26.7 C
Jakarta
Jumat, April 24, 2026

Latest Posts

Manusia Modern: Cahaya Palsu dan Kehilangan Arah

Oleh: Kang Dzikri Nur/Pengamat Sosial Keagamaan 

Wartain.com || Manusia modern hidup di zaman yang tampak terang, tetapi sesungguhnya membingungkan. Segala sesuatu terlihat jelas, cepat, dan terhubung. Informasi mengalir tanpa henti. Teknologi berkembang pesat. Dunia seperti berada dalam genggaman.
Namun di balik semua itu, ada satu pertanyaan mendasar yang jarang dijawab secara jujur:
apakah manusia benar-benar tahu ke mana ia sedang menuju?
Banyak yang bergerak.
Banyak yang sibuk.
Banyak yang terlihat berhasil.

Tapi tidak semua memahami arah.
Cahaya yang Menipu
Peradaban modern menawarkan banyak “cahaya”.
Cahaya teknologi.
Cahaya pengetahuan.
Cahaya kekuasaan.
Cahaya popularitas.
Semua itu tampak terang. Bahkan meyakinkan.

Namun tidak semua cahaya berasal dari kebenaran.
Ada cahaya yang hanya memantulkan.
Ada cahaya yang menyilaukan.
Ada cahaya yang justru membuat manusia tidak lagi melihat dengan jernih.
Inilah cahaya palsu.
Cahaya yang membuat manusia merasa tahu, padahal sebenarnya sedang diarahkan.
Cahaya yang membuat manusia merasa bebas, padahal sedang dikendalikan.
Cahaya yang membuat manusia merasa hidup, padahal hanya mengikuti arus.

Manusia yang Sibuk, Tapi Kosong
Hari ini, manusia tidak kekurangan aktivitas.

Justru sebaliknya—terlalu banyak yang dilakukan.

Bangun pagi, bekerja, berinteraksi, mengejar target, mencari pengakuan, dan terus bergerak tanpa henti.
Namun di tengah semua itu, banyak yang diam-diam merasakan hal yang sama:
kosong.

Bukan karena tidak punya apa-apa.
Tapi karena tidak tahu untuk apa semua itu dilakukan.

Ini paradoks manusia modern:
memiliki banyak hal, tapi kehilangan makna.

Ketika Dunia Menjadi Pusat
Masalahnya bukan pada dunia.
Masalahnya adalah ketika dunia menjadi pusat.

Ketika ukuran hidup hanya:
harta
jabatan
pencapaian
pengakuan

Maka secara perlahan, orientasi manusia bergeser.
Ia masih menyebut Tuhan.
Ia masih menjalankan ibadah.
Namun dalam praktik hidupnya, yang menentukan arah bukan lagi Tuhan—melainkan dunia.
Tauhid ada, tapi tidak hidup.
Kesadaran yang Tertidur

Pada titik ini, manusia sebenarnya tidak kehilangan Tuhan.
Yang hilang adalah kesadaran akan Tuhan.
Ia percaya, tetapi tidak merasakan.
Ia tahu, tetapi tidak menghadirkan.
Ia menyebut, tetapi tidak menjadikan sebagai pusat hidup.

Inilah kondisi paling berbahaya:
bertuhan, tetapi di bawah sadar.
Ilusi yang Terstruktur
Yang membuat kondisi ini semakin kompleks adalah karena ilusi tersebut tidak terjadi secara acak, tetapi terstruktur.
Sistem ekonomi mengajarkan bahwa nilai manusia ditentukan oleh produktivitas.
Media membentuk standar hidup dan kebahagiaan.

Teknologi mengatur perhatian dan cara berpikir.
Tanpa disadari, manusia hidup dalam sistem yang:
menentukan apa yang penting
mengarahkan apa yang harus dikejar
dan bahkan membentuk cara memahami diri sendiri

Sehingga manusia merasa memilih, padahal sering kali hanya mengikuti.
Pertanyaan yang Tidak Pernah Ditanyakan
Di tengah semua itu, ada satu pertanyaan yang sering dihindari:
“Apakah hidup ini benar-benar sesuai dengan tujuan penciptaanku?”

Karena ketika pertanyaan ini diajukan dengan jujur, banyak hal harus dipertanyakan ulang:
arah hidup
pilihan yang diambil
bahkan cara memahami keberhasilan
Dan tidak semua orang siap untuk itu.
Awal dari Kesadaran
Namun setiap perubahan selalu dimulai dari satu titik:
kesadaran.

Kesadaran bahwa:
tidak semua yang terlihat benar itu benar
tidak semua yang ramai itu bernilai
tidak semua yang dikejar itu membawa kepada makna

Dan dari kesadaran itulah, manusia mulai mencari sesuatu yang lebih dalam.
Bukan sekadar hidup.
Tapi hidup yang bermakna.

Menuju Cahaya yang Hakiki

Di sinilah perjalanan sebenarnya dimulai.
Bukan perjalanan keluar, tetapi ke dalam.
Bukan mencari sesuatu yang baru, tetapi menemukan kembali yang telah ada.
Karena pada akhirnya, manusia tidak benar-benar kehilangan cahaya.
Ia hanya:
tertutup olehnya
terdistraksi darinya
dan lupa bagaimana kembali kepadanya
Dan cahaya itu! tidak lain adalah Tauhid Ma’rifatullah.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.