Wartain.com || Kasus meninggalnya NS (12), bocah asal Kecamatan Jampangkulon, Kabupaten Sukabumi, masih menyisakan tanda tanya. Di tengah proses penyelidikan yang berjalan, pihak medis dari RSUD Jampangkulon memaparkan kondisi korban saat pertama kali mendapatkan penanganan.
Dokter spesialis anak RSUD Jampangkulon, dr. Sulaiman Arigayota, menjelaskan bahwa ketika korban tiba di Instalasi Gawat Darurat (IGD), tim medis segera melakukan triase untuk menentukan tingkat kegawatdaruratan. Dari pemeriksaan awal, persoalan paling mendesak bukan luka di tubuh korban, melainkan gangguan sistem pernapasan yang sudah berat.
“Begitu pasien datang, prosedur pertama adalah triase untuk menentukan tingkat kegawatdaruratannya. Dari situ langsung terlihat bahwa masalah utama yang harus segera ditangani adalah pernapasannya,” ujar dr. Sulaiman, Senin (23/6/2026).
Setelah proses tersebut, korban menjalani pemeriksaan lanjutan berupa wawancara medis, pemeriksaan fisik menyeluruh, serta pemantauan tanda vital. Berdasarkan keterangan keluarga dan observasi awal, tim medis menemukan sejumlah luka di beberapa bagian tubuh.
“Berdasarkan laporan orang tua dan hasil pemeriksaan, memang terdapat luka di beberapa lokasi, mulai dari wajah, leher, badan, tangan hingga kaki,” jelasnya.
Ia menyebut jenis luka yang ditemukan bervariasi. Ada luka lecet, memar, luka kering yang telah membentuk keropeng, hingga luka yang tampak menyerupai lepuhan.
“Sebagian luka terlihat seperti bekas panas atau melepuh, namun secara medis kami belum bisa memastikan apakah itu akibat benda panas, benturan, atau proses penyakit tertentu. Itu perlu pendalaman lebih lanjut,” katanya.
Secara rinci, terdapat sekitar empat titik luka yang menyerupai luka bakar, tiga luka yang telah mengering, serta beberapa luka lebam dalam jumlah lebih banyak. Meski demikian, pada saat itu prioritas utama tim medis adalah menyelamatkan fungsi vital korban.
“Kami tidak langsung mendalami penyebab luka-luka tersebut karena kondisi pasien menunjukkan gangguan napas yang serius. Napasnya cepat dan tidak efektif, sehingga kami putuskan untuk perawatan intensif di ICU anak atau PICU,” ungkapnya.
Di ruang perawatan intensif, kondisi paru-paru korban dinilai tidak bekerja optimal. Korban membutuhkan bantuan alat pernapasan karena pola napasnya tidak mampu memenuhi kebutuhan oksigen tubuh.
“Pola napasnya tidak adekuat, artinya tidak cukup untuk menopang kebutuhan oksigen. Itu sebabnya kami lakukan tindakan dengan alat bantu napas dan pemberian obat-obatan emergensi,” terang dr. Sulaiman.
Upaya penanganan berlangsung sekitar enam jam, terdiri dari empat jam di IGD dan dua jam di ruang ICU. Namun, meski tindakan medis maksimal telah diberikan, kondisi korban terus mengalami penurunan.
“Secara klinis, sesak napas sudah terlihat sejak awal kedatangan. Meskipun semua prosedur kegawatdaruratan sudah kami lakukan sesuai standar, kondisi pasien tetap mengalami penurunan,” tuturnya.
Menanggapi beredarnya video yang menunjukkan kondisi wajah korban, khususnya bagian hidung yang disebut berdarah, dr. Sulaiman memberikan penegasan.
“Di bagian hidung bukan luka berdarah aktif. Yang terlihat adalah luka yang sudah mengering dan membentuk krusta atau keropeng,” tegasnya.
Hingga kini, penyebab pasti kematian NS belum dapat dipastikan secara medis. Pihak rumah sakit menilai diperlukan pemeriksaan lanjutan, termasuk kemungkinan autopsi forensik, guna memastikan faktor utama yang menyebabkan korban meninggal dunia.
“Kami belum bisa menyimpulkan apakah kematian ini murni akibat gangguan pernapasan, trauma, paparan panas, atau ada proses penyakit lain. Semua itu harus dibuktikan melalui pemeriksaan lebih mendalam,” pungkasnya.***(RAF)
Editor : Aab Abdul Malik
