Wartain.com || Pagi itu, halaman Kantor Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Sukabumi tak seperti biasanya. Udara dipenuhi aroma cat yang khas, bercampur dengan tawa riang para siswa yang sibuk mengaduk warna di palet mereka.
Di hadapan mereka, dinding-dinding yang dulu polos kini menjadi kanvas raksasa. Satu per satu sapuan kuas mulai membentuk gambar-gambar penuh makna: anak-anak bermain di taman, pelukan hangat seorang ibu, hingga simbol-simbol yang menyerukan “Stop Kekerasan pada Anak.”
Puluhan siswa dari 25 sekolah hadir di sini, mengikuti Lomba Mural yang digelar DP3A, Senin (11/8/2025). Bukan hanya lomba biasa, kegiatan ini juga menjadi bagian dari perayaan Hari Anak Nasional ke-41, HUT ke-80 Republik Indonesia, dan Hari Jadi Kabupaten Sukabumi (HJKS) ke-155.
Kepala DP3A, Eki Radiana Rizki, berjalan santai menyusuri deretan peserta. Sesekali ia berhenti, mengamati detail mural, lalu memberikan apresiasi. “Ini bukan sekadar ajang adu kreatif. Kami ingin kegiatan ini menjadi ruang berekspresi, mempererat kebersamaan, sekaligus menyampaikan pesan positif tentang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak,” katanya.
Bagi Eki, mural adalah bahasa yang tak memerlukan terjemahan. Warna-warna cerah, garis-garis tegas, dan simbol-simbol sederhana bisa langsung berbicara kepada siapa saja yang melihat. “Kami berharap karya ini bukan hanya enak dipandang, tapi juga meninggalkan kesan dan membangkitkan kepedulian,” ujarnya.
Sinar matahari semakin terik, namun semangat para peserta tak surut. Beberapa siswa terlihat menghapus dan memperbaiki goresannya, memastikan setiap detail sempurna. Ada yang tersenyum puas melihat gambarnya mulai “hidup,” ada pula yang sibuk memberi sentuhan akhir dengan warna kontras.
Ketika semua mural selesai, dinding Kantor DP3A akan menjadi galeri terbuka yang menyampaikan pesan kuat: melindungi anak adalah tanggung jawab bersama. Dan hari itu, anak-anak muda Sukabumi telah membuktikan bahwa lewat warna, kuas, dan imajinasi, mereka mampu bicara lantang—tanpa perlu mengucapkan satu kata pun.***(RAF)
Editor : Aab Abdul Malik
