Oleh: Kang Dzikri Nur/Pengamat Sosial KeagamaanÂ
Wartain.com – Haul bukanlah sekadar peringatan atas wafatnya seorang ulama, melainkan momentum historis untuk menghidupkan kembali nilai, perjuangan, dan cahaya ilmu yang diwariskannya. Haul ke-76 K.H. Ahmad Sanusi mengingatkan bangsa Indonesia bahwa sejarah tidak dibangun oleh mereka yang mengejar kekuasaan, tetapi oleh insan yang menjadikan tauhid sebagai pusat kehidupan. Di tengah perubahan zaman, sosok beliau tetap berdiri sebagai mercusuar yang menerangi perjalanan umat dengan ilmu, akhlak, dan keberanian.
K.H. Ahmad Sanusi bukan hanya seorang kiai yang mengajar di pesantren, melainkan ulama pejuang yang memadukan ilmu, dakwah, dan keberanian melawan penjajahan. Ketika banyak orang tunduk kepada tekanan kolonial, beliau justru menjadikan ilmu sebagai senjata pembebasan. Baginya, kemerdekaan bangsa merupakan bagian dari penghambaan kepada Allah, sebab manusia yang diciptakan merdeka tidak layak diperbudak oleh sesama manusia. Dari rahim perjuangan seperti inilah lahir keteladanan yang akhirnya mengantarkan beliau dikenang sebagai Pahlawan Nasional.
Namun, kebesaran K.H. Ahmad Sanusi tidak hanya terletak pada perjuangan fisik. Fondasi terdalam perjuangannya adalah tauhid. Tauhid yang beliau ajarkan bukan sekadar kalimat yang diucapkan lisan, melainkan kesadaran hidup bahwa seluruh gerak manusia berada dalam pengawasan Allah. Dari kesadaran tauhid lahirlah keberanian, kejujuran, kesabaran, dan pengorbanan. Sejarah menunjukkan bahwa para nabi membangun peradaban bukan dengan kekuatan materi, tetapi dengan kekuatan keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jalan inilah yang diwarisi oleh para ulama pewaris Nabi.
Dalam perspektif marifatullah, perjuangan sejati selalu bermula dari pengenalan kepada Allah. Semakin seseorang mengenal Tuhannya, semakin kecil rasa takut kepada makhluk. Karena itu, ulama bukan sekadar penyampai hukum, melainkan pembimbing hati menuju kesadaran Ilahiah.
K.H. Ahmad Sanusi mengajarkan bahwa ilmu harus melahirkan akhlak, ibadah harus melahirkan kasih sayang, dan perjuangan harus melahirkan kemaslahatan umat. Inilah hakikat dakwah kenabian yang tetap relevan sepanjang zaman.
Secara filosofis, kehidupan seorang ulama merupakan dialog antara langit dan bumi. Kaki mereka berpijak di bumi untuk menyelesaikan persoalan umat, tetapi hati mereka selalu menghadap ke langit mencari petunjuk Allah. Dari keseimbangan itulah lahir kebijaksanaan. Sebab ilmu tanpa tauhid akan melahirkan kesombongan, sedangkan tauhid tanpa ilmu dapat melahirkan fanatisme yang membutakan. K.H. Ahmad Sanusi menunjukkan bahwa keduanya harus berjalan seiring dalam membangun peradaban Islam yang beradab.
Di tengah dunia modern yang sering mengukur keberhasilan dengan materi, popularitas, dan kekuasaan, haul ini mengajak kita kembali mengukur kehidupan dengan kedekatan kepada Allah. Warisan terbesar seorang ulama bukanlah bangunan megah ataupun nama besar, melainkan manusia-manusia yang tercerahkan oleh ilmu dan akhlaknya. Selama nilai itu tetap hidup, sesungguhnya beliau belum pernah pergi dari kehidupan umat.
Generasi hari ini menghadapi tantangan yang berbeda dengan masa penjajahan dahulu. Jika dahulu penjajahan dilakukan melalui senjata, kini penjajahan hadir melalui pemikiran, budaya, informasi, dan krisis spiritual. Karena itu, perjuangan meneruskan jejak K.H. Ahmad Sanusi bukan hanya menjaga tradisi pesantren, tetapi juga membangun generasi Qurani yang mampu memadukan ilmu, iman, dan hikmah dalam menghadapi perubahan zaman.
Haul ke-76 ini hendaknya menjadi momentum muhasabah bersama. Apakah kita telah menjadikan tauhid sebagai pusat hidup? Apakah ilmu yang kita pelajari semakin mendekatkan kepada Allah? Apakah perjuangan kita membawa manfaat bagi sesama?
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang sesungguhnya menjadi ruh setiap haul, agar sejarah tidak berhenti sebagai cerita, tetapi berubah menjadi energi peradaban.
Semoga Allah Swt. melimpahkan rahmat dan magfirah kepada K.H. Ahmad Sanusi, menerima seluruh amal perjuangannya, meninggikan derajatnya bersama para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh. Semoga cahaya ilmu, tauhid, dan marifatullah yang beliau wariskan terus menerangi Pondok Pesantren Syamsul ‘Ulum, umat Islam, bangsa Indonesia, serta seluruh generasi yang mendambakan peradaban yang berakar pada wahyu dan berbuah kemanusiaan. Aamiin.***
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
