Oleh: Dzikri Nur/Pengamat Sosial Keagamaan
Wartain.com || “Langit dan bumi-Ku tidak dapat memuat-Ku. Tapi hati hamba-Ku yang beriman dapat memuat-Ku.”
(Hadis Qudsi)
1. Mencari Tuhan Tidak ke Atas, Tapi ke Dalam
Banyak yang mendongak ke langit mencari Tuhan,
padahal Tuhan tak tersembunyi di balik awan.
Ia lebih dekat dari urat lehermu—bahkan lebih dalam dari pikiranmu.
Tuhan tidak tinggal di luar,
Ia ingin tinggal dalam dirimu.
Lebih tepatnya: dalam kesadaranmu.
Kesadaranmu adalah baitullah,
dan hati yang jernih adalah Ka’bah rahasia tempat cahaya-Nya bertajalli.
2. Apa Itu Kesadaran?
Kesadaran bukan pikiran. Bukan ingatan. Bukan sekadar perasaan.
Kesadaran adalah ruang batin tempat segalanya muncul.
Ia adalah saksi yang tak terlihat, tapi menyaksikan segalanya.
Dalam bahasa ruhani:
Kesadaran adalah cermin utama tempat Tuhan memperlihatkan Diri-Nya.
“Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi. Aku ingin dikenal, maka Kuciptakan makhluk agar mereka mengenal-Ku.”
(Hadis Qudsi, maknawi)
Kesadaran itu ibarat langit dalam dirimu.
Semakin luas, semakin banyak cahaya bisa tinggal di sana.
3. Rumah Tuhan Hanya Bisa Dimasuki oleh Jiwa yang Bersih
“Sesungguhnya Allah Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik.”
(HR. Muslim)
Jika kita ingin kesadaran kita menjadi rumah bagi Tuhan,
maka kita harus bersihkan:
Dari prasangka
Dari kesombongan
Dari kecemasan duniawi
Dari rasa memiliki yang palsu
Kesadaran harus menjadi ruang kosong yang luas, agar hanya Tuhan yang tinggal.
Bukan ruang sempit yang dipenuhi suara ego dan dunia.p
4. Mengapa Banyak Manusia Tak Lagi Merasakan Tuhan?
Karena rumah itu penuh debu.
Karena kesadaran mereka dipenuhi iklan, media sosial, ambisi, trauma, dan kebisingan.
Mereka mencari Tuhan sambil menyalakan suara dunia—
bagaimana bisa mendengar bisikan-Nya?
“Jika engkau duduk bersama dunia, maka engkau akan menjadi gelap. Jika engkau duduk bersama Tuhan, maka engkau akan menjadi cahaya.”
(Dzikir Arif Billah)
5. Membuka Kesadaran: Jalan Sunyi Para Pecinta
Kesadaran bukan dibuka dengan logika,
tapi dengan pengosongan dan penerimaan.
Inilah jalan yang ditempuh para wali:
Mereka berpuasa dari dunia
Mereka menjaga pandangan dan hati
Mereka mendiamkan lidahnya
Mereka meneguk dzikir seperti air kehidupan
Dan ketika mereka sudah kosong,
Tuhan datang, tak diundang, dan berkata:
“Inilah rumah-Ku.”
6. Kesadaran Adalah Peradaban
Jika kesadaran manusia bangkit,
maka peradaban juga akan bangkit.
Karena rumah Tuhan bukan hanya untuk pribadi,
tapi untuk menyinari dunia.
Kesadaran yang benar akan melahirkan:
Pemimpin yang adil
Ilmuwan yang bijak
Seniman yang menyentuh hati
Masyarakat yang saling cinta
Perubahan besar hanya bisa dimulai dari kesadaran kecil di dalam diri.
Doa Penutup: Jadikan Diriku Rumah-Mu, Ya Allah…
Ya Allah…
Jika Engkau tak berada dalam kesadaranku,
apa gunanya seluruh pengetahuan dan pencarianku?
Jika Engkau tak hadir di dalam hatiku,
apa artinya dunia dan semua pencapaianku?
Masuklah, ya Rabb…
Bersihkan ruangan kesadaranku.
Keluarkan semua selain-Mu dari dalam diriku.
Aku kosongkan ruang hatiku.
Aku buka jendela batinku.
Agar Engkau masuk, dan aku hanya tinggal bersama-Mu.
Jadikanlah aku rumah yang Kau sukai.
Rumah yang tenang.
Rumah yang penuh dzikir.
Rumah yang hanya ada Engkau di dalamnya.
Amin ya rabbalalamiin (***)
Foto : Istimewa
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
