Wartain.com || Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat meresmikan Mualaf Centre Al Fath (MCA) yang berlokasi di Pondok Pesantren Dzikir Al Fath, Kota Sukabumi, Rabu (17/12/2025). Kehadiran MCA diproyeksikan menjadi pusat pembinaan terpadu bagi para mualaf, dengan pendekatan menyeluruh yang tidak hanya menitikberatkan pada aspek keagamaan, tetapi juga pendidikan dan kemandirian ekonomi.
MCA yang telah tergabung dalam Asosiasi Lembaga Mualaf Indonesia (ALAMI) ini dirancang sebagai wadah pembinaan berkelanjutan, menyesuaikan kebutuhan setiap mualaf yang beragam latar belakangnya. Ketua Lembaga Dakwah Khusus (LDK) MUI Pusat, Abu Deedat Syihabudin, menegaskan bahwa pola pembinaan mualaf tidak bisa disamaratakan.
“Ada mualaf yang perlu dikuatkan ekonominya, ada yang pemahaman akidahnya masih lemah, dan ada juga mualaf anak-anak yang harus diprioritaskan pendidikannya. Semua itu membutuhkan pendekatan yang berbeda,” ujarnya.
Menurut Abu, tantangan terbesar yang sering dihadapi mualaf adalah minimnya pendampingan setelah mengucapkan syahadat. Kondisi tersebut, kata dia, berpotensi membuat mualaf kehilangan arah dalam beragama.
“Banyak yang sudah masuk Islam, tapi tidak dibina secara serius. Akibatnya, ada yang akhirnya kembali ke keyakinan sebelumnya. Di sinilah pentingnya peran MUI untuk berkolaborasi dengan lembaga pembinaan mualaf,” katanya.
Ia menilai keberadaan MCA di Sukabumi menjadi langkah strategis dalam menjaga akidah umat, khususnya bagi muslim baru. Pembinaan yang dilakukan secara terstruktur dinilai mampu memperkuat keyakinan sekaligus membangun kemandirian hidup para mualaf.
Sementara itu, Pimpinan Ponpes Dzikir Al Fath, KH Fajar Laksana, menjelaskan bahwa pendirian MCA merupakan pengembangan dari program pembinaan mualaf yang telah dilakukan selama empat tahun di Pulau Buru, Maluku. Dari kegiatan tersebut, tercatat sekitar 150 mualaf kini menjadi santri binaan.
“Selama empat tahun kami melakukan dakwah dan pembinaan di 10 desa di Pulau Buru. Saat ini ada 150 mualaf yang kami bina secara intensif di pesantren. Agar pembinaan lebih efektif dan terarah, kami dirikan Mualaf Centre Al Fath,” tuturnya.
Ratusan santri mualaf tersebut saat ini menempuh pendidikan formal mulai dari tingkat SMP, SMA, hingga perguruan tinggi. Seluruh kebutuhan pendidikan dan kehidupan sehari-hari mereka ditanggung sepenuhnya oleh pihak pesantren.
“Kami membiayai semuanya, mulai dari sekolah, tempat tinggal, hingga kebutuhan makan. Tidak ada pungutan apa pun,” jelas KH Fajar.
Ke depan, Ponpes Dzikir Al Fath juga merencanakan pembangunan sekolah Islam tingkat SMP di Pulau Buru yang akan difungsikan sebagai pusat pembinaan mualaf di wilayah tersebut.
“Di Pulau Buru belum ada sekolah Islam. Kami berencana membangun SMP Islam yang sekaligus menjadi basecamp pembinaan mualaf,” ungkapnya.
Melalui program ini, KH Fajar berharap para mualaf yang telah dibina dapat menjadi pribadi yang mandiri serta mampu menularkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin kepada keluarga dan lingkungan sekitarnya.***(RAF)
Editor : Aab Abdul Malik
