26.7 C
Jakarta
Sabtu, April 11, 2026

Latest Posts

Melukis Epistemologi Pariwisata Sukabumi; Antara Ritual Liburan dan Kedaulatan Ekonomi

Oleh : Aam Abdul Salam/Dewan Pembina Yayasan Majelis Dzikir Merah Putih, Presidium Korp Alumni HMI (KAHMI) Sukabumi

Wartain.com || Paska Idul Fitri 1447 H musim liburan penuh keceriaan dan kebahagiaan telah membawa arus kunjungan wisata dalam skala masif menuju jantung Sukabumi. Secara ekonomi, ini adalah angka-angka Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan napas baru bagi UMKM. Namun, secara filsafat dan seni, fenomena ini adalah sebuah pementasan kolosal tentang bagaimana sebuah daerah mengelola “hasrat” manusia para wisatawan.

Seni Persiapan: Estetika Ruang dan Pelayanan

Mempersiapkan pariwisata bukan sekadar memperbaiki aspal atau mengecat pagar. Dalam kacamata seni, pariwisata adalah performance art. Wisatawan datang membawa ekspektasi akan keindahan. Ketika infrastruktur siap dan keramahan (hospitality) menyatu, terjadilah harmoni. Kegagalan menyiapkan potensi pariwisata adalah “cacat estetika” yang akan membekas pada memori kolektif pengunjung. Sukabumi harus menjadi kanvas yang rapi bagi para pencari ketenangan, wisatawan yang berlibur ke Sukabumi.

Ekonomi Dialektis: Dari PAD Menuju Kesejahteraan Akar Rumput

Secara materialistik, lonjakan kunjungan adalah momentum emas. Namun, filsafat ekonomi mengingatkan kita pada distribusi keadilan. Naiknya kunjungan wisatawan ke Sukabumi harus seiring dengan meningkatkan PAD selain itu jangan sampai pariwisata hanya menjadi naiknya PAD tanpa menyentuh substansi perekonomian rakyat. UMKM bukan sekadar pelengkap dekorasi, melainkan aktor utama. Menyiapkan potensi berarti memastikan produk lokal—dari kerajinan hingga kuliner—memiliki “panggung” yang setara di tengah arus modernisasi wisata. Ini adalah upaya memutar roda ekonomi yang organik, bukan sekadar statistik di atas kertas.

Dimensi Spiritual: Wisata sebagai Katarsis

Di balik hiruk-pikuk perjalanan, ada dimensi spiritual yang sering terabaikan: pencarian makna. Orang berwisata untuk mencari “titik nol” setelah lelah dengan rutinitas. Sukabumi, dengan kekayaan alamnya, adalah ruang kontemplasi. Jika kita mengelola pariwisata dengan kesadaran spiritual, kita tidak akan merusak alam demi profit jangka pendek. Kita akan menjaga kesucian lingkungan sebagai bentuk syukur kepada Sang Pencipta. Pariwisata yang berkelanjutan adalah pariwisata yang menghargai ruh dari tanah itu sendiri.

Pembelajaran ke Depan

Dalam sepekan ini liburan paska Idul Fitri 1447 H menjadi pengingat bahwa kesiapan adalah sebuah keharusan eksistensial. Sukabumi tidak boleh hanya menjadi penonton di rumah sendiri. Menggerakkan potensi pariwisata adalah kerja integratif: memadukan ketajaman logika ekonomi, kelembutan rasa dalam seni, dan ketulusan niat secara spiritual.

Mari kita jadikan musim libur kali ini sebagai momentum pembuktian bahwa Sukabumi adalah tuan rumah yang tidak hanya mengejar materi, tapi juga merawat nilai dan martabat masyarakatnya.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.