Wartain.com || Pelantikan Pengurus Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Kota Sukabumi Masa Bakti 2025–2028 menjadi momentum penguatan kolaborasi antara profesi dokter dan pemerintah daerah dalam menjawab tantangan layanan kesehatan yang kian kompleks. Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Dinas Kesehatan Kota Sukabumi, Sabtu (14/2/2026).
Wali Kota Sukabumi, Ayep Zaki, menekankan bahwa pembangunan kesehatan tidak dapat berjalan parsial. Menurutnya, peran dokter melalui IDI harus berjalan beriringan dengan kebijakan pemerintah yang menyentuh persoalan sosial secara menyeluruh.
“Dokter berperan menjaga kesehatan jasmani dan rohani masyarakat, sementara pemerintah memastikan aspek sosial dan lingkungan kota juga dalam kondisi sehat,” ujarnya.
Pelantikan tersebut turut dihadiri Kepala Dinas Kesehatan Ida Halimah, Ketua IDI Jawa Barat dr. Mohammad Lutfi, organisasi profesi, serta jajaran pengurus IDI yang baru dilantik. Dalam kesempatan itu, dr. Asep Tajul Muttaqin resmi dipercaya memimpin IDI Cabang Kota Sukabumi periode 2025–2028.
Wali kota menyebut, sekitar 320 dokter berada di bawah naungan IDI Kota Sukabumi. Ia berharap seluruhnya menjaga profesionalisme dan memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat. Pemerintah juga menegaskan bahwa dokter di rumah sakit milik pemerintah wajib tergabung dalam IDI sebagai bentuk komitmen terhadap standar etika dan mutu layanan.
Dari sisi kebijakan, Pemkot Sukabumi terus melakukan penguatan sistem kesehatan. Saat ini, 17 unit layanan telah berstatus Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), termasuk 15 puskesmas. Transformasi ini diharapkan meningkatkan fleksibilitas dan kualitas pelayanan.
Rumah sakit daerah juga menjadi perhatian. RSUD R. Syamsudin yang telah berusia lebih dari satu abad terus dibenahi fasilitas dan layanannya. Di sisi lain, layanan kemoterapi di RSUD Bunut mulai berjalan sejak Januari 2026 dengan jumlah pasien mencapai 60–70 orang per bulan. Pengembangan layanan stem cell dan terapi penunjang seperti akupuntur juga tengah disiapkan.
Tak hanya fokus pada layanan kuratif, pemerintah turut menyoroti upaya preventif, seperti penurunan prevalensi stunting melalui berbagai intervensi, termasuk program “wisuda stunting”. Penataan kebersihan lingkungan di kawasan Bunut juga menjadi bagian dari strategi menciptakan kota sehat secara menyeluruh.
Dalam konteks pembangunan daerah, Ayep Zaki mengaitkan visi kota sehat dengan 26 indikator pembangunan yang dirumuskan Bappenas, mulai dari Indeks Pembangunan Manusia, tingkat kemiskinan, rasa aman, hingga Pendapatan Asli Daerah. Ia menilai, seluruh indikator tersebut harus bergerak seimbang.
Sementara itu, Ketua IDI Jawa Barat dr. Mohammad Lutfi mengingatkan pentingnya peningkatan kompetensi dokter di tengah perkembangan teknologi medis yang pesat. Ia juga menekankan urgensi menjaga etika profesi dan komunikasi efektif dengan pasien guna mencegah persoalan hukum.
Pelantikan kepengurusan baru ini diharapkan memperkuat posisi IDI sebagai mitra strategis pemerintah daerah. Sinergi antara Pemkot, Dinas Kesehatan, BLUD, dan IDI diyakini menjadi fondasi penting dalam mewujudkan Sukabumi sebagai kota sehat yang inovatif dan berdaya saing.***(RAF)
Editor : Aab Abdul Malik
