26.7 C
Jakarta
Sabtu, Agustus 15, 2026

Latest Posts

Dinkes Kota Sukabumi Selidiki Dugaan Keracunan 134 Santri, Sampel MBG Diperiksa

Wartain.com – Dinas Kesehatan Kota Sukabumi masih melakukan penyelidikan terkait dugaan keracunan makanan yang dialami 134 orang di Pondok Pesantren Alam Baiti Jannati, Cikundul, Kecamatan Lembursitu.

Sebanyak 133 santri dan seorang pengurus pesantren dilaporkan mengalami keluhan kesehatan berupa mual dan muntah setelah menyantap makanan. Sejumlah korban kemudian harus mendapatkan perawatan di rumah sakit.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Sukabumi Ida Halimah mengatakan, pihaknya belum dapat memastikan sumber penyebab keluhan tersebut. Meski gejala yang muncul mengarah pada dugaan keracunan, kesimpulan akhir masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.

“Diagnosis awal mungkin dugaan memang ada keracunan. Tapi yang jelas, kami masih melakukan pemeriksaan untuk memastikan penyebabnya,” kata Ida, Sabtu (15/8/2026).

Dinkes menerima laporan terkait kondisi para santri sejak pagi setelah waktu Subuh. Petugas kemudian melakukan pemantauan ke sejumlah rumah sakit dan menemukan pasien dari pesantren dirawat di RSUD Al-Mulk serta RSUD R. Syamsudin, SH atau RS Bunut.

Di RS Bunut, tercatat 58 pasien sempat mendapatkan perawatan. Sebanyak 43 pasien di antaranya telah diperbolehkan kembali ke pondok setelah kondisi mereka dinyatakan stabil.

Sementara itu, RSUD Al-Mulk menangani 82 pasien. Dari jumlah tersebut, 37 orang sudah diperbolehkan kembali ke pondok, sedangkan pasien lainnya masih menjalani observasi. Secara umum, kondisi santri yang masih dirawat menunjukkan perkembangan yang membaik.

Untuk mengetahui penyebab kejadian, Dinkes melakukan penyelidikan epidemiologi. Petugas menggali informasi dari para santri dan pengelola pesantren sekaligus mengambil berbagai sampel untuk diperiksa.

Sampel yang dikumpulkan antara lain muntahan santri serta sisa makanan. Beberapa jenis makanan turut diperiksa, seperti sayuran, telur, tempe dan susu.

Tak hanya makanan dari program Makan Bergizi Gratis atau MBG, petugas juga mengambil sampel makanan yang tersedia di dapur pesantren. Langkah ini dilakukan agar sumber keluhan tidak langsung dikaitkan dengan satu jenis makanan sebelum hasil pemeriksaan keluar.

“Semua, termasuk sampel makanan yang ada di dapur pesantren juga kita ambil sampelnya,” ujar Ida.

Ia menegaskan, hingga saat ini belum dapat dipastikan apakah kejadian tersebut berkaitan dengan makanan MBG atau berasal dari sumber lain.

“Nah, itu juga belum bisa saya sampaikan, menyimpulkan apakah ini dari MBG atau apa, makanya kita semua periksa,” katanya.

Sebagian sampel harus dikirim ke Laboratorium Kesehatan Provinsi Jawa Barat karena tidak seluruh jenis pemeriksaan dapat dilakukan di laboratorium milik Dinkes Kota Sukabumi.

Ida memperkirakan hasil pemeriksaan membutuhkan waktu sekitar satu pekan. Hasil laboratorium nantinya akan menjadi salah satu dasar untuk memastikan penyebab kejadian, termasuk kemungkinan adanya bakteri tertentu.

“Tidak bisa kita harus dipastikan dengan data penunjang laboratorium yang kuat untuk memastikan penyebabnya, kalau bakteri, bakteri apa,” ujarnya.

Selain pemeriksaan sampel, Dinkes juga masih menelusuri kronologi munculnya gejala. Informasi mengenai waktu awal keluhan dirasakan para santri masih beragam sehingga belum dapat ditentukan secara pasti.

Seluruh data tersebut nantinya akan dibandingkan dengan hasil laboratorium untuk memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai penyebab kejadian.

“Kita tidak bisa memastikan ini mulai kapannya. Nanti didukung kuat dengan hasil data laboratorium. Jadi nanti secara utuh kita bisa simpulkan seperti apa,” kata Ida.

SPPG Pemasok MBG Sudah Mengantongi SLHS

Di tengah proses penyelidikan, Ida memastikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG yang memasok MBG ke Pondok Pesantren Alam Baiti Jannati telah memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).

Namun, menurut Ida, kepemilikan sertifikat tidak berarti pengawasan terhadap standar kebersihan dan sanitasi dapat dihentikan. SPPG tetap wajib menjaga standar tersebut selama menjalankan kegiatan operasional.

“SLHS sudah diterbitkan. Tetapi kepatuhan terhadap standar untuk layanan itu harus bukan saja pada saat untuk pemenuhan administrasi ini terbit, tetapi sepanjang dia beroperasi,” jelasnya.

Sementara terkait keputusan untuk menghentikan atau meneruskan operasional SPPG selama proses pemeriksaan, Ida menyebut kewenangan tersebut berada di Badan Gizi Nasional (BGN).

Dinkes saat ini berfokus pada penanganan kesehatan pasien dan proses penyelidikan epidemiologi. Adapun langkah lanjutan terhadap SPPG akan ditentukan berdasarkan hasil pemeriksaan yang sedang dilakukan.

“Kita tunggu hasil laboratoriumnya,” pungkas Ida.

Pesantren Sebut Gejala Muncul Setelah Menyantap MBG

Sementara itu, pimpinan Pondok Pesantren Alam Baiti Jannati, Faid Fauzan, menyebut jumlah warga pesantren yang mengalami gejala mencapai 134 orang, terdiri atas 133 santri dan satu pengurus.

Menurut Faid, keluhan mulai dilaporkan sekitar pukul 14.30 WIB. Sebelumnya, para santri menyantap menu MBG sekitar pukul 12.30 WIB.

“Anak-anak sakit dengan gejala muntah-muntah memang mengarah pada keracunan, masih menunggu rilis resmi dari rumah sakit bahwa ini adalah keracunan,” ujar Faid, Sabtu (15/8/2026).

Faid juga menjelaskan, kebutuhan MBG di pondok pesantren tersebut dipenuhi oleh dua SPPG, yakni SPPG Al Muslim dan SPPG Cemerlang.

“Banyaknya dari Al Muslim, dari SPPG Cemerlang 100 ompreng,” kata Faid.

Hingga kini, pihak pesantren dan Dinkes masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan penyebab gangguan kesehatan yang dialami para santri.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.