26.7 C
Jakarta
Kamis, September 10, 2026

Latest Posts

Filosofi Pancer Pangawinan: HJKS ke-156 Satukan Air dari Empat Penjuru Sukabumi 

Wartain.com – Upacara Sekar Budaya dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Sukabumi (HJKS) ke-156 tahun 2026 yang digelar di Alun-alun Palabuhanratu, Kamis (10/9/2026) berlangsung tidak biasa. Jika biasanya hanya upacara formalitas, kali ini peringatan HJKS dibalut pesan budaya yang kental dengan filosofi masyarakat Sukabumi.

Salah satu yang paling menyita perhatian adalah prosesi pembawaan kendi berisi air dari empat penjuru wilayah. Keempat kendi itu kemudian disatukan dan disiramkan ke patung penyu di Tugu Swasti Saba sebagai pusat prosesi.

Prosesi sakral tersebut dipimpin langsung Bupati Sukabumi Asep Japar, Wakil Bupati Andreas, Ketua DPRD Kabupaten Sukabumi Budi Azhar Mutawali, Kapolres Sukabumi AKBP Benny Cahyadi, dan Dandim 0622/Kabupaten Sukabumi Letkol Inf Agung Ariwibowo.

Air yang digunakan bukan air biasa. Semua diambil dari sumber mata air yang diyakini tidak pernah kering sepanjang tahun. Air dari empat wilayah itu sengaja dipertemukan di Palabuhanratu sebagai simbol bahwa Palabuhanratu adalah dayeuh atau pusat dari Kabupaten Sukabumi.

Tokoh budaya sekaligus sesepuh Palabuhanratu, Asep Nurbagelar yang akrab disapa Abah Embep menjelaskan makna mendalam di balik prosesi tersebut. Empat kendi itu melambangkan penyatuan Sukabumi dari empat arah mata angin.

“Jadi tadi sengaja mengambil empat kendi itu artinya kita mengambil dari empat penjuru mata angin, artinya Pancer Pangawinan. Inilah Kabupaten Sukabumi, ibu kotanya atau dayeuh-nya di Palabuhanratu, makanya disatukan di sini,” jelas Abah Embep kepada awak media di lokasi.

Ia menegaskan konsep ini dihadirkan untuk menjaga akar kebudayaan. Perayaan hari jadi tidak melulu soal upacara pemerintahan, namun juga menjadi panggung untuk kearifan lokal yang digagas para seniman dan budayawan Palabuhanratu.

Adapun empat sumber mata air itu berasal dari lokasi yang berbeda-beda. Dari wilayah selatan atau Pajampangan diambil dari Cibutun, dari utara atau tengah dari Gunung Salak, dari timur dari Gunung Gede, dan dari barat dari Cikahuripan di kawasan Cagar Alam.

Menurut Abah Embep, dipilihnya air sebagai elemen utama karena air memiliki makna filosofis yang sangat dalam bagi kehidupan masyarakat.

“Air itu merupakan salah satu sumber kehidupan, merupakan salah satu penggerak hidup. Kita tanpa air mestinya akan mengalami hal-hal yang tidak diharapkan,” ungkapnya.

Usai disatukan, air dari empat penjuru itu kemudian disiramkan ke patung penyu yang menjadi ikon Kabupaten Sukabumi. Penyu bukan sekadar hiasan tugu, melainkan lambang ketahanan, umur panjang, dan keberlanjutan.

“Mudah-mudahan dengan dikucurkan cai (air) ke sana, tetap rahayu, abadi, ginuluran, aya dina rahmat Gusti,” tuturnya penuh harap agar Sukabumi senantiasa dalam keselamatan dan keberkahan.

Karena prosesi inilah, perayaan HJKS ke-156 tahun ini terasa lebih istimewa. Unsur upacara resmi tetap dijalankan, namun diperkuat dengan simbol-simbol budaya yang menegaskan jati diri daerah.

Antusiasme masyarakat pun terlihat jelas di sepanjang kegiatan. Warga yang hadir tidak hanya menjadi penonton, namun ikut merasakan bahwa peringatan hari jadi adalah milik bersama, tempat bertemunya pemerintah dan budaya.

Abah Embep juga menyebut, sejatinya masih ada unsur budaya lain yang ingin dihadirkan, seperti penyimpanan berbagai jenis hasil bumi, tanaman pangan dan umbi-umbian sebagai simbol ketahanan pangan dan harapan akan masa depan Sukabumi. Namun untuk tahun ini belum bisa direalisasikan.

Meski belum lengkap, prosesi penyatuan air empat penjuru di Sekar Budaya HJKS ke-156 ini sudah menyampaikan pesan yang kuat: Sukabumi bersatu dari empat penjuru, hidup dari air sebagai sumber kehidupan, dan diharapkan terus tumbuh dalam keberkahan tanpa melupakan akar budayanya.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.