26.7 C
Jakarta
Kamis, Juni 25, 2026

Latest Posts

Di Balik Tradisi Larung: Cisolok Rayakan Hari Nelayan ke-29 Sambil Menagih Janji Dermaga

Wartain.com – Ombak dan doa kembali menyatu di Pantai Cisolok. Perayaan Hari Nelayan ke-29 digelar meriah dengan larung sesajen. Tapi di sela syukur, para punggawa laut melontarkan keluh yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya: dermaga belum tuntas.

Ketua Fraksi PKS DPRD Kabupaten Sukabumi Leni Liawati hadir menyapa langsung. Ia tak menutup mata. Isu dermaga Cisolok, katanya, selalu muncul setiap kali nelayan berkumpul. Sayangnya, fisik bangunannya masih mangkrak.

Dampaknya nyata di lapangan. Tanpa dermaga, kapal nelayan tak punya tempat sandar aman. Banyak yang memilih merapat ke Pelabuhan Ratu atau menyeberang sampai Banten. Jarak jauh itu artinya BBM lebih boros dan risiko lebih besar.

“Mereka tidak bisa bersandar dengan nyaman di sini. Otomatis biaya BBM lebih besar dan jauh dari keluarga,” kata Leni. Pulang melaut jadi lebih larut, sementara keluarga menunggu di rumah.

Tekanan tak berhenti di dermaga. Leni menyorot hasil laut yang kian menipis. Ikan tangkapan makin sulit didapat. Di tengah situasi itu, baby lobster muncul sebagai harapan ekonomi baru bagi warga pesisir.

Masalahnya, penangkapan benih lobster masih dilarang. “Padahal kalau diambil untuk dibudidayakan, nilainya bisa lebih besar dan membantu meningkatkan taraf ekonomi keluarga nelayan,” ujar Leni. Larangan itu membuat peluang usaha tertutup.

Kewenangan ada di pusat. DPRD Sukabumi, menurut Leni, hanya bisa mendorong agar pemerintah pusat meninjau ulang kebijakan. Jika dilegalkan, daerah siap menindaklanjuti lewat perda atau perbup. “Kita tidak boleh membuat aturan yang bertentangan dengan aturan di atasnya,” tegasnya.

Potret ekonomi nelayan hari ini disebutnya memprihatinkan. Biaya solar melaut naik, hasil laut tak menentu, tempat sandar pun tak ada. “Bahkan ada yang tidak kebeli beras, susu dan kebutuhan lainnya,” ungkapnya lirih.

Leni juga menyentil soal perlindungan. Melaut itu kerja berisiko. Kecelakaan, cuaca ekstrem, dan sakit bisa datang kapan saja. Karena itu BPJS Ketenagakerjaan harus jadi tameng wajib bagi nelayan.

Sosialisasi sudah ada, tapi nelayan butuh “dijemput”. Leni mengusulkan ada koordinator atau pemilik kapal yang aktif mendaftarkan anak buahnya secara kolektif. Sistem iuran kolektif dinilai lebih ringan dan praktis.

Bagi Leni yang besar dari keluarga nelayan, semangat para punggawa laut layak diapresiasi. Setiap subuh mereka berangkat tanpa kepastian hasil, tapi tetap kembali ke laut keesokan harinya.

“Mereka adalah pahlawan gizi. Spirit seperti itu luar biasa dan harus kita jaga bersama,” pungkasnya.

Hari Nelayan ke-29 Cisolok pun menutup dengan satu pesan: tradisi boleh jalan, tapi janji untuk dermaga dan kesejahteraan nelayan jangan berhenti di upacara.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.