Wartain.com – Aksi unjuk rasa mahasiswa pada 12 Juni 2026 yang menuntut penghentian program Makan Bergizi Gratis (MBG) menyisakan tanda tanya eksistensial yang mendalam. Dalam kacamata filsafat, tindakan ini mencerminkan sebuah ironi alienasi—kondisi di mana kaum intelektual justru terasing dari realitas empiris masyarakatnya sendiri. Ketika sebuah kebijakan secara nyata menyentuh hajat hidup jutaan anak, ibu hamil, bayi, hingga menggerakkan ekosistem ekonomi petani dan pelaku UMKM, tuntutan pembubaran program ini terasa ganjil, bahkan melukai rasa keadilan spiritual.

Pernyataan keprihatinan yang disuarakan oleh Ketu Umum Serikat Rakyat Indonesia Dede Heri S.IP juga sebagai Sekretaris Jenderal Rumah Literasi Merah Putih, bukan sekadar kritik politik, melainkan sebuah refleksi moral. Mengapa air mata kemiskinan yang mulai mengering berkat kepastian pangan justru digugat oleh mereka yang mengecap bangku kuliah?
Secara spiritual, kepemimpinan yang otentik adalah kepemimpinan yang berpihak pada kaum duafa dan mustad’afin (kaum yang tertindas/lemah). Program MBG yang diusung oleh Presiden Prabowo Subianto dalam koridor Astacita merupakan sebuah manifestasi seni bela rakyat. Seni di sini bukan sekadar estetika visual, melainkan keindahan dalam menyusun rantai pasok ekonomi yang berkeadilan:
a. Dapur MBG menjadi episentrum sosial tempat ratusan ribu relawan dan ibu-ibu menemukan martabat pekerjaannya.
b. Petani dan Peternak mendapatkan kepastian pasar, membebaskan mereka dari jerat tengkulak.
c. Anak-Anak Nusantara dari kota hingga pelosok mendapatkan hak paling asasi mereka: nutrisi untuk akal dan jiwa.
Melihat kenyataan ini, menghentikan program MBG sama saja dengan memutus urat nadi harapan bangsa yang sedang merangkak menuju kemandirian.
Memisahkan Penyakit dari Tubuhnya: Etika Evaluasi vs Destruksi
Dalam logika filsafat moral, jika sebuah sistem mengalami malapraktik, yang disembuhkan adalah penyakitnya, bukan dengan cara membunuh manusianya. Langkah tegas Presiden Prabowo dalam membongkar penyimpangan dan korupsi di Badan Gizi Nasional (BGN) harus dibaca sebagai tindakan bedah medis yang berani. Mengapresiasi ketegasan ini adalah wujud dari kejujuran intelektual.
Tuntutan untuk menghentikan total program ini memicu pertanyaan besar: Mewakili kepentingan siapa gerakan ini?
Secara metafisika politik, ada kekuatan gelap—mafia oligarki hitam—yang selalu merasa terancam jika rakyat Indonesia menjadi cerdas, sehat, dan berdaulat. Mereka tidak ingin melihat bangsa ini mandiri secara ekonomi. Ketika mahasiswa terjebak dalam narasi destruktif ini, mereka secara tidak sadar sedang menjadi perpanjangan tangan dari kepentingan yang ingin melihat Indonesia tetap lemah.
Panggilan Spiritual: Memperkuat Persatuan Nasional
Esensi dari spiritualitas adalah persatuan (Tauhidi). Keberhasilan program kerakyatan tidak bisa dibebankan hanya pada pundak pemerintah, melainkan membutuhkan pengawalan spiritual dan fisik dari seluruh komponen bangsa.
Serikat Rakyat Indonesia dan Rumah Literasi Merah Putih mengajak kita semua untuk kembali ke khittah persatuan nasional. Mengawal MBG adalah mengawal masa depan generasi emas Indonesia. Di atas semua dinamika ini, mari kita gantungkan harapan pada ruang doa, memohon agar Allah Tuhan Yang Maha Esa senantiasa menganugerahkan rahmat, keberkahan, dan kedamaian abadi untuk bumi pertiwi. Indonesia harus tegak, mandiri, dan berdaulat di atas kaki sendiri. (M.Rafi Asyam)***
Editor : Aab Abdul Malik
