Wartain.com – Museum Tionghoa Soekaboemi mengangkat kembali jejak pers peranakan yang nyaris terlupakan. Sebuah koran kecil dari Sukabumi, bernama LI PO, tercatat sebagai salah satu pelopor pers Tionghoa peranakan di Jawa.
Li Po adalah surat kabar berbahasa Melayu yang terbit di Sukabumi pada awal abad ke-20. Koran ini hadir sebagai sarana pendidikan, penyebaran nilai moral, pemikiran masyarakat, serta pembaruan adat-istiadat.
Fakta Penting Li Po:
Terbit pertama kali pada 12 Januari 1901 dan terbit terakhir pada 1907 – bertahan sekitar 6 tahun dengan frekuensi terbit mingguan.
Koran ini dicetak oleh Soekaboomische Snelpersdrukkerij, percetakan yang telah beroperasi di Sukabumi sejak 1899. Percetakan ini tidak hanya mencetak Li Po, tetapi juga berbagai bahan cetakan lain untuk masyarakat, usaha, dan pemerintahan. Ini menunjukkan bahwa Sukabumi telah memiliki infrastruktur percetakan modern pada masa itu.
Tiga Tokoh di Balik Li Po:
– Tan Ging Tiong – Salah satu pendiri, penggerak dan penyunting Li Po
– Yoe Tjai Siang – Redaktur Li Po
– Lauw Tjng Bie – Pemilik / Pengelola Soekaboomische Snelpersdrukkerij Sukabumi
Garis Waktu Penting:
– 1899: Soekaboomische Snelpersdrukkerij telah beroperasi di Sukabumi.
– 12 Januari 1901: Li Po terbit pertama kali di Sukabumi.
– 1901-1907: Terbit mingguan selama sekitar 6 tahun.
– 1900: Tiong Hoa Hwee Koan (THHK) berdiri di Batavia. Li Po memiliki hubungan erat dengan THHK, berperan dalam menyebarkan gagasan pendidikan dan pembaruan masyarakat Tionghoa. Memuat tulisan tokoh-tokoh THHK seperti Phoa Keng Hek dan Khoe Siauw Eng.
– 1910: Sin Po berdiri di Batavia, melanjutkan gelombang pers Tionghoa di Indonesia.
Isi dan Tema Utama Li Po:
– Ajaran moral dan budi pekerti (“Li” – tata susila)
– Pemikiran filsuf Tiongkok seperti Konfusius
– Pendidikan dan pembaruan adat-istiadat
– Surat pembaca dan isu sosial
– Informasi masyarakat Tionghoa di Hindia Belanda
Nilai Sejarah:
Li Po menjadi bukti bahwa Sukabumi memiliki peran penting dalam sejarah pers Indonesia. Sebagai salah satu pelopor pers Tionghoa peranakan di Jawa, ia menjadi sarana pendidikan, pemikiran, dan pembentukan identitas masyarakat Tionghoa, serta menempatkan Sukabumi dalam peta sejarah pers Indonesia.
“Sebuah koran kecil dari Sukabumi, dengan gagasan besar untuk masyarakat.”(***)
Sumber : Museum Tionghoa Soekaboemi
Editor: Aab Abdul Malik
(SRM)
