa sebenarnya telah menanam cabai di lahan seluas kurang lebih 5.000 meter persegi atau sekitar setengah hektare. Selain cabai, lahan tersebut juga ditanami kubis dan jagung sebagai komoditas pendukung.

Namun dari total lahan cabai yang digarap, produktivitasnya menurun drastis. Dadan memperkirakan sekitar 40 persen tanaman terdampak cukup parah akibat cuaca ekstrem dan serangan patek.

“Yang masih bisa diselamatkan sekitar 60 persen. Sisanya terdampak, bahkan ada yang gagal panen,” jelasnya.

Berbagai upaya penyelamatan pun dilakukan agar kerugian tidak semakin besar. Pemerintah desa bersama petani melakukan penyemprotan fungisida secara rutin guna menekan penyebaran jamur.

Selain itu, dilakukan sanitasi lahan dengan membersihkan sisa tanaman terinfeksi, serta penyortiran buah yang telah menunjukkan gejala bercak hitam agar tidak menular ke buah sehat.

Petani juga melakukan pengocoran, yakni pemberian nutrisi tambahan melalui akar untuk meningkatkan daya tahan tanaman.

“Kami fokus membersihkan buah yang terkena bercak hitam supaya tidak menyebar. Yang sakit dibuang. Kami ingin program ketahanan pangan tetap berjalan meskipun cuaca sedang tidak bersahabat,” pungkas Dadan.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.