Wartain.com || Konfirmasi tewasnya pemimpin tertinggi Kartel Jalisco Nueva Generación (CJNG), Nemesio Oseguera Cervantes alias “El Mencho”, dalam operasi militer pada Minggu (22/2/2026), telah memicu gelombang kekerasan masif di seluruh penjuru Meksiko. Insiden ini memaksa otoritas keamanan menetapkan status waspada tinggi di kota-kota tuan rumah Piala Dunia 2026, memicu keraguan global apakah Meksiko masih layak menjadi penyelenggara turnamen empat tahunan tersebut.
Hanya beberapa jam setelah kematian El Mencho dikonfirmasi, anggota kartel melakukan aksi balas dendam terorganisir dengan membakar puluhan kendaraan dan memblokade jalan-jalan utama di Guadalajara, salah satu kota yang dijadwalkan menjamu empat pertandingan Piala Dunia 2026 di Stadion Akron. Dampak langsung dari kekacauan ini, sedikitnya empat pertandingan Liga MX dan satu laga persahabatan internasional antara Meksiko melawan Islandia resmi dibatalkan demi alasan keamanan.
Laporan dari Diario AS pada Senin (23/2/2026) menyebutkan bahwa ketidakpastian ini telah sampai ke meja FIFA. Meskipun secara resmi FIFA belum merilis pernyataan pembatalan, sumber internal yang dikutip oleh MARCA dan SPORTbible mengungkapkan adanya “kekhawatiran tingkat tinggi” di Zurich. FIFA dilaporkan tengah memantau ketat apakah pemerintah Meksiko mampu menjamin keselamatan jutaan suporter mancanegara yang akan hadir Juni mendatang.
Secara teknis, berdasarkan regulasi Piala Dunia 2026, FIFA memiliki wewenang sepihak untuk memindahkan atau menjadwal ulang pertandingan jika terjadi kondisi force majeure atau ancaman keamanan yang luar biasa. Rumor mengenai relokasi sisa pertandingan Meksiko ke Amerika Serikat atau Kanada kini mulai santer terdengar di media sosial seiring meningkatnya eskalasi konflik.
Situasi ini menempatkan Meksiko dalam posisi yang sangat terjepit. Kematian El Mencho, yang seharusnya menjadi kemenangan hukum, justru berubah menjadi mimpi buruk diplomasi olahraga. Sangat sulit membayangkan ribuan suporter asing berani melintasi jalanan Guadalajara jika asap dari pembakaran mobil masih membubung di cakrawala.
Jika pemerintah Claudia Sheinbaum tidak mampu meredam kekacauan ini dalam hitungan hari, Meksiko bukan hanya terancam kehilangan status tuan rumah, tetapi juga reputasi internasionalnya. Piala Dunia yang seharusnya menjadi panggung kemajuan bangsa, kini justru berisiko menjadi monumen kegagalan negara dalam mengendalikan kartel narkoba.
Sejauh ini, FIFA baru mengeluarkan pernyataan normatif yang menyatakan keyakinan mereka terhadap protokol keamanan yang telah dikoordinasikan selama tiga tahun terakhir. Namun, tekanan dari federasi sepak bola negara-negara peserta, terutama dari Eropa, mulai menguat untuk menuntut jaminan keamanan fisik bagi tim dan official di lapangan. Hingga berita ini diturunkan, patroli militer terus ditingkatkan di sekitar area stadion dan bandara internasional Meksiko.***
Editor : Aab Abdul Malik
(Sule)
